Senin, 24 September 2012

Minggu Siang Di Kwitang

Ketika aku datang, dia memberikan senyum yang menjadi bagian kecil dari ingatan yang selalu dikenang....

Hari itu memang ada dalam rencanaku untuk bepergian mencari beberapa benda antik. Untuk itu aku datang ke kwitang, karna benda antik yang kumaksud adalah buku-buku tua yang berhasil lolos dari kobaran api Orde Baru. Aku ingin mencari beberapa referensi untuk penelitianku, disamping, ya untuk sekadar mencari suasana baru.

Siang itu matahari tidak seperti biasanya. Nampaknya matahari pun sudah lelah membakar kota Jakarta. Suasana yang tidak biasa, namun sangat menyenangkan.

"Nah, ini dia"
"Baca Tan juga? Jarang ada orang jaman sekarang yang cari itu. Lebih senang dikubur dan dilupakan dalam arus sejarah"

Wanita itu tiba-tiba saja mengomentari buku yang kupegang.

"Saya ambi ini be", katanya kepada pak tua sang kolektor buku.
"Iya neng, bagus itu. Saya baca sampai empat kali gak bosan"
"Hahahaha... Babe bisa aja."
"Ye, neng gak percaya. coba aja baca, pasti nyandu."
"Yasudah, ini pak. Harganya masih sama kan kayak biasanya?"
"Iya neng, makasih."

Perbincangan sentimentil yang semakin membulatkan pertanyaan dalam kepadaku. Sekilas tidak ada yang istimewa darinya. Ya, mungkin karena secara fisik, dia bukan tipeku. Daya tariknya justru ada pada suara yang keluar dari mulutnya. Dan yang paling berkesan adalah senyumnya sebagai menu penutup sapaan hangat yang akrab.

"Be, yang tadi itu siapa?"
"Gak tau juga dek, dia sering dateng sih beli beberapa buku di mari, tapi babe juga gak tau namenye. Ade ape?"
"Gak papa Be, penasaran aja."

Suasana Jakarta siang itu semakin terasa tidak bisa. matahari yang bersahabat, ditambah wanita misterius yang mengambil bagian singkat di siang itu, yang sekaligus menjadi aktor utama untuk siang yang tidak biasa di kwitang. Senyum yang menjadi bagian kecil dari ingatan yang selalu dikenang....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut