“Dominasi modal asing hanya sebuah kepastian dari sebuah kebijakan pasar bebas”. Kalimat itu cuma menimbulkan sebuah respon yang mungkin hanya akan bertahan tidak lebih dari satu menit di ingatan. Namun ketika kita mendengar berita tentang Mesuji dan perkara lain sejenisnya, atensi kita akan lebih. Ini hanya gambaran singkat yang sebenarnya memiliki korelasi yang sangat erat. Korelasi antara korporasi dan konflik, pemodal dan buruh, nasib baik dan nasib buruk, orang besar dan orang kecil.
Tukijo berusia 47 tahun. Seorang kecil yang sehari-harinya bekerja sebagai penambang pasir. Kecil, bisa mewakili ukuran dan takaran tertentu. Kecil memiliki arti porsi yang sedikit. Namun untuk Tukijo, kecil berarti sebuah kesempatan. Kecil adalah takaran orang-orang mapan yang memandang dari kejauhan. Namun untuk Tukijo, menambang pasir adalah hal besar. Besar berarti bahwa hal itu adalah alasan kenapa ia bisa menyambung hidup dan memberi penghidupan bagi istri dan anaknya. Besar adalah alasan kenapa ia harus berjuang meraih kecilnya kesempatan dan peluangnya.
Menambang pasir secara tradisional adalah perkara besar dengan peluang yang kecil. Perkara besar karena dari pekerjaan itulah ia mampu menyambung hidup dan menghidupi keluarganya – bekerja untuk mendulang harapan. Peluang kecil karena dari pekerjaan berat yang dilakukannya tidak memberikan penghasilan besar – minimal dalam porsi kerjanya yang besar – hal besar yang sering dipandang sebagai perkara kecil oleh orang-orang besar. Maka bila Tukijo kehilangan pekerjaan dan kesempatan bekerja untuk mendulang harapan, itu adalah perkara yang terbesar. Hadirnya perusahaan besar untuk menambang pasir besi di kawasan tempat Tukijo mendulang pasir sama dengan menutup rapat peluang Tukijo untuk mendulang harapan. Inilah perkara besar yang dihadapi Tukijo. Seperti kata Goenawan Mohamad – ini menjadi perkara besar karena ia terbit di orang yang kecil,.
Kondisi demikian tidak memberi Tukijo banyak pilihan selain mati-matian memperjuangkan lahannya untuk mendulang harapan. Sebab bagi orang kecil, berjuang bukan hanya tertutup pada sebuah aksi dan orasi turun ke jalan. Perjuangan Tukijo mewakili hidup dan mati orang-orang yang senasib dengannya. Perjuangan adalah sebuah pilihan – yang sebenarnya – tidak memberikan Tukijo pilihan. Maka perjuangan berubah menjadi keharusan. Perjuangan mempertahankan nasib, perjuangan melawan perkasanya korporasi dengan baju besi kecacatan hukum.
Orang kecil seperti Tukijo tidak memiliki peluang besar di muka hukum. Meski Tukijo tahu bahwa hukum seharusnya menjadi harapan besar untuk memperoleh keadilan. Bernard L. Tanya mengatakan bahwa titik tolak semua teorisasi hukum pada dasarnya berporos pada satu hal, yaitu hubungan manusia dan hukum. Semakin landasan teori bergeser ke faktor peraturan maka semakin ia menganggap hukum sebagai satu unit tertutup yang formal-legalistik. Sebaliknya, semakin teori hukum bergeser ke faktor manusia maka hukum akan terbuka dan menyentuh mosaik sosial kemanusiaan. Namun buat Tukijo, hukum lebih berwajah formal dan legalistik. Ia sudah mengalami sendiri bagaimana perihnya ditikam oleh harapan yang disandarkannya pada hukum yang ternyata begitu arogan.
Sadar dengan posibilitas dan probabilitas yang nyaris nihil di hadapan hukum, semakin memantabkan Tukijo dalam drama perjuangannya untuk menempuh jalur turun ke jalan sebagai seorang aktivis. Sadar dengan peluangnya yang kecil, namun ia juga sadar bahwa peluang kecil yang diambilnya menyimpan begitu besar harapan. Bukan sekadar harapan dirinya dan keluarganya, namun harapan besar untuk orang-orang kecil seperti dirinya. Dengan begitu Tukijo menjadi orang besar dengan harapan yang besar. Tukijo bukan menjadi orang kecil dengan ambisi yang kerdil.
Banyak bahasa yang tidak bisa terucap, banyak pikiran yang tidak bisa terluap, banyak gagasan yang harus berhenti dan stag, Namun selalu ada ruang untuk goresan dalam tulisan yang kadang keluar serentak....
Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom. Tampilkan semua postingan
Minggu, 23 September 2012
MARTONO
Waktu itu 29 September. Layaknya tahun-tahun sebelumnya, selalu ada perayaan akbar untuk tanggal 2 Oktober. Kodam Diponegoro mengirimkan sekitar 500 personilnya untuk memperingati hari jadi angkatan. Angkatan yang gagah berani melindungi dan mengawal nusantara, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Angkatan yang masih hijau dengan sejumlah prestasi yang mengukir mata dunia.
Martono, putra Purwodadi yang memiliki mimpi untuk mengawal negeri, ialah salah satunya. Personil kebanggaan infanteri dengan wing emas di dada itu merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia meninggalkan keluarga dengan mimpi-mimpi besar demi membela negara serta mengawal Republik Indonesia. Mimpi mulia yang terpatron dalam dirinya.
Namun, petaka memang datang tanpa diundang. Ia bersama rekan-rekan seperjuangannya dikhianati ketika sedang melakukan perjalanan panjang nun mulia dari Semarang ke Ibu kota. Mereka dialihkan sebelum masuk ke Ibu Kota dan diperintahkan untuk menjaga daerah Halim dengan alasan yang tidak jelas – hanya untuk berjaga. Satu pertanyaan yang menghinggapi Martono dan ratusan tentara lainnya – kenapa kita dialihkan ke sini? Tetapi Martono adalah prajurit sejati yang taat. Taat pada perintah yang kadang tidak pernah ia temukan alasannya. Ia patuh mengikuti instruksi atasan untuk menjaga daerah itu. Meskipun martono juga heran, kenapa harus menjaga daerah angkatan udara, kenapa ada pengalihan komando, dan dari mana komando itu datang? Petaka semakin dekat. Prajurit berjaga dengan penuh tanggung jawab, walau mereka pun tidak tahu apa sebenarnya yang mereka tanggung.
Tengah malam menjelang subuh, suara bising berondongan senjata terdengar dari segala arah. Semakin dekat dan terus mendekat. Tanpa komando, tanpa instruksi. Selayang pandang terlihat kilat api yang jelas dari moncong senjata berat. Semakin dekat dan terus mendekat. Martono dan beberapa prajurit lari tunggang – langgang, sebab mereka tahu, ada yang tidak beres di sini. Sepelarian mereka melihat prajurit-prajurit yang terkapar dengan luka tembak. Kepalanya tidak bisa berpikir jernih, yang ada di otaknya hanya lari dan menjauh dari daerah ini. Berlari menjauh dari hamparan mayat prajurit yang terhujani peluru tajam berkaliber besar. Martono terus berlari.
Di ujung pelariannya, Martono melihat jejeran bayangan hitam di kejauhan. Ketika jarak semakin dekat, mereka disambut dengan hujanan peluru. Martono memutar haluan dan menjauh dari bayangan hitam. Rombongan mengikuti, meski satu persatu mulai berguguran disambar peluru – tepat disampingnya berlari. Kerutan dahi dan desahan nafas dengan baluran keringat cukup memperlihatkan betapa panik dan takutnya Martono dengan apa yang ada di depan matanya. Melihat rombongannya berangsur-angsur hanya menjadi kumpulan, Martono terus berlari dan menambah kecepatan. Sesekali kumpulan Martono membalas dengan tembakan kecil, yang kemudian dibalas dengan hujanan tembakan lebih dahsyat. Jelas bahwa jumlah mereka tidak seimbang. Martono sadar bahwa yang sedang dihadapinya ini bukan hal biasa yang bisa dinalar dengan logika. Maka, Martono dan beberapa kumpulannya memutuskan untuk menerobos hutan menuju Karawang, menjauh dari kejaran untuk membuka harapan besar dan satu pertanyaan besar, “Apa yang sedang terjadi?”.
Martono dan beberapa kumpulannya berhasil lari dari kejaran dan menyelinap di lebatnya hutan. Sesekali mereka masuk ke perkampungan untuk mengganti pakaian dan mencari makan, sambil mencuri-curi informasi, lalu kembali menghilang di hutan Karawang. Martono hanya ingat bahwa hari itu adalah 30 September 1965. Petaka besar yang ternyata bukan hanya menimpa dirinya. Petaka yang membuatnya hidup sebagai pelarian, sampai sekarang.
Martono, putra Purwodadi yang memiliki mimpi untuk mengawal negeri, ialah salah satunya. Personil kebanggaan infanteri dengan wing emas di dada itu merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia meninggalkan keluarga dengan mimpi-mimpi besar demi membela negara serta mengawal Republik Indonesia. Mimpi mulia yang terpatron dalam dirinya.
Namun, petaka memang datang tanpa diundang. Ia bersama rekan-rekan seperjuangannya dikhianati ketika sedang melakukan perjalanan panjang nun mulia dari Semarang ke Ibu kota. Mereka dialihkan sebelum masuk ke Ibu Kota dan diperintahkan untuk menjaga daerah Halim dengan alasan yang tidak jelas – hanya untuk berjaga. Satu pertanyaan yang menghinggapi Martono dan ratusan tentara lainnya – kenapa kita dialihkan ke sini? Tetapi Martono adalah prajurit sejati yang taat. Taat pada perintah yang kadang tidak pernah ia temukan alasannya. Ia patuh mengikuti instruksi atasan untuk menjaga daerah itu. Meskipun martono juga heran, kenapa harus menjaga daerah angkatan udara, kenapa ada pengalihan komando, dan dari mana komando itu datang? Petaka semakin dekat. Prajurit berjaga dengan penuh tanggung jawab, walau mereka pun tidak tahu apa sebenarnya yang mereka tanggung.
Tengah malam menjelang subuh, suara bising berondongan senjata terdengar dari segala arah. Semakin dekat dan terus mendekat. Tanpa komando, tanpa instruksi. Selayang pandang terlihat kilat api yang jelas dari moncong senjata berat. Semakin dekat dan terus mendekat. Martono dan beberapa prajurit lari tunggang – langgang, sebab mereka tahu, ada yang tidak beres di sini. Sepelarian mereka melihat prajurit-prajurit yang terkapar dengan luka tembak. Kepalanya tidak bisa berpikir jernih, yang ada di otaknya hanya lari dan menjauh dari daerah ini. Berlari menjauh dari hamparan mayat prajurit yang terhujani peluru tajam berkaliber besar. Martono terus berlari.
Di ujung pelariannya, Martono melihat jejeran bayangan hitam di kejauhan. Ketika jarak semakin dekat, mereka disambut dengan hujanan peluru. Martono memutar haluan dan menjauh dari bayangan hitam. Rombongan mengikuti, meski satu persatu mulai berguguran disambar peluru – tepat disampingnya berlari. Kerutan dahi dan desahan nafas dengan baluran keringat cukup memperlihatkan betapa panik dan takutnya Martono dengan apa yang ada di depan matanya. Melihat rombongannya berangsur-angsur hanya menjadi kumpulan, Martono terus berlari dan menambah kecepatan. Sesekali kumpulan Martono membalas dengan tembakan kecil, yang kemudian dibalas dengan hujanan tembakan lebih dahsyat. Jelas bahwa jumlah mereka tidak seimbang. Martono sadar bahwa yang sedang dihadapinya ini bukan hal biasa yang bisa dinalar dengan logika. Maka, Martono dan beberapa kumpulannya memutuskan untuk menerobos hutan menuju Karawang, menjauh dari kejaran untuk membuka harapan besar dan satu pertanyaan besar, “Apa yang sedang terjadi?”.
Martono dan beberapa kumpulannya berhasil lari dari kejaran dan menyelinap di lebatnya hutan. Sesekali mereka masuk ke perkampungan untuk mengganti pakaian dan mencari makan, sambil mencuri-curi informasi, lalu kembali menghilang di hutan Karawang. Martono hanya ingat bahwa hari itu adalah 30 September 1965. Petaka besar yang ternyata bukan hanya menimpa dirinya. Petaka yang membuatnya hidup sebagai pelarian, sampai sekarang.
Tergadainya Idealisme
Ramlan Soemargo. Seorang intelek muda yang memiliki keahlian dalam bidang sosiologi dan antropologi. Keahlian yang didapat dari jalur formalnya. Namun dalam interaksinya, Ramlan bisa dibilang seorang psikolog. Interaksi sosial yang tinggi membuatnya memiliki banyak kerabat dan akses-akses yang jarang dimiliki kaum muda. Kelebihan ini sangat disadarinya. Ia juga menyadari bawha semua itu mampu membuka jalan dan akses baru yang membuatnya bisa lebih berkembang, termasuk akses politik.
Seorang idealis yang lebih banyak terjun langsung ke masyarakat. Menggelar diskusi di berbagai tempat dan memberdayakan pemuda di desa agar memiliki orientasi diri yang jelas. Diskusi dan menonton film merupakan agenda hariannya. Sebuah jalan yang ditekuni dengan hati dan dedikasi. Kesadaran diri membawanya merasa perlu ikut membangun kaum muda
Malam itu, setelah diskusi film, ada pria paruh baya dengan tatapan tajam memperhatikannya. Tatapan itu sudah dirasakan Ramlan setelah sampai di sebuah desa di pinggiran tangerang, sebelum acara dimulai. Mulutnya berbicara, matanya menatap peserta diskusi, namun sudut matanya tak melepaskan perhatian ke paruh baya itu. Dan ternyata, benar saja.
Seusai acara, pria itu menghampirinya, menebar senyum sambil menjulurkan tangan. “Bung Ramlan, apa kabar? Saya Yatno.” Ramlan menyambut tangan pria itu dan lantas mereka berjabat tangan. Jabatan tangan yang tegas dan sangat mempresentasikan karakter dari bukan orang biasa. Basa-basi menjadi menu pembuka obrolan itu yang akhirnya ditutup dengan sebuah tawaran. “Kapan-kapan kita bisa ngobrol lagi? Saya tinggal di Bintaro, ini kartu nama saya.”
Obrolan malam itu dengan Yatno ternyata cukup impresif bagi Ramlan. Impresif karena meninggalkan sebuah pertanyaan besar. “Apa motifnya?” Sebuah pertanyaan yang membawanya pada lanjutnya hubungan yang berawal dari sebuah acara diskusi. Hubungan yang menjadi awal bagi tergadainya sebuah idealisme.
“Anda tahu? Tidak banyak pemuda yang mendedikasikan diri untuk membangun bangunan kesadaran pada pemuda di desa. Bung punya motivasi yang besar dan dedikasi pada pekerjaan. Apa bung tidak merasa perlu untuk terus mengembangkan itu?” Pertanyaan yang mengandung stimulus yang besar, mengundang ambisi untuk tidak sekadar menjadi pelayan, namun juga aktualisasi personal.
Ramlan bergabung dalam organisasi berwujud parpol. Alasan Ramlan bergabung cukup bisa diterima dengan nalar. “Partai ini satu idealisme dengan saya. Saya bisa lebih berkiprah melalui ini.” Pernyataan standar yang sebenarnya sudah terinfeksi dengan kepentingan lain dari sekadar diskusi dan menonton film.
Kendaraan politik itu ternyata memang bisa membawa seseorang pada aktualisasi diri. Mempresentasikan dirinya dan membuatnya lebih dikenal luas. Foto Ramlan telah terpajang di sana-sini. Foto-foto yang mewabah ketika ada pemilihan wakil daeran untuk pusat. Ya, Ramlan tercalon menjadi calon legislatif. Motivasinya masih sama, memberdayakan pemuda. Kendaraannya, partai politik.
Program demi program disusunnya guna mensukseskan cita-citanya memberdayakan pemuda. Program-program dengan sekian rupiah. Membawa dirinya merasa semakin terapresiasi bukan sekadar kegiatan amal nirlaba. Pekerjaan yang mampu memberikannya hidup layak, bahkan mapan, bahkan lebih. Tidak ada lagi sepeda motor. Tidak ada lagi menumpang dan dijemput pemuda dari desa. Tidak ada lagi baju yang selama ini dipakainya sebagai pengabdi masyarakat.
Kegiatan tetap sama. Diskusi dan menonton film. Sedikit masuk juga promosi kendaraan politiknya. Dukungan semakin kuat, membawanya naik dalam periode kedua. Semakin mapan dan berlebihan. Tidak cukup membawa kepuasan. Malah pikiran untuk terus menerus mencari objekan.diskusi menjadi kamuflase.
Infiltrasi partai semakin tinggi. Membatasi ruang gerak dan kiprah yang menjadi rutinitasnya. Minimal adalah rutinitas sebelum menjadi anggota dewan. Dalam situasi ini, kepentingan golongan sudah bih besar dari idealismenya. Serangkaian program dan proyek dirancang yang semakin sering menjadi tanpa realisasi, namun tetap ada laporan pertanggungjawaban. Dari mana asalnya?
Program-program pemberdayaan pemuda menjadi semakin tergadaikan. Proyek besar yang menjadi target partai menjadi target jangka pendek Ramlan. Mengumpulkan pundi-pundi menjadi target jangka menengah. Kedudukan menjadi target jangka panjangnya. Tidak ada lagi idealisme. Ramlan semakin jauh masuk ke dalam lingkaran. Bukan hanya berada di arus, namun telah menjadi motor pada lingkaran itu. Ramlan Soemargo telah luntur. Ramlan Soemargo hanya nama, tanpa jiwa, tanpa idealisme, tanpa nurani.
Ramlan semakin menikmati zona nyamannya. Membuatnya terus dan terus berusaha untuk ada dalam posisi itu. Namun seperti biasa, seperti yang telah terjadi berulang dalam sejarah. Kepentingan membutuhkan pengorbanan. Ramlan yang mempunyai kepentingan kedudukan telah mengorbankan idealismenya. Kendaraan politik memiliki kepentingan dalam kancah politik nasional juga mengajukan korban. Korban dari tubuh partai, Ramlan Soemargo.
Tidak ada lagi idealisme. Tidak ada lagi nurani. Tidak ada lagi kedudukan. Tidak ada lagi aktualisasi diri. Tidak ada lagi kepentingan. Tidak ada lagi nama baik. Tidak ada lagi peluang. Tidak ada lagi harapan. Yang masih tersisa adalah namanya, tanpa jiwa. Telah lama mati. Ramlan Soemargo, korban dari kepentingan besar. Setoran rutin partai. Limbah pabrik kekuasaan dan kepentingan besar.
Seorang idealis yang lebih banyak terjun langsung ke masyarakat. Menggelar diskusi di berbagai tempat dan memberdayakan pemuda di desa agar memiliki orientasi diri yang jelas. Diskusi dan menonton film merupakan agenda hariannya. Sebuah jalan yang ditekuni dengan hati dan dedikasi. Kesadaran diri membawanya merasa perlu ikut membangun kaum muda
Malam itu, setelah diskusi film, ada pria paruh baya dengan tatapan tajam memperhatikannya. Tatapan itu sudah dirasakan Ramlan setelah sampai di sebuah desa di pinggiran tangerang, sebelum acara dimulai. Mulutnya berbicara, matanya menatap peserta diskusi, namun sudut matanya tak melepaskan perhatian ke paruh baya itu. Dan ternyata, benar saja.
Seusai acara, pria itu menghampirinya, menebar senyum sambil menjulurkan tangan. “Bung Ramlan, apa kabar? Saya Yatno.” Ramlan menyambut tangan pria itu dan lantas mereka berjabat tangan. Jabatan tangan yang tegas dan sangat mempresentasikan karakter dari bukan orang biasa. Basa-basi menjadi menu pembuka obrolan itu yang akhirnya ditutup dengan sebuah tawaran. “Kapan-kapan kita bisa ngobrol lagi? Saya tinggal di Bintaro, ini kartu nama saya.”
Obrolan malam itu dengan Yatno ternyata cukup impresif bagi Ramlan. Impresif karena meninggalkan sebuah pertanyaan besar. “Apa motifnya?” Sebuah pertanyaan yang membawanya pada lanjutnya hubungan yang berawal dari sebuah acara diskusi. Hubungan yang menjadi awal bagi tergadainya sebuah idealisme.
“Anda tahu? Tidak banyak pemuda yang mendedikasikan diri untuk membangun bangunan kesadaran pada pemuda di desa. Bung punya motivasi yang besar dan dedikasi pada pekerjaan. Apa bung tidak merasa perlu untuk terus mengembangkan itu?” Pertanyaan yang mengandung stimulus yang besar, mengundang ambisi untuk tidak sekadar menjadi pelayan, namun juga aktualisasi personal.
Ramlan bergabung dalam organisasi berwujud parpol. Alasan Ramlan bergabung cukup bisa diterima dengan nalar. “Partai ini satu idealisme dengan saya. Saya bisa lebih berkiprah melalui ini.” Pernyataan standar yang sebenarnya sudah terinfeksi dengan kepentingan lain dari sekadar diskusi dan menonton film.
Kendaraan politik itu ternyata memang bisa membawa seseorang pada aktualisasi diri. Mempresentasikan dirinya dan membuatnya lebih dikenal luas. Foto Ramlan telah terpajang di sana-sini. Foto-foto yang mewabah ketika ada pemilihan wakil daeran untuk pusat. Ya, Ramlan tercalon menjadi calon legislatif. Motivasinya masih sama, memberdayakan pemuda. Kendaraannya, partai politik.
Program demi program disusunnya guna mensukseskan cita-citanya memberdayakan pemuda. Program-program dengan sekian rupiah. Membawa dirinya merasa semakin terapresiasi bukan sekadar kegiatan amal nirlaba. Pekerjaan yang mampu memberikannya hidup layak, bahkan mapan, bahkan lebih. Tidak ada lagi sepeda motor. Tidak ada lagi menumpang dan dijemput pemuda dari desa. Tidak ada lagi baju yang selama ini dipakainya sebagai pengabdi masyarakat.
Kegiatan tetap sama. Diskusi dan menonton film. Sedikit masuk juga promosi kendaraan politiknya. Dukungan semakin kuat, membawanya naik dalam periode kedua. Semakin mapan dan berlebihan. Tidak cukup membawa kepuasan. Malah pikiran untuk terus menerus mencari objekan.diskusi menjadi kamuflase.
Infiltrasi partai semakin tinggi. Membatasi ruang gerak dan kiprah yang menjadi rutinitasnya. Minimal adalah rutinitas sebelum menjadi anggota dewan. Dalam situasi ini, kepentingan golongan sudah bih besar dari idealismenya. Serangkaian program dan proyek dirancang yang semakin sering menjadi tanpa realisasi, namun tetap ada laporan pertanggungjawaban. Dari mana asalnya?
Program-program pemberdayaan pemuda menjadi semakin tergadaikan. Proyek besar yang menjadi target partai menjadi target jangka pendek Ramlan. Mengumpulkan pundi-pundi menjadi target jangka menengah. Kedudukan menjadi target jangka panjangnya. Tidak ada lagi idealisme. Ramlan semakin jauh masuk ke dalam lingkaran. Bukan hanya berada di arus, namun telah menjadi motor pada lingkaran itu. Ramlan Soemargo telah luntur. Ramlan Soemargo hanya nama, tanpa jiwa, tanpa idealisme, tanpa nurani.
Ramlan semakin menikmati zona nyamannya. Membuatnya terus dan terus berusaha untuk ada dalam posisi itu. Namun seperti biasa, seperti yang telah terjadi berulang dalam sejarah. Kepentingan membutuhkan pengorbanan. Ramlan yang mempunyai kepentingan kedudukan telah mengorbankan idealismenya. Kendaraan politik memiliki kepentingan dalam kancah politik nasional juga mengajukan korban. Korban dari tubuh partai, Ramlan Soemargo.
Tidak ada lagi idealisme. Tidak ada lagi nurani. Tidak ada lagi kedudukan. Tidak ada lagi aktualisasi diri. Tidak ada lagi kepentingan. Tidak ada lagi nama baik. Tidak ada lagi peluang. Tidak ada lagi harapan. Yang masih tersisa adalah namanya, tanpa jiwa. Telah lama mati. Ramlan Soemargo, korban dari kepentingan besar. Setoran rutin partai. Limbah pabrik kekuasaan dan kepentingan besar.
Langganan:
Postingan (Atom)