Bagi saya, ada beberapa hal klasik yang tidak akan pernah habis diperbincangkan, Tuhan, Seks, Politik, dan Budaya. Empat topik ini selalu saja membawa wawasan baru yang diwakili oleh tiap individu yang tentunya juga berbeda. Namun dalam hal ini saya ingin berbicara mengenai topik Budaya. Dalam pembahasan ini, Budaya juga mewakili lingkungan serta latar belakang ras.
Masalah klasik yang sering diutarakan adalah stereotipe untuk setiap etnis. Pemberian lebel tertentu kepada etnis memang kadang bisa memberikan pencerahan untuk identifikasi, namun menjadi sebuah bumerang bila hal itu dimaknai kaku pada tiap individu. Hal ini mungkin sangat erat kaitannya dengan konsepsi Tuhan dan kepercayaan yang hidup dalam diri seseorang.
Buat saya, Latar belakang budaya ini merupakan sebuah kutukan atau orang berTuhan bilang adalah Takdir. maka dalam hal ini Takdir buat saya hanya meliputi dua hal saja, mengenai kelahiran dan mengenai kematian. Dua hal yang tidak bisa kita pilih dan pada akhirnya hanya menjadi sebuah kutukan yang pasti kita alami. Dan karena dua hal ini bukanlah sebuah pilihan, maka akan sangat tidak adil bila dalam keseharian kita mempermasalahkan hal ini. Contoh, kita sering terjebak dalam dilematis hubungan yang mewakili permasalahan perbedaan ras. Dalam keseharian saya banyak menemui tipikal orang yang buat saya begitu radikal mengutuk kutukan orang mengenai latar belakang ras. Begitu kental terasa ketika saya menjalin hubungan dengan wanita yang kebetulan memiliki perbedaan latar belakang ini.
Ketika saya telah sampai pada titik jengah dengan stereotipe yang ada di masyarakat, saya berkomitmen bahwa pendamping hidup saya kelak adalah wanita yang memiliki latar belakang ras yang berbeda dengan saya. Pembuktian untuk diri sendiri sebagai bentuk kepuasan diri bahwa saya bisa tetap bahagia ketia memilih untuk keluar dari kebenaran umum.
Berkaitan dengan hal ini, ras Tionghoa dan Pribumi memiliki jurang pemisah yang dibelah oleh stereotpie tadi. Anggapan orang pribumi, bahwa orang Tionghoa adalah ras yang serakah, pelit, dan suka mengintimidasi dengan kekuatan ekonomi. Anggapan orang tionghoa, bahwa orang pribumi adalah orang-orang yang tidak punya masa depan. orang-orang malas yang tidak mau berkembang dan suka menipu dengan mewakili kepribumian yang dimilikinya.
Buat saya situasi ini sangat gila, dari sudut pandang manapun tidak ada pembenaran yang bisa diterima dengan anggapan-anggapan semacam ini. Bahwa kita dilahirkan itu merupaka kutukan sekaligus anugerah yang tidak satu manusiapun bisa memilih sebagai apa dia dilahirkan. Sangatlah kejam diri kita bila di dalam otak kita masih terbesit anggapan seperti ini. Bila saya punya masalah dengan latar belakang Agama yang saya anut, yang kebetulan berbeda dengan pasangan saya, hal itu bisa diselesaikan dengan sebuah pengkhianatan untuk berpindah agama. Namun ketika permasalahan itu justru muncul pada perbedaan ras, maka tidak akan ada penyelesaiannya, karena tidak mungkin seorang Manado bisa menjadi seorang Ambon.
Dalam perjalanan pembuktian ini memang terasa sulit, namun saya percaya dengan prinsip yang saya pegang bahwa tidak ada yang salah dengan perbedaan ras ini. Saya percaya bahwa Mozaik itu indah, walau berbeda, namun bisa indah dipandang. hahahaha... Kadang saya tertawa dalam kebingungan semacam ini. Ada apa dengan pemahaman budaya yang ada di Indonesia. Kepentingan politik masa lalu yang mengkotak-kotakkan kita lantas berevolusi menjadi stereotipe yang kita amini.
Saya punya latar belakang Jawa, saya bangga dengan itu. Tidak masalah. Bagaimana kamu??
di dunia ini, tidak ada cina, tidak ada jawa,tidak ada kristen, tidak ada islam atau etnik, agama atau ras lainnya. yang ada adalah; apakah anda orang baik ataukah anda orang jahat.
BalasHapus