Ketika manusia dipercaya terlahir dari maha karya sang pencipta:
Beringas, ganas, serakah, dan sifat buruk lainnya.
Kesan pertama yang bernuansa negatif. Merupakan cara pandang umum dari manusia. Mampu melihat titik hitam yang kecil di atas kanvas, tanpa mau menyadari betapa dominannya warna putih dari kanvas itu.
Lama aku mencari kesadaran hidup sebagai manusia. Maih dalam proses pembelajaran tanpa henti hentinya berkoreksi sambil bersyukur atas udara yang masih boleh kuhirup setiap detik. Bersyukur atas hangatnya matahari yang masih bisa kunikmati di hari pagi.
Manusia terlahir memang sebagai makhluk yang tidak sempurna, oleh sebab itu ia dilahirkan, oleh sebab itu manusia harus menjalani hidup di dunia untuk mencapai kesempurnaan jiwa. Jiwa-jiwa sempurna tidak akan pernah terlahir sebagai manusia, bahkan seorang Mesias pun sampai berpeluh darah di Getsemani ketika hendak berjumpa dengan maut.
Aku tak pernah sampai pada pemahaman misteri ilahi. misteri hidup. misteri kematian. akan eksistensi Tuhan. akan Iblis. akan hidup kekal. Namun ada satu hal yang bisa kupegang dalam hidup. Bahwa manusia memang harusnya melukis di atas kanvas itu agar tidak begitu kosong polos. Menjalani proses hidup dengan sekian banyak kekeliruan yang menjadi pelajaran. Mengalami banyak keterbatasan yang pada akhirnya bisa didobrak. Melukiskan itu semua di atas kanvas jiwa, menjadi mahakarya yang indah. Lukisan hidup yang sempurna.
Banyak bahasa yang tidak bisa terucap, banyak pikiran yang tidak bisa terluap, banyak gagasan yang harus berhenti dan stag, Namun selalu ada ruang untuk goresan dalam tulisan yang kadang keluar serentak....
Tampilkan postingan dengan label Pojok Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pojok Sastra. Tampilkan semua postingan
Rabu, 06 Maret 2013
Sabtu, 17 November 2012
Ada Ribuan Mayat
Hari ini, 17 November 2012. Aku melihat ribuan mayat berkeliaran dengan segala keblingsatannya.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku memulai hari dengan kemalasan. Malas untuk kembali ke dalam realita yang tak pernah masuk ke dalam logika. Malas untuk kembali memakai topeng agar tak dikenali oleh ribuan mayat lapar mencari mangsa. Malas untuk menyamar menjadi satu dari ribuan mereka. Malas untuk menangisi segala tetes air mata yang kusembunyikan di sudut kelopak mata.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku membuka pintu untuk kembali dalam hari yang tak pernah berakhir. Tak pernah berakhir sejak pertama dimulai. Tak pernah berakhir ketika menyusup dalam kenangan, bahwa yang akan terjadi nanti, adalah hari-hari kemarin. Berperang sendiri dan mengangkat pedang untuk berjuang, yang kemudian akan kembali ditinggalkan dan ditusuk dari belakang.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku membelah kerumunan mayat tanpa hati dan akal. Sebab otak dan hati mereka telah lama menjadi saksi kanibalisme yang mereka lakuka pada dirinya sendiri. Membelah ribuan mayat tanpa perasaan, yang mencoba menyamar menjadi manusia.
Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, aku menyaksikan betapa manusia bisa masuk begitu dalam ke sudut jahat hati mereka. Meracuni setiap inchi raga mereka. Menyaksikan betapa mereka sudah tidak merindukan betapa hangatnya keakraban.
Di pinggir jalan berdiri remaja separuh mayat yang sedang kebingungan dengan penentuan sikapnya. Menentukan akan menjalani sebagai apa? Aku menyaksikan semua itu.
Mata lebih sering terpejam ketika apa yang kulihat tidak pernah sama sekali melintas dibayangan. Mata terpejam, menjadi saksi betapa hidup lebih terasa mati dengan ribuan mayat yang mengelilingi.
Hari ini, 17 November 2012. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku kenali. Orang yang menopangku disaat sulit dan orang yang menikamku ketika aku jaya. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku cintai. Orang yang mau membagi sepenggal kisah hidupnya, untuk kemudian meracuniku dengan segala pujian. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku kagumi. Orang yang menjadi motivator dan mentor hidupku, yang untuk kemudian memenjarakanku dalam kebebasan.
Hari ini, 17 November 2012. Mereka masih membicarakan yang lain, yang tidak lain adalah diri mereka sendiri.
Hari ini, 17 November 2012. Aku masih menjadi saksi di tengah para mayat dan keblingsatan.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku memulai hari dengan kemalasan. Malas untuk kembali ke dalam realita yang tak pernah masuk ke dalam logika. Malas untuk kembali memakai topeng agar tak dikenali oleh ribuan mayat lapar mencari mangsa. Malas untuk menyamar menjadi satu dari ribuan mereka. Malas untuk menangisi segala tetes air mata yang kusembunyikan di sudut kelopak mata.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku membuka pintu untuk kembali dalam hari yang tak pernah berakhir. Tak pernah berakhir sejak pertama dimulai. Tak pernah berakhir ketika menyusup dalam kenangan, bahwa yang akan terjadi nanti, adalah hari-hari kemarin. Berperang sendiri dan mengangkat pedang untuk berjuang, yang kemudian akan kembali ditinggalkan dan ditusuk dari belakang.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku membelah kerumunan mayat tanpa hati dan akal. Sebab otak dan hati mereka telah lama menjadi saksi kanibalisme yang mereka lakuka pada dirinya sendiri. Membelah ribuan mayat tanpa perasaan, yang mencoba menyamar menjadi manusia.
Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, aku menyaksikan betapa manusia bisa masuk begitu dalam ke sudut jahat hati mereka. Meracuni setiap inchi raga mereka. Menyaksikan betapa mereka sudah tidak merindukan betapa hangatnya keakraban.
Di pinggir jalan berdiri remaja separuh mayat yang sedang kebingungan dengan penentuan sikapnya. Menentukan akan menjalani sebagai apa? Aku menyaksikan semua itu.
Mata lebih sering terpejam ketika apa yang kulihat tidak pernah sama sekali melintas dibayangan. Mata terpejam, menjadi saksi betapa hidup lebih terasa mati dengan ribuan mayat yang mengelilingi.
Hari ini, 17 November 2012. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku kenali. Orang yang menopangku disaat sulit dan orang yang menikamku ketika aku jaya. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku cintai. Orang yang mau membagi sepenggal kisah hidupnya, untuk kemudian meracuniku dengan segala pujian. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku kagumi. Orang yang menjadi motivator dan mentor hidupku, yang untuk kemudian memenjarakanku dalam kebebasan.
Hari ini, 17 November 2012. Mereka masih membicarakan yang lain, yang tidak lain adalah diri mereka sendiri.
Hari ini, 17 November 2012. Aku masih menjadi saksi di tengah para mayat dan keblingsatan.
Selasa, 13 November 2012
IKRAR
Ada kala ketika aku akan terhanyut jauh dalam buaian zona nyaman kita. Sampai akhirnya pada satu titik, aku melihat hal di luar zona itu.
Banyak orang yang berpikir untuk apa memperjuangkan nasib orang lain, sementara nasib kita sudah sedemikian baik. Banyak orang berpikir bahwa kemerosotan ekonomi berakar pada situasi dan permasalahan pribadi. Banyak orang berpikir bahwa kemapanan ekonomi merupakan sebuah pencapaian dan pembuktian diri. Banyak orang merasa hebat dengan popularitas dan ketenaran diri dari talenta dan sejumlah prestasi.
Semua itu berjalan lurus tanpa memberi ruang untuk menoleh bahkan melihat ke belakang. Situasi yang membuat kita begitu enggan untuk berusaha keluar dan menghadapi realitas sebenarnya.
Namun di sini, aku merasa semua hal yang banyak orang pikir itu merupakan kesalahan besar yang mendasar dan prinsipil. Ketika aku dihantui oleh mimpi agar orang diluar sana bisa menikmati nasi tiga kali sehari. Ketika aku melihat kemerosotan merupakan sebuah desain besar yang sengaja diciptakan untuk mengklasifikasi manusia demi keuntungan pribadi. Ketika aku merasa kemapanan ekonomi menjadi sia-sia saat dinikmati di atas jutaan penderitaan. Ketika aku merasa bahwa popularitas dan talenta merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus kuabdikan pada sesama.
Aku di sini sebagai manusia.
Orang lain di luar sanapun manusia, bukan komoditas.
Ketika perasaan itu hinggap di benak dan butuh proses panjang untuk meresapi sebuah pertanyaan besar yang belum bisa kujawab: "Untuk Apa Aku Dilahirkan?"
Kadang rasa lelah datang memenjarakan raga ini. Namun saat itu juga belenggu itu lepas dengan senyum kecil dari buah tangan ini. Kadang raga ini sakit, namun sesegera itu sembuh dengan rangkulan teman seperjuanganku. Kadang raga ini bosan dengan rutinitas konstan, namun semangat segera datang dengan membawa serta sedikit hasil dari apa yang telah kuperjuangkan.
Pada akhirnya aku sadar bahwa aku dilahirkan sebagai pejuang. Lahir dari rahim wanita yang berjuang memerdekakan harapan. Diberi ruang untuk mengalirnya darah pejuang yang menggerakan tubuh ini dengan spontan.
Ditatar dalam potongan mimpi yang terasa absurd, namun kembali teringat ketika hadir dalam perbuatan.
"Aku tidak akan pernah menikmati kemewahanku sebelum aku bisa menghadirkan itu kepada setiap orang sejauh mataku memandang. Kemewahan itu tidak akan pernah bisa membuai dan menghanyutkanku."
Ini Ikrarku...
Banyak orang yang berpikir untuk apa memperjuangkan nasib orang lain, sementara nasib kita sudah sedemikian baik. Banyak orang berpikir bahwa kemerosotan ekonomi berakar pada situasi dan permasalahan pribadi. Banyak orang berpikir bahwa kemapanan ekonomi merupakan sebuah pencapaian dan pembuktian diri. Banyak orang merasa hebat dengan popularitas dan ketenaran diri dari talenta dan sejumlah prestasi.
Semua itu berjalan lurus tanpa memberi ruang untuk menoleh bahkan melihat ke belakang. Situasi yang membuat kita begitu enggan untuk berusaha keluar dan menghadapi realitas sebenarnya.
Namun di sini, aku merasa semua hal yang banyak orang pikir itu merupakan kesalahan besar yang mendasar dan prinsipil. Ketika aku dihantui oleh mimpi agar orang diluar sana bisa menikmati nasi tiga kali sehari. Ketika aku melihat kemerosotan merupakan sebuah desain besar yang sengaja diciptakan untuk mengklasifikasi manusia demi keuntungan pribadi. Ketika aku merasa kemapanan ekonomi menjadi sia-sia saat dinikmati di atas jutaan penderitaan. Ketika aku merasa bahwa popularitas dan talenta merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus kuabdikan pada sesama.
Aku di sini sebagai manusia.
Orang lain di luar sanapun manusia, bukan komoditas.
Ketika perasaan itu hinggap di benak dan butuh proses panjang untuk meresapi sebuah pertanyaan besar yang belum bisa kujawab: "Untuk Apa Aku Dilahirkan?"
Kadang rasa lelah datang memenjarakan raga ini. Namun saat itu juga belenggu itu lepas dengan senyum kecil dari buah tangan ini. Kadang raga ini sakit, namun sesegera itu sembuh dengan rangkulan teman seperjuanganku. Kadang raga ini bosan dengan rutinitas konstan, namun semangat segera datang dengan membawa serta sedikit hasil dari apa yang telah kuperjuangkan.
Pada akhirnya aku sadar bahwa aku dilahirkan sebagai pejuang. Lahir dari rahim wanita yang berjuang memerdekakan harapan. Diberi ruang untuk mengalirnya darah pejuang yang menggerakan tubuh ini dengan spontan.
Ditatar dalam potongan mimpi yang terasa absurd, namun kembali teringat ketika hadir dalam perbuatan.
"Aku tidak akan pernah menikmati kemewahanku sebelum aku bisa menghadirkan itu kepada setiap orang sejauh mataku memandang. Kemewahan itu tidak akan pernah bisa membuai dan menghanyutkanku."
Ini Ikrarku...
Senin, 08 Oktober 2012
Sajak Untuk Sahabat
Terkadang manusia harus larut dalam relaksasi alkohol untuk meraih sebuah utopi soal indahnya dunia di luar yang sedang hadapi. Terkadang kenyataan itu memang terasa sangat pahit. Menguras semua perhatian dan pikiran untuk berkutat dalam angan yang tidak bisa terbayar.
Kenyataan memang bukan untuk diendapkan dalam pikir dan angan. Kenyataan akan terasa lebih sensasional ketika kita mencumbunya. Mencumbu dengan mesra untuk menikmati betapa pedihnya ia. Mencumbu untuk dengan mesra untuk merasakan betapa ada sisi yang jauh tak terpikir dalam angan.
Luapan emosi yang dibawa butir buih alkohol mungkin bisa mengantarkan kita melayang jauh pada kenyataan. Namun seperti sifat buih, ia akan hilang dan sirna begitu saja. Kembali membawa kita dalam kenyataan.
Tidak ada yang menyalahkan manusia yang melarikan diri dalam angan. Namun ia akan menjadi ironi ketika kita merasa nyaman dan tidak ingin kembali pada kenyataan.
Aku akan selalu ada menemanimu duhai sahabatku.
Aku akan ikut larut bersamamu dalam suasana suka, suasana lara.
Kembali membawamu dan menemanimu dalam kenyataan.
Senin, 24 September 2012
Minggu Siang Di Kwitang
Ketika aku datang, dia memberikan senyum yang menjadi bagian kecil dari ingatan yang selalu dikenang....
Hari itu memang ada dalam rencanaku untuk bepergian mencari beberapa benda antik. Untuk itu aku datang ke kwitang, karna benda antik yang kumaksud adalah buku-buku tua yang berhasil lolos dari kobaran api Orde Baru. Aku ingin mencari beberapa referensi untuk penelitianku, disamping, ya untuk sekadar mencari suasana baru.
Siang itu matahari tidak seperti biasanya. Nampaknya matahari pun sudah lelah membakar kota Jakarta. Suasana yang tidak biasa, namun sangat menyenangkan.
"Nah, ini dia"
"Baca Tan juga? Jarang ada orang jaman sekarang yang cari itu. Lebih senang dikubur dan dilupakan dalam arus sejarah"
Wanita itu tiba-tiba saja mengomentari buku yang kupegang.
"Saya ambi ini be", katanya kepada pak tua sang kolektor buku.
"Iya neng, bagus itu. Saya baca sampai empat kali gak bosan"
"Hahahaha... Babe bisa aja."
"Ye, neng gak percaya. coba aja baca, pasti nyandu."
"Yasudah, ini pak. Harganya masih sama kan kayak biasanya?"
"Iya neng, makasih."
Perbincangan sentimentil yang semakin membulatkan pertanyaan dalam kepadaku. Sekilas tidak ada yang istimewa darinya. Ya, mungkin karena secara fisik, dia bukan tipeku. Daya tariknya justru ada pada suara yang keluar dari mulutnya. Dan yang paling berkesan adalah senyumnya sebagai menu penutup sapaan hangat yang akrab.
"Be, yang tadi itu siapa?"
"Gak tau juga dek, dia sering dateng sih beli beberapa buku di mari, tapi babe juga gak tau namenye. Ade ape?"
"Gak papa Be, penasaran aja."
Suasana Jakarta siang itu semakin terasa tidak bisa. matahari yang bersahabat, ditambah wanita misterius yang mengambil bagian singkat di siang itu, yang sekaligus menjadi aktor utama untuk siang yang tidak biasa di kwitang. Senyum yang menjadi bagian kecil dari ingatan yang selalu dikenang....
Hari itu memang ada dalam rencanaku untuk bepergian mencari beberapa benda antik. Untuk itu aku datang ke kwitang, karna benda antik yang kumaksud adalah buku-buku tua yang berhasil lolos dari kobaran api Orde Baru. Aku ingin mencari beberapa referensi untuk penelitianku, disamping, ya untuk sekadar mencari suasana baru.
Siang itu matahari tidak seperti biasanya. Nampaknya matahari pun sudah lelah membakar kota Jakarta. Suasana yang tidak biasa, namun sangat menyenangkan.
"Nah, ini dia"
"Baca Tan juga? Jarang ada orang jaman sekarang yang cari itu. Lebih senang dikubur dan dilupakan dalam arus sejarah"
Wanita itu tiba-tiba saja mengomentari buku yang kupegang.
"Saya ambi ini be", katanya kepada pak tua sang kolektor buku.
"Iya neng, bagus itu. Saya baca sampai empat kali gak bosan"
"Hahahaha... Babe bisa aja."
"Ye, neng gak percaya. coba aja baca, pasti nyandu."
"Yasudah, ini pak. Harganya masih sama kan kayak biasanya?"
"Iya neng, makasih."
Perbincangan sentimentil yang semakin membulatkan pertanyaan dalam kepadaku. Sekilas tidak ada yang istimewa darinya. Ya, mungkin karena secara fisik, dia bukan tipeku. Daya tariknya justru ada pada suara yang keluar dari mulutnya. Dan yang paling berkesan adalah senyumnya sebagai menu penutup sapaan hangat yang akrab.
"Be, yang tadi itu siapa?"
"Gak tau juga dek, dia sering dateng sih beli beberapa buku di mari, tapi babe juga gak tau namenye. Ade ape?"
"Gak papa Be, penasaran aja."
Suasana Jakarta siang itu semakin terasa tidak bisa. matahari yang bersahabat, ditambah wanita misterius yang mengambil bagian singkat di siang itu, yang sekaligus menjadi aktor utama untuk siang yang tidak biasa di kwitang. Senyum yang menjadi bagian kecil dari ingatan yang selalu dikenang....
Langganan:
Postingan (Atom)