Mungkin coretan kali ini lebih pas dibilang sebagai refleksi atau bahasa anak jaman sekarang bilang curcol. Bagi yang mengalami adanya kesamaan peran, tokoh, cerita, bahkan detail nama, ini bukan sebuah kebetulan, namun memang benar-benar ada dan tersaji dalam lembaran kisah perjalanan hidup yang saya alami.
Mungkin agak sedikik membosankan kalo misalnya cerita dari pertama nangis pas lahir, jadi skip aja deh ceritanya sampe kelas tiga SMP. Seperti tradisi yang sudah ada dalam keluarga saya, setiap anak yang menjadi anak dari Alm. Papa dan Mama, tanpa terkecuali, harus belajar mandiri dengan hidup merantau. Kedua saudara saya telah mengalami fase itu, dan kala itu, tibalah giliran saya.
"Mau ngapain kamu habis lulus nanti". Mungkin ini ada dalam skrip orang tua saya untuk membuka pembicaraan tentang rencana hidup saya kedepan. "Aku mau sekolah di Jogja, di De Britto". Aku sudah cukup mengetahui dan mencari SMA apa yang cocok dengan untuk mengembangkan karakter saya. Saya cukup kagum dengan SMA ini, SMA yang lahir dan tumbuh di tangan Yesuit. Cukup terkenal dalam konteks nasional, terutama untuk mereka yang tidak mainsetream, dan menyukai pendidikan alternatif. Pendidikan yang bukan sekadar menggembleng sisi kognitif seorang manusia.
Kala itu, pilihan saya jatuh pada SMA Kolese De Britto karena saya ingin merasakan pendidikan bebas. Sebab ya, memang di De Britto, siswanya boleh tidak memakai seragam. Boleh memakai sepatu sandal, dan boleh memelihara rambut sampai panjang semampai. "Asik nih kayaknya". Pikiran itu yang kira-kira hinggap dalam benak saya. Bosan dengan pendidikan yang kaku dengan aturan baku yang kadang tak berdasar, maka, De Britto lah pilihannya.
Orang tua saya tergolong sangat demokratis untuk memberikan pilihan kepada kami menentukan masa depan kami masing-masing. Mungkin mereka malas memikirkan anak-anaknya, namun sebenarnya saya tahu, bahwa bukan itu alasannya. Mereka hidup dan berkembang juga karena merantau. Mungkin pengalaman dua insan yang sama, yang mengalami banyak hal positif, maka mereka terapkan kepada anak-anak mereka ketika mereka menjadi orang tua.
Tidak seperti dua kakak saya yang digembleng habis-habisan oleh Alm. Papa, saya mendapatkan perlakuan berbeda yang bisa dibilang "Istimewa". Kedua kakak saya harus membawa berpuluh-puluh kilo Vanili mentah untuk dijual ke magelang, yang uang hasil penjualannya akan mereka pakai sebagai biaya masuk di sekolah yang mereka pilih. Saya, cukup duduk manis di dalam kabin pesawat, menunggu 1 jam 30 menit di udara, dan tiba-tiba sampai di bandara Adisucipto Yogyakarta.
Hal ini memang improvisasi oleh orang tua saya. Papa saya sudah terlalu tua untuk bisa menerapkan hal yang sama sebelumnya kepada saya. Papa malah tidak ikut mengantar, dia tetap di rumah dan saya diantar oleh Mama saya. Sangat istimewa. Kedua kakak saya bilang saya adalah anak yang paling dimanja oleh orang tua kami. Mungkin memang begitu adanya, mengingat saya seorang bungsu yang kala kecil sakit-sakitan. Mungkin mereka terlalu terbiasa memberikan perlakuan lebih dan istimewa kepada saya. Saya lebih percaya mereka mengambil pilihan demikian karena memang keadaan menuntut demikian. keadaan yang tidak pernah bisa kami pahami sebagai seorang anak. Keadaan yang mungkin baru bisa kami pahami ketika kami sendiri mengalaminya dengan anak-anak kami kelak.
....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar