Senin, 01 Oktober 2012

Sekilas Tentangku - PART II

Sampai pada akhirnya saya masuk di De Britto. Suasana baru, Yogyakarta. Membawa berjuta harapan dan asa untuk mendapatkan pembelajaran yang lebih baik. Pendidikan bebas yang ditawarkan mungkin membuat saya agak kaget. Kami bebas untu memilih dan menentukan pilihan yang akan kami ambil, yang dibarengi kesadaran akan batasan dan konsekuensi yang kami terima. Namun sayang, saya belum sempat mencerna itu lebih baik.

Kebebasan yang saya dapat merupakan ujian berat yang menghanyutkan. Situasi itu memberikan saya peluang untuk melakukan banyak hal yang saya inginkan. Menumbuhkan minat di kelompok pecinta alam. Menggandrungi olahraga panjat tebing, dan kegiatan yang lain. Terjun dalam organisasi Presidium. Banyak hal baru dan menantang yang saya ambil. Sampai pada suatu ketika ketika kenaikan kelas, saya tidak berhasil masuk ke jurusan yang saya inginkan. Kurang dua poin karena tidak mengikuti ulangan harian, membuat saya harus rela menerima masuk ke jurusan BAHASA.

"Jurusan apa ini?". Mungkin kalau tidak salah ingat, itulah frasa yang terpikir dalam otak kala itu. Baiklah, ini konsekuensi yang harus saya terima atas pilihan yang saya ambil sebelumnya. Tidak mudah memang. Hati saya mulai ikhlas ketika saya bisa mengenal dekat teman sekelas yang kala itu hanya berjumlah 10 orang. Jo, Maundri, C max, Toga, Rudy, Sudwi, Theo, Felix, dan Brandt. 10 penghuni kelas XI Bahasa.

Mungkin karena jumlah yang sedikit ini membuat kami lebih bisa dekat dan akrab satu sama lain. Kami berproses dan bermain bersama. 10 manusia yang memiliki karakter yang berbeda satu sama lain. 10 manusia yang memiliki Dragon Ball. 5 orang dengan prestasi terendah. Saya, Toga, Brandt, Maundri, dan Sudwi. Tidak jelas kapan ada istilah ini. Namun dragon ball inilah yang membuat suasana kelas menjadi ramai, karena isinya ngelawak dan tertawa.

Kami berproses dan melewati banyak hal. Sedikit demi sedikit rasa sesal itu hilang. Bahasa adalah keluarga baru saya. Mau tidak mau, suka tidak suka, saya ada di sini. Dengan dukungan dan semangat bersama, maka bahasa menjadi kelas yang solid dan menyenangkan.

Di kelas ini, saya belajar mengenai kebersamaan dan persaudaraan. Kami mencoba untuk berkembang bersama agar memperjuangkan dan membuktikan bahwa kelas bahasa bukan kelas buangan. Kami bisa memberikan yang terbaik di sini.

....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut