"Kadang manusia itu harus terjebak dalam sepi untuk bisa meresapi betapa nikmatnya kebersamaan,,,"
Kira-kira itu adalah kalimat penyejuk untuk menemani saat-saat sendiri. Sifat dasar yang selalu bertanya dan selalu ingin mencari jawab atas kegelisahan, atau mungkin sebagai pelarian dalam kejenuhan. Mungkin kita terlalu nyaman berada di tengah keramaian dan bisa begitu akrab dengan orang-orang di sekitar kita. Namun kala sendiri, kita menjadi rikuh pada diri sendiri.
Alih-alih mencari pembenaran dari sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial, kita terlalu dibenamkan dalam nyamannya kebersamaan. Seketika itu juga kita menjadi terlena dalam hasrat suka cita. Hasrat diri untuk ingin dimengerti, hasrat diri dalam popularitas dan eksistensi. Namun kala sendiri, kita menjadi seperti terasing, bahkan dengan diri sendiri menjadi saat-saat yang garing.
Kala sendiri, kita bukanlah apa-apa. Ironis. Kita bisa sebegitu akrab dengan pribadi lain tanpa bisa dekat dan mengerti diri sendiri. Maka pada saat itu juga, kita tidak akan pernah bisa menjadi diri kita sendiri di depan orang lain. Kita memilih menjadi apa yang ingin orang lihat dari kita.
Namun kita menjadi begitu tersentak ketika kita mempunyai banyak waktu bermesra dengan diri kita sendiri. Banyak hal dalam diri yang baru kita ketahui melalui lamunan dan refleksi masa silam. Waktu untuk sendiri memang kadang begitu sangat dibutuhkan saat kita mulai asing dengan diri kita sendiri. Ketika kita menarik jauh diri kita dari keramaian dan mengambil tempat di dalam sepi, kita baru melihat keindahan dari sebuah kebersamaan. Kita bisa sebegitu akrab bermesra dengan diri kita sambil memandang suka cita kebersamaan dari kejauhan.
Dalam hal ini, tidak ada yang salah dengan Sepi. Karena bila tidak ada sepi, maka kebersamaan akan terasa begitu hambar. Menikmati kesepian akan membuat kita bisa meresapi dan mengecap betapa nikmatnya kebersamaan. Menikmati setiap irama yang hadir dalam hidup membuat kita menjadi lebih bisa bersyukur pada hidup kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar