Tampilkan postingan dengan label Selayang Pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Selayang Pandang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Januari 2015

Redemtion

Apa yang lebih nyata dari sebuah Kenyataan?
Hidup bagi sebagian orang atau bahkan banyak orang memang sering berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita pesan. Dengan apa yang kita punya kita membuat rencana, strategi hidup, untuk mencapai sebuah target yang kita buat, yang kita kemas dalam sebuah Harapan.

Ya, harapan inilah yang membuat manusia hidup sebagai manusia seutuhnya. Harapan menjadi ruh yang sangat berpengaruh dalam penentuan pilihan hidup. Kita bergerak maju, atau mundur untuk mencapai harapan yang kita hidupkan yang konkrit di dalam kepala kita, mempengaruhi alam bawah sadar kita. Mempengaruhi tujuan hidup kita.

Yang menariknya, dari semua manusia yang memiliki harapan dalam hidupnya, mempunyai satu kesamaan dalam menjawab harapan itu untuk menjadi nyata atau sekadar mimpi belaka. Dia adalah sang waktu. Wktu mengikis habis bayangan dari harapan kita untuk menjadi nyata atau menjadi oasis di sebuah gurun. Waktu dengan tegas dan pandang bulu terus bergerak maju di tengah kesiapan atau ketidaksiapan kita saat berjalan.

Waktu memberikan banyak hal untuk mengantar kita mengubah harapan kedalam kenyataan. Bersamaan dengan itu juga, waktu kadang menjerumuskan kita kedalam angan dan pelarian di tengah ketidakpastian dan kegagalan dari apa yang kita rasakan. Jauh membenamkan kita kedalam buaian mimpi yang begitu elok dan nikmat untuk dinikmati, membuat halusinasi dari kenyataan hidup. Lalu, apa yang lebih nyata dari sebuah kenyataan?

Kita terlalu mudah untuk menyusun strategi dan memulai langkah daripada menyelesaikan apa yang telah dimulai. Ditambah tembok kegagalan dan kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang kita pesan. Membawa kita jauh ke dalam kesenangan yang menjadi bius dari hal nyata yang ada di depan mata. Membuat kita ketakutan akan masa depan, sebuah masa yang bahkan belum kita pijak.

Ketakutan mengaburkan kita dari harapan. Ketakutan membius kita dalam bayangan suram akan hal yang belum kita rasakan. Ketakutan melempar jauh diri kita dari waktu yang nyata, yang kita jalani, sekarang. Sekarang kita memilih untuk diam dan memikirkan ketakutan dalam sebuah bayangan. Menghabiskan waktu dengan sia-sia tanpa ada sebuah awalan. Bukankah, hidup adalah pertaruhan?

Dari awal kita sudah ada dalam situasi pertaruhan. Dengan sajian pilihan yang ada di depan, kita harus memilih untuk memulai dengan cara apa dan bagaimana. Mempertaruhkan kepercayaan kita dalam pilihan yang masing-masing punya peluang di depan yang sama-sama tidak pernah kita ketahui apa.

Kita sama-sama memulainya dengan sebuah harapan yang punya satuan waktu untuk mengungkapnya dengan berbagai kenyataan dari situasi yang ada sekarang dengan segala ketidakpastian yang menuntut kita membuat strategi untuk menjalaninya dengan ancaman ketakutan bahwa apakah aku bisa menciptakan masa depan sesuai yang aku harapkan.

Kenapa takut untuk memulainya dari hal kecil atau hal besar, bila keduanya sama-sama punya peluang yang sama untuk gagal atau berhasil? Kenapa harus membuang waktu untuk mendapatkan kebenaran dari harapan bila kita sama-sama tahu dan sadar bahwa kita tidak tau berapa banyak waktu yang kita punya? Kenapa kita harus takut gagal bila sebelumnya kita sudah pernah gagal? Kenapa harus membuang harapan dan hanya mengikuti arus waktu untuk disajikan? Hidup kita adalah diri kita. Yang menjadi pilihannya adalah apakah kita hidup hanya untuk diri kita, atau orang banyak.

Gagal itu biasa, tapi menyerah adalah duka.

Minggu, 19 Mei 2013

Air Mata Itu Cinta



Cerita. Selalu menjadi kenangan yang melekat di dasar hati. Karena cerita punya kedekatan intim dengan para pelakunya.

Cerita ini adalah tentang keluarga yang memahami betul arti keakraban dan kekeluargaan. Keluarga yang sederhana, namun sangat bersahaja. Keluarga yang mampu menghadirnya rasa nyaman, bahkan untuk orang-orang di sekitarnya. Keluarga yang penuh dengan cerita, air mata bahagia.

Betapa cinta sangat terasa dalam keluarga ini. Betapa rasa saling memiliki terjalin erat membentuk jalinan kasih yang begitu hangat.

Malam itu adalah malam yang luar biasa. Malam yang membawa usia baru dalam keluarga itu. Ungkapan cinta lewat kue dan gambar. Mengandung begitu banyak, begitu dalam cinta untuk ayahanda.

Air mata menetes bukan untuk membasih luka. Namun sebagai ungkapan haru yang terluap, yang tak anggup lagi tertampung.

Selamat ulang tahun Om Pisi Wibowo.
Ayah yang begitu luar biasa, sederhana apa adanya,,,,

Rabu, 20 Maret 2013

Kesenangan dan Kekonyolan

Hari ini 21 Maret 2013..
Sama seperti hari-hari lain sebelumnya, aku membenamkan diri untuk bertemu diri sendiri. 10 menit berbincang dengan diri sendiri, bercerita tentang apa saja yang dilalui hari ini. Satu pertanyaan yang membuatku tertegun, "Sudah berapa umurku?"

Usia memang bukan patokan untuk sebuah kematangan, usia memang bukan sebuah acuan untuk menargetkan pilihan. Usia punya arti yang jauh lebih penting dari itu.

Usia menjadi sangat penting ketika kita telah menghabiskan banyak tahun untuk banyak sesuatu yang tidak berguna. atau memperkosanya hanya untuk kesenangan, dan yang lebih parahnya ketika usia yang banyak tidak membungkus banyak kebaikan yang harusnya berimbang.

Aku menoleh 6 tahun kebelakang, ketika aku duduk di bangku SMA. Aku menghabiskan banyak waktu dengan kawan-kawanku dan menjadi sedikit waktu dengan keluargaku. Tanpa kusadari, kawan-kawanku menjadi tempat bereksplorasi dan mengembangkan diri, sedang keluarga menjadi zona yang aman dan nyaman untuk memarut kepenatan.

Aku sama gilanya dengan kawan-kawanku, melakukan hal gila untuk kesenangan. Melakukan hal konyol untuk meninggalkan sebuah kenangan. Sekarang sudah jauh berubah dari yang pernah aku lalui. Kawanku ada yang masih menjadi kawanku yang dulu dengan kesenangan dan kekonyolannya. Ada yang telah menjadi imam di keluarganya. Ada pula yang pergi jauh ke Russia dan Inggris untuk ilmu dan hidup. Ada juga yang harus bekerja keras untuk memikul tanggung jawab keluarga dan diri sendiri. Ada yang berhasil menikah dengan cita-citanya, ada pula yang mesti tertahan oleh keterbatasannya. Semua menjadi nyata ketika usia nyaris seperempat abad.

Lalu apa yang Kami cari? Kamu? Aku? Dia? atau Mereka?
Masih kah kita Bermanja dengan Kesenangan dan Tidur dengan Kekonyolan?

Rabu, 19 Desember 2012

Memoar

Lama sudah berstagnasi dalam kesibukan dan pekerjaan yang baru.
Sebelum habis masa jabatan berakhir, kakakku pernah berkata "Hati-hati dengan sindromnya"
ya, sekarang aku baru bisa mengerti apa maksudnya. Energi dan konsentrasi besar telah tercurah dalam masa pengabdian satu periode silam. Konsekuensinya adalah menikmati masa datar dan kebasian energi dan konsentrasi yang telah menemukan kalibernya untuk disalurkan.

Beruntung alam bawah sadar bisa mengerti dan memahami nasehat singkat dari sang senior.
Hahaha... Memang zona nyaman itu tercipta atas kebiasaan dalam merasa.
Ketakutan dan kekhawatiran sering bertandang ketika melihat perjuangan yang dulu kulakukan dengan tanganku sendiri, harus dijalankan oleh orang baru. Rasanya aku masih di sana.

Namun memang diri itu perlu ditatar agar tidak hanyut dalam kebiasaan kenyamanan. Sesekali memang harus ada tamparan untuk diri sendiri yang senantiasa mengingatkan untuk bisa melihat gamblangnya realita. Setiap benturan akan menyentakkan diriku dan membuatku tersadar bahwa aku harus ikhlas dan percaya bahwa tidak ada yang sia-sia untuk sebuah usaha. Tidak ada penyesalan yang hadir bila hembusan nafas panjang membawa serta kekhawatiran dan ketakutan.

Lepaslah sudah ketakutan dan kekhawatiran....


Ada yang pernah bilang bahwa untuk apa aku melakukan semua ini. Nampak sia-sia dan tidak ada arti nyata terwujudnya perubahan. Namun spontan saja keluar dari mulut "Tidak ada yang sia-sia untuk sebuah usaha. Harus selalu ada orang yang berkata tidak untuk sebuah ketidakwajaran, sekaligus memberi apresiasi untuk sebuah keberhasilan atas pencapaian"

Harus selalu ada individu-individu yang bergerak atas keterikatan hati untuk mau memikirkan hal di luar dirinya. Percayalah bahwa level kalian sudah jauh lebih tinggi daripada yang lain. Daripada mereka yang masih berkutat untuk diri mereka sendiri, kalian telah mampu memikirkan orang lain untuk bisa mendapatkan hal yang memang layak mereka dapatkan.

Semoga terus banyak lahir individu-individu yang bukan hanya berbekal hati, namun juga nurani untuk bisa merasa bahwa kita masih jauh lebih beruntung daripada mereka. Masih ada getar di hati untuk bisa membuat mereka minimal bisa merasakan apa yang kita nikmati sekarang.

Jangan pernah lelah dan takut untuk berjuang kawan, karena hidup memang untuk berjuang. Kita adalah pejuang sedari kita lahir, kita berjuang meraih kebebasan dari rasa nyaman dalam sempitnya kehidupan. Kita telah berjuang untuk hidup dengan keluar dari hangatnya rahim. Jangan buat diri kalian hanya menjadi seorang penikmat atau bahkan penjilat, karena kalian lahir sebagai pejuang.

Aku bersama kalian jiwa-jiwa yang bebas. Jiwa-jiwa yang merdeka atas dirinya sendiri....

Selasa, 27 November 2012

Dialog Dini Hari

Malam itu entah angin apa yang mendorong saya untuk menjemput sang kekasih yang tengah (selalu) lembur dengan pekerjaannya. Bertempat di Jalan Sudirman, Gedung CIMB menjadi kantor bagi Medco yang tengah diaudit oleh EY, kantor kekasihku. Agak tidak biasa karena hari itu telah menyantap 7 jam kemacetan, ditambah dengan pekerjaan yang harus selesai esok, namun, tepat pukul 24:00 saya tetap berangkat.

Setengah jam perjalanan mengantar saya sampai di tujuan. dan, belum ada tanda-tanda pulang. Berbekal uang 2rb di selipan kantong, saya mennghampiri pedagang kopi keliling. "Kopi Hitam satu pak". Mantab, sarapan untuk menemani hari yang panjang. Tak jauh dari sana, ada satpam yang tengah berjaga. Melihat ada potensi untuk simbiosis mutualisme, saya menghampiri satpam itu. Minta ijin tempat dengan tawaran standar. "Ngopi pak". "Mari-mari".

Saya mengawali perbincangan dengan tawaran standar kedua. "Rokok pak". "Ada saya". Mulailah masuk kedalam perbincangan dengan topik perdana "Telepon Seluler". Ia mengatakan bahwa telpon seluler sudah seperti kacang. Siapa saja bisa beli dan boleh punya lebih dari satu. Udah bukan barang mewah lagi. Padahal dulu jaman tahun 1995, namanya HP itu barang mewah banget, walau masih segede bagong. Bikin janji buat pacaranpun harus ke telpon umum dulu. Kira-kira begitulah rangkuman topik perdana.

Berlanjut ke topik pasca rehat dengan tema "Transportasi Umum". Pak satpam punya pendapat bahwa jaman makin maju, ternyata tidak berbanding lurus dengan perkembangan sarana transportasi umumnya. "Jaman saya dulu waktu pacaran, taun 93, bisa pulang malem gampang pake kopaja. Kopaja masih muter sampe jam 1 2, sekarang mah, jam 10 juga udah bagus. Makin kemari makin taksi yang dibanyakin, tiap menit lewat 5 minimal. Padahal kalo orang kayak kita mana kepikiran naik taksi."

Wah, nampaknya pak satpam sedang galau lintas jaman. oke lanjut lagi,,,

"Jalanan makin rame, malah makin sepi kopaja. dulu jam 1 juga masih bisa dapet Patas". Betul pak, saya setuju dengan keluhan ini, dan,,, keluhan sebelumnya juga sih.

Tak lama datang mobil Livina yang terasa tergesa. Kaca terbuka, terlihat sosok wanita lokal bersama pria kaukasoid. "Di dalem ada atm cimb pak?" "ada, masuk aja ke kiri". Si mas bule keluar dengan rambut pirangnya, namun tak berapa lama kembali keluar dengan oleh-oleh pertanyaan. "Dimana lagi ada ATM CIMB? Tidak bisa ambil uang di sini" pak satpam dengan sigapnya menjelaskan letak ATM terdekat.
Livina kembali berangkat dengan tergesa.

Ternyata hal itu menjadi Bridge untuk topik pamungkas. "Gila, diabisin semua cewek sini sama bule-bule" Eh, kok kayak ada hal terpendam yang asik kalau dikeluarkan nih. "Hahaha,, Bule kan demen banget sama cewek Indo pak" "Gila ya, udah ekonomi dijajah, perempuan juga"

Wahhh,,, ini menarik sekali untuk dibahas.

"Sekarang bilang udah merdeka mah, tapi sama aja. Bule-bule dateng kemari, jadi pengusaha, sukses, kita jadi budaknya."

Itu adalah quote terbaik malam itu.
Perbincangan meluas dengan cakupan VOC sebagai perusahaan, yang membuat kesimpulan bahwa selama 400 tahun yang menjajah kita adalah korporasi. Kalau dulu pas kolonial mereka menggunakan pemerintah asal sebagai penjamin keamanan, penjajah jaman sekarang makin pintar dengan memakai pemerintah lokal.

Obrolan 1,5 jam menemani saya dalam penantian misi penjemputan.
Terima kasih pak satpam
Besok jemput kita ngobrol lagi, sambil kenalan.

Nb: Maaf pak saya memalsukan umur, saya 90, bukan 85. habisnya situ tuwir bener 73, jomplang banget tar obrolan kita. hehehe,,,

Senin, 19 November 2012

Kita Laki-Laki, Atau Pria?

Apakah pria itu?

Banyak wanita berpikir bahwa pria merupakan sosok laki-laki dewasa yang mengayomi, hangat, berpendidikan, serta mapan secara ekonomi. Makhluk ini ditandai dengan pakaian rapi lengan panjang, rambut pendek mengkilap, serta tunggangan roda empatnya. Rata-rata wanita sangat mendambakan sosok seperti ini. Namun, mari kita telusuri lebih dalam asal mula Label seperti ini.

Pria dengan inisiatif kah, atau wanita dengan impian seorang pria ideal?

Melihat konteks Indonesia, cara berpakaian kita sekarang merupakan serapan tradisi dari barat. Bahwa pada jaman raja-raja, laki-laki yang dianggap pria adalah mereka yang memiliki kekuasaan dan ilmu kanuragan. Masuk pada fase kolonial. Bahwa laki-laki yang dianggap pria adalah mereka yang keturunan bangsawan dengan busana ala barat. Pandangan umum mengenai sosok pria ideal.

Bila ada seorang pria malang melintang di jalanan dengan busana jaman raja-raja jawa. Dengan kumis tebal, pakaian sarung, gelang lengan, dan sisipan keris di pinggang belakang, maka jaminan yang saya berikan adalah undangan masal untuk gelak tawa atau senyum nyiyir.

Pandangan dahulu telah berubah, berbeda dengan pandangan sekarang. Maka bila seorang pria dinilai hanya dari tampilan fisik, maka hal ini perlu dipertanyakan. Apakah semua itu muncul dari inisiatif, atau merupakan paparan dari pandangan umum?

Sederhana. "Pria adalah laki-laki dengan karakter kuat, dengan perasaan dan logika seimbang, kemandirian, serta kemerdekaan."

Laki-laki yang masih dijajah dengan pandangan umum apakah masih bisa dibilang sebagai pria?

Yin-Yang, Adam-Hawa

Pasangan. Kenapa kebanyakan orang mendambakan sosok untuk menjadi pasangannya?

Teori filsafat Tao memaknai itu dalam sebuah relasi Yin-Yang. Dua unsur berlawanan yang saling berpadu, kegelapan dan cahaya terang.

Atau tentang falsafah lain yang ada dalam kitab-kitab Samawi mengenai konsepsi Adam dan Hawa. Yang sering begitu dangkal diartikan sebagai laki-laki dan perempuan.

Dua konsepsi dari Ardhi dan Samawi yang punya kesamaan mengenai sebuah perbedaan yang berrelasi dan berpadu menjadi satu kesatuan yang membangun.

Konsepsi seperti ini memang terasa antah berantah bila direlasikan dengan konteks jaman sekarang. Namun ada satu hal sahih yang masih berlaku, bahwa perbedaan punya relasi untuk menjadi satu.

Manusia diciptakan untuk berpasangan, sekalipun ia memilih untuk berpasangan dengan dirinya sendiri. Namun bagi manusia yang memilih untuk berpasangan dengan manusia lain yang berlawanan jenis, maka fase ini masuk pada ranah problematika.

Pernah sekali saya membaca tulisan seorang wanita yang ditujukan untuk kekasihnya. Perasaan hati yang bertentangan dengan pilihan si lelaki. Secara rasa si wanita tidak pernah mengerti kenapa si pria mengambil jalan yang tidak pernah masuk pada konsepsinya. Namun pada akhirnya si wanita mengakui bahwa semua rasa itu terpulihkan dengan raut si pria yang bahagia dengan pilihannya. Maka si wanita pun ikut berbahagia.

Melihat memang sebuah perkara mudah, namun tidak untuk memahami. perlu ada keterbukaan diri, hati dan pikiran untuk bisa mencerna secara utuh tentang sebuah hal yang berlawanan, seperti dua aliran agama tadi yang memadukan perbedaan

Suatu hal yang membahagiaan ketika bertemu dengan pasangan yang secara fisik, karakter, pemikiran, dan hal lain yang begitu berbeda, namun tetap bisa menjadi padu. Sudah tidak ada "Aku" di sana. Yang ada hanya "Kita". Karena perbedaan itu bukan lagi terpisah, namun telah berpadu dan mengalir menjadi satu.

Selasa, 16 Oktober 2012

BADUY: Tak Sekadar Jalan-Jalan (part I)

Kisah perjalanan ini bermula dari sebuah rencana tak terduga. Kala itu saya dan seorang teman sedang berpikir untuk mengisi libur singkat di bulan April, bertepatan dengan Hari Raya Paskah. Rutinitas sakramentalia di gereja nampaknya sudah menjadi terlalu abstrak untuk diikuti. Rasanya kami ingin memaknainya langsung di dalam keseharian lewat interaksi dan pengalaman hidup.

Menepi dari hingar-bingar kota. Mencari makna dalam kesunyian. Mengalami pengorbanan untuk mendapatkan nilai. Belajar tentang hidup dengan menjalani hidup itu sendiri. Pilihan jatuh pada desa Baduy. kebetulan salah seorang teman saya yang lain memiliki akses langsung dengan orang di Baduy dalam. Rencana disusun bersamaan dengan janji dengan kawan di Baduy dalam.

Kala itu hari Jumat. Ketika nasrani menjalani prosesi jalan salib, kami (Saya, Ardo, dan Wahyu) melakukan perjalanan dengan pengorbanan pula. Berkumpul di Stasiun Serpong, tiga orang pergi menumpang kereta api menuju Rangkas Bitung.

Gerbong yang kami naiki bukanlah gerbong penumpang. Hanya ada jendela, tidak ada pintu. Kami masuk lewat jendela dan duduk bersila. Melihat orang banyak dengan ekspresi mereka masing-masing. Melihat orang dengan segala barang bawaannya, termasuk seekor ayam pun ada. Mungkin terdengar begitu kumuh, namun kami tetap menikmati semua. menikmati perjalanan dengan khikmat.

Kereta berhenti. Kami bergegas keluar. Tentu saja melalui jalan masuk kami tadi, jendela. Wahyu sempat membantu seorang ibu yang kesulitan turun dari jendela, karena memang jarak antara jendela-tanah terlalu jauh. Kepekaan dan inisiatif yang cukup menyentil saya. Sangat sederhana, namun begitu sangat menunjukkan betapa menolong orang lain dengan pengorbanan itu bisa menghasilkan senyuman.

Dari stasiun Rangkas Bitung, kami menumpang angkot menuju sebuah terminal. Terminalnya tergolong kecil. Lebih didominasi oleh angkutan jenis Elf. Kebetulan hari itu lalu lintas angkutan cukup padat, sehingga kami bertiga tidak mendapat kursi di angkutan. Seketika itu juga, ide gila muncul. "Gimana kalo di kap mobil aja", kata salah seorang teman saya. Karena kami tidak punya banyak pilihan, maka pilihan ini kami ambil. Kami hanya ingin sampai ke Baduy tepat dan berjumpa dengan kawan kami, orang Baduy Dalam.

Sekitar 3 jam perjalanan mengantarkan kami dari Terminal menuju desa Ciboleger, desa terakhir yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Sesampainya di sana, kami langsung disambut oleh kawan kami, Sapri yang kebetulan membawa serta kawannya, Asmin. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah "Wow, mereka masih anak-anak ternyata". Hal itu terlihat dari bentuk wajah keduanya. Kami rehat sejenak untuk merenggangkan otot kami yang kaku setelah menegang selama 3 jam perjalanan. Kopi dan pisang goreng menemani rehat kami.

Perbincangan ringan membuka interaksiku dengan kawan baru dari Baduy Dalam ini. mereka tidak terlalu primitif untuk diajak berbincang. Ini pengalaman pertama saya berbincang dengan penghuni Baduy Dalam. Mereka cukup punya wawasan di luar adat istiadat mereka. Pengetahuan mereka tentang Jakarta membuat saya cukup tercengang, sebab mereka ternyata cukup mengenal Ibu Kota.

Setelah rehat, kami memutuskan untuk memulai perjalanan. namun baru beberapa menit berjalan, hujan turun dan semakin deras. Maka kami sepakat untuk berteduh dan menunda perjalanan sampai hujan reda. Kami berteduh di teras rumah salah seorang warga Baduy Luar. Kesempatan ini membuka waktu yang cukup banyak untuk kembali berbincang. Perbincangan ringan yang disisipi sedikit humor untuk melepaskan tawa. Dua jam berlalu, hujan pun akhirnya mereda. Kami melanjutkan perjalanan.

Kala itu, jalan setapak dari tanah terasa sangat licin. Beberapa kali Ardo harus tergelincir dan kehilangan keseimbangan. Namun dua rekan kami dari Baduy Dalam nampak santai mengambil langkah. Mereka tidak memakai alas kaki. Maka, kami pun mengikuti contoh itu, dengan harapan bisa terbebas dari licinnya jalanan.
Seperjalanan, kami melewati pemandangan yang begitu luar biasa indah. Melewati danau yang begitu jernih airnya. Melintasi punggung bukit yang menyajikan pemandangan elok punggungan bukit dengan kabut tipis di lembahnya. Ditambah, udara segar yang menambah nikmatnya perjalanan kami. Sering saya mengambil nafas dalam untuk menikmati betapa nikmatnya udara, udara yang disajikan cuma-cuma. Suasana yang begitu damai segera menjadi imaji di kepala.

3 jam perjalanan dengan jalan kaki tidak terasa. Melewati sungai yang menjadi pembatas antara wilayah Baduy Dalam dan Baduy Luar. Menikmati teduhnya rumah singgah di ladang yang kami lalui. Meneguk betapa segarnya air sungai yang begitu bersih dan segar. menikmati hasil bumi dari buah durian yang beruntung masih bisa kami rasakan. Semuanya itu menjadi bumbu perjalanan kami selama 3 jam menuju Baduy Dalam.

Alat komunikasi kami matikan dan kami bungkus di dalam tas. Sebab aturan adat di Baduy Dalam tidak memperbolehkan adanya pemakaian alat elektonik. Tidak masalah. Semua itu hanya tidak bisa divisualkan. Namun tetap bisa tersaji melalui tulisan.

Sebelum masuk ke perkampungan, ada sebuah lokasi tempat penyimpanan beras. tempat penyimpanan itu seperti rumah minang, namun dalam bentuk mini. Sekitar 2 x 2 meter saja. Cukup tinggi. Dan hanya ada satu pintu kecil yang terletak di bagian atas untuk memasukkan dan mengambil beras. Tidak jauh dari lokasi itu, ada sebuah jembatan yang terbuat dari bambu yang menjadi penghubung dan pintu gerbang perkampungan.

Perkampungan yang kami datangi ini merupakan perkampungan atau desa tempat tinggal Sapri dan Asmin. Perkampungan itu bernama Ci Beo. Terdiri dari beberapa puluh rumah yang berarti beberapa puluh keluarga. Sebab aturannya di sini, setiap orang yang menikah, wajib hidup dengan keluarganya, bukan dengan orang tuanya. Kebetulan Sapri belum menikah, maka ia masih tinggal dengan orang tuanya.

Rumah-rumah di sama cukup unik. Tidak ada sebilah paku yang menjadi perekat. Semua balok terpasang dengan kuncian yang sengaja dipahat dan ibuat agar kuat menyangga dan menjadi pondasi yang kokoh. Sangat harmoni.

Pengalaman berharga berikutnya kami dapatkan ketika selesai makan malam. Kami kembali berbincang di halaman depan rumah, tepatnya di pinggir jalan. Penerangan hanya menggunakan sebuah lampu yang terbuat dari botol kaca, sumbu, dan minyak tanah.

Di dalam suasan gelap itu, saya mulai mengajukan beberapa pertanyaan mengenai konsepsi adat istiadat Baduy Dalam. Menurut penjelasan Sapri, menjadi orang Baduy Dalam itu adalah sebuah kehormatan. Hal itu karena identitas itu merupakan warisan. Orang Baduy Dalam bisa dengan mudah menjadi orang Baduy Luar, namun tidak sebaliknya. Orang Baduy Dalam memiliki peraturan yang sangat ketat, apalagi bila itu berkaitan dengan adat istiadat. Salah satu contoh adalah Orang Baduy Dalam tidak boleh berbohong. Orang Baduy dalam tidak boleh memiliki alat-alat elektronik. Tidak boleh menggunakan kendaraan. Tidak boleh mengotori sungai dan lingkungan. Dan semua aturan itu diawasi oleh seorang tetua adat yang akrab mereka panggil Pu'un.

Hal yang saya anggap luar biasa adalah kejujuran mereka. Ketika mereka bepergian ke Jakarta yang notabene jauh dari kampung, mereka masih memegang teguh prinsip untuk tidak memakai kendaraan, padahal, kalau mereka melakukan itu pun tidak ada warga Baduy Dalam yang melihat. Namun mereka tidak mengambil pilihan itu, bahkan hal itu tidak pernah hadir sebagai pilihan di kepala mereka. Di tengah perkembangan budaya msyarakat yang serba kebelinger seperti ini, ternyata ada yang masih berpegang teguh pada konsep kejujuran.

Setelah perbincangan yang cukup serius itu, maka mulai masuklah kami ke perbincangan ringan. Tiba-tiba asmin bertanya mengenai bulan yang kadang muncul dan kadang menghilang. Saya pun menjawab dengan sedikit mengingat-ingat pelajaran di SD dan SMP mengenai astronomi. Saya mencoba menjelaskan hal ilmiah dengan penjelasan populer. Namun dengan penjelasan itu, mereka hanya merespon dengan kata "Oooo..." Lalu menyambung pertanyaan sebelumnya, maka ia bertanya kembali dengan polosnya, "Terus, bisa nggak orang pergi ke bulan?" Wahyu menjawab menggunakan konsep pesawat ulang alik. Namun Sapri  bertanya lagi, "Bisa nggak orang pergi jalan kaki ke bulan?". Wahyu menjawab dengan tegas "Ya nggak bisa, makanya, selama orang Baduy Dalam nggak boleh pake kendaraan, Sapri dan Asmin nggak bisa pergi ke bulan". Jawaban itu lantas membawa gelak tawa yang memecah pekatnya malam itu.

Mereka orang yang polos. Mereka seperti sebuah kertas putih yang sedang diisi dengan tulisan dan gambar. Mereka masih terlalu kosong secara pengetahuan umum. Namun untuk soal harmonisasi alam, mereka adalah guru saya. Sangat sulit berpegang teguh dengan prinsip seperti itu di tengah kehidupan serba moderen seperti ini. Namun dari situ, minimal saya bisa belajar untuk memahami sebuah ketulusan dan kebanggaan.

Nampaknya terlalu banyak yang bisa diceritakan dalam perjalanan ini. Belum kami menutup mata, masih ada dua hari lagi yang belum sempat tertuang di sini.

#Bersambung....

Rabu, 03 Oktober 2012

Mengenang 40 hari Papa Hendromartono

"Ketika penyesalan menemui jawab, itu adalah momentum untuk kembali melangkah"

Penyesalan terdalam seorang anak adalah ketika orang tuanya berpulang, namun dia belum melakukan apa-apa untuk mereka. Kira-kira itulah yang saya alami ketika saya mendapat kabar bawah ayah saya telah berpulang. Saya terlarut dalam raungan duka dengan segenap perasaan sesal yang sebegitu saja terluap. Saya akhirnya menyadari betapa berharganya satu detik yang saya lalui.

Ketika ayah saya masih hidup, ada satu pertanyaan wajib yang selalu ia tanyakan. "Koe ki karo febry jujurane piye?" Ia menanyakan tentang rencana pernikahan saya. Jauh dari rencana hidup saya, rencana itu belum sempat terpikirkan. Tiga kali saya pulang ke rumah, saya selalu disodori pertanyaan itu. Dan saya selalu menjawab, belum kepikiran pah, harus lulus dulu dan kerja dulu baru nikah. Ayah saya hanya membalasnya dengan tawa kecilnya. Dia tidak menanyakan kapan saya lulus. Dia tidak menanyakan tentang mau apa saya ketika saya lulus. Dia hanya bertanya kapan saya menikah.

Pertanyaan itu yang menjadi beban itu lantas berubah menjadi sebuah tanggung jawab dan prioritas dalam hidup saya. Saya sadar bahwa saya tidak punya banyak waktu untuk menunaikan itu selagi ayah saya masih ada. Saya menatar dan menempa hidup dan mental saya lebih keras lagi. Saya ingin bisa mapan ketika saya lulus nanti. Namun, ternyata saya tidak punya cukup waktu untuk itu.

Satu minggu dari kabar duka itu datang, saya selalu terlarut dalam penyesalan dan refleksi tentang kebodohan masa lalu yang pernah saya lakukan. Saya meresapi betapa bodohnya menyia-nyiakan waktu satu tahun yang saya buang di SMA. Andai saya bisa melewati SMA tepat waktu, mungkin saya masih punya kesempatan untuk menunaikan tanggung jawab itu.

Hari terakhir sebelum kembali ke Tangerang, kami sekeluarga datang ke makam untuk berpamitan dan menghantarkan doa agar perjalanan ayah saya lancar. Kami datang sekeluarga ditemani beberapa teman dekat keluarga kami. Ketika turun dari mobil, kami langsung menuju makan untuk membersihkan beberapa daun kering yang ada di atas kuburan yang masih berrupa gundukan tanah itu. Ibu dan kakak perempuan saya masih asyik dengan kegiatan mereka untuk mengganti lampu sentir sebagai penerangan. Waktu itu sore hari sekitar pukul 5 sore.

Mami Rida yang ikut dalam rombongan langsung mengambil posisi berlutut di kepala kubur. Dia sedikit mengusap nisan salib yang tertanam. Tiba-tiba dia bersuara "Mah, sudah mah, nanti dulu, kita doa dulu mah".   Saya langsung menengok ke Mami Rida, saya sadar bahwa itu adalah ayah saya. Intonasinya, cara ia melafal, itu adalah benar-benar papa saya. Sontak, kami langsung mengambil posisi berlutut untuk berdoa. 15 menit lebih ia berdoa tanpa terbata. "Terima kasih Tuhan kau telah memberi keluarga seperti ini. Terima kasih kepada istriku tercinta, anak-anakku tersayang. Aku ikhlas dengan apa yang telah kalian lakukan dan berikan." Air mataku tak lagi bisa kubendung. Beban tanggung jawab dan penyesalan yang kurasa seketika itu juga seperti diangkat. "Papa telah ikhlas dengan semuanya, Aku pun harus ikhlas dan merelakannya tanpa ada penyesalan dan kesedihan".

Selepas dari situ, saya kembali berpikir mengenai situasi ideal yang ingin kuberikan ke orang tua sebagai anak. Ternyata seorang orang tua pun memiliki situasi idealnya sendiri terhadap anak-anaknya. Mulai dari situ aku berjanji bahwa air mata yang kutumpahkan di makamnya adalah air mata terakhir yang aku teteskan untuk dirinya. Aku ingin mengenangnya dalam kebahagiaan untuk menemaninya di keabadian.

Dukaku sebagai seorang anak sudah berakhir, Sesalku sebagai seorang anak sudah tuntas. Hanya kebanggaan yang kini hidup dalam benakku. Bangga karena boleh dilahirkan di tengah-tengah keluarga Hendromartono yang begitu luar biasa. Bisa dididik di dalam keluarga Hendromartono dalam ketabahan, keikhlasan, ketegaran, dan kesederhanaan. Keluarga yang berani berdiri tegap menghadang dan melawan badai. Hidup dengan darah Hendromartono yang hidup tanpa dendam. Hidup dengan daging Hendromartono yang Ikhlas memberikan tangannya untuk orang lain. Ayah yang begitu luar biasa. Satu-satunya patron yang akan selalu hidup dalam hati, pikiran dan jiwaku.

Senin, 01 Oktober 2012

Sepi Itu Indah

"Kadang manusia itu harus terjebak dalam sepi untuk bisa meresapi betapa nikmatnya kebersamaan,,,"


Kira-kira itu adalah kalimat penyejuk untuk menemani saat-saat sendiri. Sifat dasar yang selalu bertanya dan selalu ingin mencari jawab atas kegelisahan, atau mungkin sebagai pelarian dalam kejenuhan. Mungkin kita terlalu nyaman berada di tengah keramaian dan bisa begitu akrab dengan orang-orang di sekitar kita. Namun kala sendiri, kita menjadi rikuh pada diri sendiri.

Alih-alih mencari pembenaran dari sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial, kita terlalu dibenamkan dalam nyamannya kebersamaan. Seketika itu juga kita menjadi terlena dalam hasrat suka cita. Hasrat diri untuk ingin dimengerti, hasrat diri dalam popularitas dan eksistensi. Namun kala sendiri, kita menjadi seperti terasing, bahkan dengan diri sendiri menjadi saat-saat yang garing.

Kala sendiri, kita bukanlah apa-apa. Ironis. Kita bisa sebegitu akrab dengan pribadi lain tanpa bisa dekat dan mengerti diri sendiri. Maka pada saat itu juga, kita tidak akan pernah bisa menjadi diri kita sendiri di depan orang lain. Kita memilih menjadi apa yang ingin orang lihat dari kita.

Namun kita menjadi begitu tersentak ketika kita mempunyai banyak waktu bermesra dengan diri kita sendiri. Banyak hal dalam diri yang baru kita ketahui melalui lamunan dan refleksi masa silam. Waktu untuk sendiri memang kadang begitu sangat dibutuhkan saat kita mulai asing dengan diri kita sendiri. Ketika kita menarik jauh diri kita dari keramaian dan mengambil tempat di dalam sepi, kita baru melihat keindahan dari sebuah kebersamaan. Kita bisa sebegitu akrab bermesra dengan diri kita sambil memandang suka cita kebersamaan dari kejauhan.

Dalam hal ini, tidak ada yang salah dengan Sepi. Karena bila tidak ada sepi, maka kebersamaan akan terasa begitu hambar. Menikmati kesepian akan membuat kita bisa meresapi dan mengecap betapa nikmatnya kebersamaan. Menikmati setiap irama yang hadir dalam hidup membuat kita menjadi lebih bisa bersyukur pada hidup kita.

Sekilas Tentangku - PART II

Sampai pada akhirnya saya masuk di De Britto. Suasana baru, Yogyakarta. Membawa berjuta harapan dan asa untuk mendapatkan pembelajaran yang lebih baik. Pendidikan bebas yang ditawarkan mungkin membuat saya agak kaget. Kami bebas untu memilih dan menentukan pilihan yang akan kami ambil, yang dibarengi kesadaran akan batasan dan konsekuensi yang kami terima. Namun sayang, saya belum sempat mencerna itu lebih baik.

Kebebasan yang saya dapat merupakan ujian berat yang menghanyutkan. Situasi itu memberikan saya peluang untuk melakukan banyak hal yang saya inginkan. Menumbuhkan minat di kelompok pecinta alam. Menggandrungi olahraga panjat tebing, dan kegiatan yang lain. Terjun dalam organisasi Presidium. Banyak hal baru dan menantang yang saya ambil. Sampai pada suatu ketika ketika kenaikan kelas, saya tidak berhasil masuk ke jurusan yang saya inginkan. Kurang dua poin karena tidak mengikuti ulangan harian, membuat saya harus rela menerima masuk ke jurusan BAHASA.

"Jurusan apa ini?". Mungkin kalau tidak salah ingat, itulah frasa yang terpikir dalam otak kala itu. Baiklah, ini konsekuensi yang harus saya terima atas pilihan yang saya ambil sebelumnya. Tidak mudah memang. Hati saya mulai ikhlas ketika saya bisa mengenal dekat teman sekelas yang kala itu hanya berjumlah 10 orang. Jo, Maundri, C max, Toga, Rudy, Sudwi, Theo, Felix, dan Brandt. 10 penghuni kelas XI Bahasa.

Mungkin karena jumlah yang sedikit ini membuat kami lebih bisa dekat dan akrab satu sama lain. Kami berproses dan bermain bersama. 10 manusia yang memiliki karakter yang berbeda satu sama lain. 10 manusia yang memiliki Dragon Ball. 5 orang dengan prestasi terendah. Saya, Toga, Brandt, Maundri, dan Sudwi. Tidak jelas kapan ada istilah ini. Namun dragon ball inilah yang membuat suasana kelas menjadi ramai, karena isinya ngelawak dan tertawa.

Kami berproses dan melewati banyak hal. Sedikit demi sedikit rasa sesal itu hilang. Bahasa adalah keluarga baru saya. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya ada di sini. Dengan dukungan dan semangat bersama, maka bahasa menjadi kelas yang solid dan menyenangkan.

Di kelas ini, saya belajar mengenai kebersamaan dan persaudaraan. Kami mencoba untuk berkembang bersama agar memperjuangkan dan membuktikan bahwa kelas bahasa bukan kelas buangan. Kami bisa memberikan yang terbaik di sini.

....

Minggu, 30 September 2012

Sekilas Tentangku - PART I

Mungkin coretan kali ini lebih pas dibilang sebagai refleksi atau bahasa anak jaman sekarang bilang curcol. Bagi yang mengalami adanya kesamaan peran, tokoh, cerita, bahkan detail nama, ini bukan sebuah kebetulan, namun memang benar-benar ada dan tersaji dalam lembaran kisah perjalanan hidup yang saya alami.

Mungkin agak sedikik membosankan kalo misalnya cerita dari pertama nangis pas lahir, jadi skip aja deh ceritanya sampe kelas tiga SMP. Seperti tradisi yang sudah ada dalam keluarga saya, setiap anak yang menjadi anak dari Alm. Papa dan Mama, tanpa terkecuali, harus belajar mandiri dengan hidup merantau. Kedua saudara saya telah mengalami fase itu, dan kala itu, tibalah giliran saya. 

"Mau ngapain kamu habis lulus nanti". Mungkin ini ada dalam skrip orang tua saya untuk membuka pembicaraan tentang rencana hidup saya kedepan. "Aku mau sekolah di Jogja, di De Britto". Aku sudah cukup mengetahui dan mencari SMA apa yang cocok dengan untuk mengembangkan karakter saya. Saya cukup kagum dengan SMA ini, SMA yang lahir dan tumbuh di tangan Yesuit. Cukup terkenal dalam konteks nasional, terutama untuk mereka yang tidak mainsetream, dan menyukai pendidikan alternatif. Pendidikan yang bukan sekadar menggembleng sisi kognitif seorang manusia. 

Kala itu, pilihan saya jatuh pada SMA Kolese De Britto karena saya ingin merasakan pendidikan bebas. Sebab ya, memang di De Britto, siswanya boleh tidak memakai seragam. Boleh memakai sepatu sandal, dan boleh memelihara rambut sampai panjang semampai. "Asik nih kayaknya". Pikiran itu yang kira-kira hinggap dalam benak saya. Bosan dengan pendidikan yang kaku dengan aturan baku yang kadang tak berdasar, maka, De Britto lah pilihannya.

Orang tua saya tergolong sangat demokratis untuk memberikan pilihan kepada kami menentukan masa depan kami masing-masing. Mungkin mereka malas memikirkan anak-anaknya, namun sebenarnya saya tahu, bahwa bukan itu alasannya. Mereka hidup dan berkembang juga karena merantau. Mungkin pengalaman dua insan yang sama, yang mengalami banyak hal positif, maka mereka terapkan kepada anak-anak mereka ketika mereka menjadi orang tua.

Tidak seperti dua kakak saya yang digembleng habis-habisan oleh Alm. Papa, saya mendapatkan perlakuan berbeda yang bisa dibilang "Istimewa". Kedua kakak saya harus membawa berpuluh-puluh kilo Vanili mentah untuk dijual ke magelang, yang uang hasil penjualannya akan mereka pakai sebagai biaya masuk di sekolah yang mereka pilih. Saya, cukup duduk manis di dalam kabin pesawat, menunggu 1 jam 30 menit di udara, dan tiba-tiba sampai di bandara Adisucipto Yogyakarta.

Hal ini memang improvisasi oleh orang tua saya. Papa saya sudah terlalu tua untuk bisa menerapkan hal yang sama sebelumnya kepada saya. Papa malah tidak ikut mengantar, dia tetap di rumah dan saya diantar oleh Mama saya. Sangat istimewa. Kedua kakak saya bilang saya adalah anak yang paling dimanja oleh orang tua kami. Mungkin memang begitu adanya, mengingat saya seorang bungsu yang kala kecil sakit-sakitan. Mungkin mereka terlalu terbiasa memberikan perlakuan lebih dan istimewa kepada saya. Saya lebih percaya mereka mengambil pilihan demikian karena memang keadaan menuntut demikian. keadaan yang tidak pernah bisa kami pahami sebagai seorang anak. Keadaan yang mungkin baru bisa kami pahami ketika kami sendiri mengalaminya dengan anak-anak kami kelak. 

....

Ikhlas

Kadang kita sering menghela nafas, terperangah dan diam, atau bahkan menangis terisak atau meraung, ketika kita mendapati situasi di luar spekulasi hidup kita. Respon diri untuk melawan ketika berhadapan dengan situasi ini sangat-sangat manusiawi. Kita akan lebih memilih untuk suka pada hal yang kita suka, dan memilih benci untuk hal yang kita benci. Namun begitu sangat jarang kita bisa suka pada hal yang kita benci.

Empat tahun silam saya pernah mengalami hal seperti ini. Mengalami rasa kecewa yang teramat sangat. Bukan kepada diri sendiri, namun pada orang yang sangat saya sayang dan cintai. Dia adalah salah satu orang yang membimbing saya dari kecil hingga saya besar. Dia adalah kakak yang teramat sangat dekat dengan emosional dan sisi sentimentil saya.

Tidak ada cela yang perlah dilakukannya semasa saya mengenalnya, sebelum hari itu tiba. Saya sangat marah dan kesal untuk mendengar dan dipaksa menerima kenyataan yang tidak pernah sedikitpun terlintas di pikiran dan perasaan saya. Kala itu menjadi saat yang sangat penting. Rasa marah, kecewa, sedih, bercampur dalam satu wadah.

Empat tahun berlalu. Sekarang, kami semua bisa tertawa ketika harus kembali mengenang masa itu. Hari yang pernah kami lalui dengan tetesan air mata dan luapan emosi, bisa menyublim menjadi serangkaian guyon sore hari menemani obrolan dalam menikmati secangkir kopi. Kami mengenang itu dengan senyum dibibir, gelak tawa.

Seperjalanan pulang dari kediamannya saya berusaha mencerna dan melihat kembali tentang proses apa yang telah kami alami. Proses yang membawa kami menuju satu titik cerah untuk bisa melangkah dari keterpurukan. Melanjutkan dalam khayalan sambil nongkrong di kamar mandi. Kemudian duduk di beranda depan dengan secangkir kopi. Kilasan itu hanya membawa saya pada satu kata, Ikhlas. Kami telah berhasil mengikhlaskan hal buruk yang kami terima. Kami berhasil mengubur kenangan suram sampai iya bisa tumbuh menjadi pohon kendal yang rindang, hingga kami bisa berada pada situasi yang nyaman.

Ikhlas, adalah satu-satunya jawaban bagi saya untuk bisa menikmati ketidakenakan yang dialami. Ikhlas, adalah satu-satunya jawaban untuk alasan bisa melangkah. Ikhlas adalah satu-satunya alasan agar saya bisa menikmati tiap-tiap getir yang datang menghampiri. Proses panjang membawa pada satu fase yang menghadirkan pengalaman sebagai guru yang sangat berharga.

Kamis, 27 September 2012

Pejuang Dalam Pelarian

Masih ingatkah kalian dengan peristiwa 65? Sebuah konspirasi politik terbesar yang pernah dialami negeri ini. Besar karena banyak kepentingan yang bermain di sana, baik oleh elit lokal, maupun kepentingan Internasional. Setelah berakhirnya PD II, dua negara besar saling terlibat perang dingin. Perlombaan untuk menjadi negara paling berpengaruh di dunia, baik secara ideologi, maupun peta kekuatan militernya.

Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno lebih condong ke Soviet, hal itu ditandai dengan hubungan bilateral yang harmonis. Soviet kala itu juga bukan karena tidak ada tendensi dekat dengan Indonesia. Ketika Indonesia masuk ke dalam arus komunis, maka garis tegak dari atas ke bawah belahan bumi itu akan dikuasai komunis, begitu pula dengan Australia dan negara boneka Malaysia.

Namun seperti biasanya, bahwa konspirasi merupakan agenda besar yang semata-mata hanya berorientasi pada tujuan akhir. menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Indonesia masuk ke dalam bagian yang harus dikorbankan. Caranya dengan menciptakan gejolak dengan skala nasional dengan dua agenda besar, Menumpas simpatisan dan partai komunis, serta menggulingkan kepemimpinan Soekarno. Jutaan nyawa melayang kala itu, nyawa mereka yang masuk sebagai anggota dan simpatisan PKI maupun nyawa orang-orang yang sengaja dikorbankan dan menjadi tumbal.

Dari jutaan orang yang terganjal peristiwa itu, ada satu orang yang berhasil selamat dengan menjalani 15 tahun hukuman yang dibagi menjadi dua, hukuman penjara dan tahanan kota. Orang ini sama sekali tidak terkait dengan gerakan partai-partai atau ormas-ormas. Orang ini murni hidup sebagai prajurit, sebagai militer.

Selama menjalani hukuman di nusa kambangan, dia melihat dan mengalami sendiri kejamnya penyiksaan yang tidak pernah terbayangkan di era manusia moderen abad 20. Biji jagung yang dikombilasikan dengan kerikil atau pasir, hampir menjadi menu wajib makan sehari-hari di dalam sel. Tidak sedikit yang mati akibat gangguan pencernaan. Namun dia berhasil bertahan sampai bebas dari hukuman penjara dengan cap OT di kanan atas kartu identitas kewarganegaraannya.

Dia berpikir bahwa dia tidak mungkin bertahan hidup dengan kondisi sosial masyarakat di Jawa yang sangat erat dengan peta konflik politik yang barusan terjadi. Oleh sebab itu dia pergi menyeberang lautan dan hidup di Kalimantan dan memulai bisnis elektronik. 30 tahun lebih dia menjalani hidup sebagai pelarian, sebagai orang yang dibuang oelh negaranya sendiri, negara yang dia bela, negara yang dicintainya. Tidak ada luka yang lebih dalam daripada luka orang yang dikhianati oleh sesuatu yang dicintainya.

Sampai akhir hidupnya dia hidup sebagai pelarian. Meski pada masa pemerintahan Gus Dur ada pemulihan nama baik kepada orang-orang yang tersandung kasus 65, namun itu tidak terlalu berpengaruh banyak. Titel PKI yang dicap orang kepada dirinya tidak membawa perubahan banyak dalam kehidupan sosialnya.Namun paling tidak, dia telah berhasil hidup sebagai pejuang. Pejuang yang berjuang untuk Istri. Pejuang yang berjuang untuk anak-anaknya. Pejuang yang berhasil menanamkan benih-benih perjuangan dalam tiap diri ketiga anaknya.

Masa perjuangannya telah berakhir sejalan dengan tutupnya usia. Perjuangan yang dia jalani semasa hidupnya kini telah dilanjutkan oleh ketiga anaknya. Tentu saja bentuk perjuangannya telah berbeda. Namun paling tidak nilai yang menghidupi perjuangan itu tetap sama. Dia orang yang sangat luar biasa. Inspirasi bagi hidupku. Ayah yang menjadi patron hidupku. Orang tua yang menjadi teladanku.

Rabu, 26 September 2012

Lika-Liku Cinta

Salah satu hal yang terindah yang dialami manusia adalah jatuh cinta. Dan salah satu hal yang paling menyedihkan dalam hidup manusia adalah putus cinta. Kenapa cinta begitu bisa membuat fluktuasi suasana hati kita? Kenapa yang namanya cinta itu begitu mempengaruhi pengambilan sikap dan keputusan cinta? Kita tidak akan pernah tahu bagaimana cara menanggapi kedatangan cinta bila kita belum mengenal cinta itu sendiri.

Cinta, memiliki rasa dan interpretasi berbeda pada setiap manusia. Tentu saja berbeda, karena pengalaman manusia tentang cinta juga berbeda. Namun di dalam perbedaan itu, cinta akan dirasa sama ketika pertama datang, menyenangkan, menyejukkan dan membahagiakan. Sampai sini masih setujukan? hehehehe...

Cinta begitu terasa membahagiakan karena pengaruh dari perpaduan reaksi kimia dan hormon-hormon dalam tiap sel tubuh menghasilkan reaksi dan perasaan yang disebut cinta. Kalo kata Dr. Domeena Renshaw dari Universitas Loyola, ada yang namanya peningkatan alirah darah menuju kepala dan berfokus di otak. Hal ini tidak jauh berbeda dengan orang yang sedang kecanduan. Tapi semua itu adalah hasil penelitian, saya lebih percaya kalau cinta itu adalah anugerah sekaligus kutukan. Punya pengaruh yang berbeda sesuai dengan karakter orang yang mengalaminya.

Mari kita masuk ke inti pembicaraan. Perasaan cinta yang begitu mendalam mampu membuat orang mabuk kepayang, melayang-layang sampai lupa daratan. Perasaan ini adalah murni dari respon perasaan yang tidak lain didalangi oleh hati. Dan hal ini kita sebut dengan penyikapan cinta. catat baik-baik. Hati mengambil peran yang besar dalam pengambilan keputusan. Ini sangat menyenangkan sekali, karena membuat kita seperti terhipnotis. Namun celakanya, hal ini menjadi permasalahan besar ketika si pecandu cinta mengalami putus cinta. Nah lo,,,

Dalam situasi seperti ini, seseorang akan galau stadium empat, mengalami sedikit sesak napas, sampai pada peningkatan kadar emosi diri untuk berteriak bahkan memukul orang. Ini adalah fase yang pertama. Respon singkat dari hati untuk menanggapi situasi seperti ini. Fase kedua adalah orang mengalami halusinasi dan bayang-bayang yang punya imbuhan "seandainya". Seandainya apa yang kulakukan kayak gini, seandainya aku gak ngelakuin itu, seandainya aku bisa... dan banyak pengandaian yang lain. Dalam situasi ini, seorang pecandu berat cinta akan mengalami depresi dengan tanda-tanda bengong, skip, sampai pada penyakit lupa. Lupa makan, lupa mandi, dan lupa sebagainya. Alhasil, semua terabaikan dan orang ini lebih memilih untuk menikmati penderitaannya (penderitaan kok dinikmati). Fase ketiga yang punya masa sangat lama adalah keadaan Stuck dan tidak bisa Move on. Hayo lo,, sering kan begini... Orang ini akan mengambil asumsi bahwa mantannya itu adalah orang nomor satu yang punya paling segalanya. Dalam fase ini, seseorang biasanya cenderung membubuhi bumbu penyedap galau, semisal lagu-lagu galau, film-film drama galau, serta bumbu penyedap lainnya, sambil terus meratapi kekasih hatinya yang sudah pergi dan menghilang. Dalam fase ini pula, seseorang bila ditanya kenapa dia tidak Move on, maka ia akan menjawab: "Dia itu sangat spesial, susah buat gak mikirin apalagi ngelupain. Kayaknya gua akan terus nunggu dia. Siapa tahu gua bisa balik lagi sama dia". Kalau seseorang sudah mulai berkata demikian atau minimal nyerempet-nyerempet intinya, maka fix orang ini Stuck dan akan menikmati paket combonya, galau tak berujung yang pada akhirnya membuat menderita tiada akhir.

Kalau kita uraikan satu-satu dan mulai memasukan unsur logika, bukan hanya hati, maka sebenarnya seseorang itu akan sia-sia menunggu. Dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tau kenapa?? Karena orang yang lu tunggu bukan berada di belakang lu, dia udah ada jauh di depan lu. Maka kalo lu nunggu, lu akan jadi semakin jauh dari itu orang. Harusnya lu gak nunggu, lu coba pake otak dan badan lu. Tanya dulu hati lu maunya apa, mau lanjut sama orang itu apa pindah ke lain hati. Lalu selanjutnya lu pake otak lu buat bilang ke badan lu supaya lu lari biar bisa ngejar orang yang ditunjuk sama hati lu. Bodo amat mau diterima apa ditolak mentah-mentah, tapi seenggaknya lu udah bisa Move on. Ketika lu udah ada di fase ini, maka ini adalah sebuah titik cerah.

Suasana hati begitu mempengaruhi pengambilan keputusan kita. Bila ada istilah cinta itu buta, agaknya saya kurang setuju, karena akan lebih tepat kalo dibilang cinta itu tolol. Kita gak perlu pake otak buat merasakan cinta. So, apa kalian sudah bergerak dari perhentian dan penantian panjang kalian? Trauma kak,,, hahahaha... Alesan klasik yang jadi bagian dari sekutu penguasa hati yang mutlak.

Teman saya pernah bilang kalau galau itu sebuah kepastian. Mau orang itu senang atau sedih, galau itu pasti datang. Tapi yang perlu diingat adalah Menderita itu pilihan. hehehe.. semoga bermanfaat ya...

Senin, 24 September 2012

Tour de Bali


Jadi begini ya comrade, untuk membuat wacana kita menjadi lebih serius, maka dari itu saya buatkan estimasi dan budgeting soal perjalanan kita:

No
Item
Keterangan
Jumlah Dalam RP
1
Bensin (Premium)

@ Rp 4.500,-/ltr
Jakarta – Jogja: +- 680 km = +- 20 liter
Jogja – Bali: +- 830 km = +- 24 liter
44 liter x 2 (pp) = 88 liter x 4.500
396.000
2
Makan PP
Diperkirakan perjalanan 35 jam + itirahat 24 jam = 59 jam = +- 2.5 hari

Diasumsikan 9 x makan @ 15.000,- = Rp 135.000,- x 2 (pp)
270.000
3
Penginapan Bali
Rp 100.000/orang/hari
Rencana menginap di Bali 2 hari
200.000
4
Wisata + Parkir
Asumsi
200.000
5
Jajan
Asumsi
200.000
6
BBM selama di Bali
Asumsi
50.000
7
Tiket ferry
Pergi – Pulang
30.000
8
Biaya Lain-Lain
Asumsi
150.000

TOTAL : Rp 1.496.000,-
Biaya ini masih kasar, semisal 1 orang 1 motor. Tapi kalo Boncengan dan kita gak banyak jajan, maka yang terjadi dengan biaya adalah Rp 1.000.000,-

Ini buat ancer-ancer biaya aja nih, pengeluaran bisa diatur sesuai dengan Situasi dan Kondisi di lapangan. Maka dari itu, AYO TOURING KE BALI....!!!!

Pengikut