Tampilkan postingan dengan label Wacana Kritis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wacana Kritis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 September 2014

Bishop of the Poor

Tahun 2008 ada sebuah peristiwa menarik di belahan Amerika Latin yang sempat menjadi topik besar dunia. Fernando Lugo, terpilih menjadi Presiden Paraguay setelah berhasil meraih lebih dari 43% suara. Lugo terkenal sebagai tokoh yang sangat berpihak kepada rakyat miskin dan tertindas. Namun bukan bagian itu yang menarik, sebab golongan "kiri" memang selalu ada di tengah pemerintahan tiran.

Sebelum terpilih menjadi presiden, Fernando Lugo adalah seorang uskup di Paraguay - Pemimpin rohani umat Khatolik. Lugo diusung untuk maju dalam pemilihan umum setelah mendapat keputusan dari Vatikan dengan meninggalkan jabatannya sebagai Uskup. Keputusan ini dipertegas oleh para pendukung Lugo yang mendesak Vatikan dengan memberikan dua pilihan - kehilangan seorang uskup atau kehilangan jutaan umat Khatolik di Paraguay. Ini salah satu hal yang menarik, bagaimana seseorang meninggalkan sebuah jabatan dan mengambil jabatan lain untuk kepentingan yang lebih besar. (1)

Terpilihnya Lugo sebagai presiden merupakan kabar baik untuk rakyat Paraguay, karena Lugo adalah sebuah harapan. Harapan untuk membebaskan rakyat Paraguay dari ketidakadilan. Harapan untuk membawa Paraguay ke dalam pemerintahan yang bersih. Harapan agar rakyat Paraguay bisa mendapat faedah dari kekayaan alam yang terkandung di dalam tanah Paraguay. Harapan, bahwa Lugo akan memimpin Paraguay menuju babak baru yang lebih baik, setelah sejak tahun 1947, Paraguay dikuasai oleh pemerintaan diktator dan korup. Seperti keseimbangan di dalam hidup, maka sebuah Harapan juga memiliki kebalikannya, yaitu kekhawatiran. kekhawatiran yang dirasakan oleh lawan-lawan politiknya, birokrat-birokrat korup, pengusaha hitam, dan kepentingan korporat asing yang menyedot habis kekayaan Paraguay. Kelompok-kelompok ini berdidi berdampingan yang berseberangan dengan kelompok-kelompok yang menaruh harapan.

Kelompok yang mewakili kekhawatiran ini mengakualisasikan perasaan mereka ke dalam sebuah aksi. Assassination. Skenario pembunuhan yang ditujukan terhadap Lugo dibuat. Rencana ini rupanya terdengar sampai ke telinga Lugo dan kelompoknya. Tiga hari sebelum pelantikannya sebagai Presiden, Lugo menyetir sendiri mobilnya untuk melarikan diri dan bersembunyi di sebuah biara. Rencana pembunuhan ini gagal dan Lugo berhasil dilantik menjadi Presiden. Kemenangan pertama untuk "Harapan". (2)

Berbagai manuver politik yang dituangkan di dalam kebijakan yang pro rakyat dibuat oleh Lugo. Rakyat dapat menikmati kekayaan alam yang mereka miliki. Namun kemenangan ini berujung dengan lengsernya Lugo setelah 4 tahun memimpin. Dan kembali, tirani menguasai Paraguay. (3)

Bila kita menarik benang sampai ke belahan bumi sebaliknya dari Paraguay, merupakan hal yang tenah terjadi di negara itu. Ada kesamaan yang terjadi di kedua negara itu. pertama, adalah seorang tokoh yang meninggalkan sebuah jabatan yang sedang diembannya untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar (1). Lalu perjuangan itu menjadi sebuah kemenangan pertama dengan terpilihnya sang tokoh pembawa harapan perubahan sebagai presiden (2). Namun apakah hasil akhir dari pertandingan di negara ini akan berakhir sama dengan Paraguay? Tentunya bukan hasil itu yang diharapkan.

Rasanya penting untuk menengok ke samping dan ke belakang untuk belajar dari apa yang telah terjadi tanpa harus dialami. Paraguay adalah cermin nyata untuk berkaca sebelum siap berpesta.

Salam Harapan dan Perubahan…!!!

Rabu, 06 Maret 2013

Kemiskinan atau Pemiskinan?


Kemsikinan merupakan bahasan panjang yang begitu rumit untuk diselesaikan. Merupakan sebuah akibat yang perlu diketahui terlebih dahulu penyebabnya. Masalah sosial seperti kemiskinan tidak bisa lepas dari hukum sebab-akibat.

Ada dua faktor yang menjadi penyebab kemiskinan. Pertama adalah faktor internal, yang merupakan faktor dari tiap individu dengan berbagai perilaku negatif yang memiskinkan diri sendiri. Kedua adalah faktor eksternal yang lebih saya titik beratkan pada tingkatan elit dan produk perundang-undangan yang dihasilkan, yang ternyata hanya menyenggol masalah kemiskinan, atau lebih parahnya lagi membantu menyuburkan kemiskinan.

Dari sisi pemerintahan, saya menilai ada yang salah dalam pengambilan kebijakan pemerintah kita., terutama kebijakan luar negerinya. Misalnya soal perdagangan bebas yang tidak dibarengi dengan penguatan ekonomi masyarakat dalam negeri. Hal ini membuat begitu banyak produk asing yang masuk dan konsumen lebih banyak membeli produk luar negeri yang harganya tidak terpaut jauh dengan produk dalam negeri. Pengusaha lokal yang kalah modal akhirnya menyerah dan gulung tikar. Atau kebijakan lainnya seperti pengambilan hutang luar negeri. Hutang dalam jumlah besar yang menjebak Indonesia dalam lingkaran setan.

Menurut data Bank Indonesia, utang Indonesia tahun 2006 sekitar US$ 132,63 miliar dan melonjak tajam sampai tahun 2011 menjadi US$ 221,60 miliar. Belum lagi kita harus membayar cicilan utang dan bunganya yang diperkirakan sebesar Rp 118 triliun. Situasi ini membuat utang Indonesia sekarang sebesar Rp 1.975 triliun, bahkan lebih besar dari APBN 2013 sebesar Rp 1.683 triliun.

Saya lebih senang menyebut situasi ini sebagai ‘perangkap utang’. Dengan besarnya angka utang yang dibandingkan dengan kemampuan menyicil kita yang rendah membuat utang ini seakan mustahil bisa dilunasi. Perangkap utang ini menjebak Indonesia kedalam situasi lain yang lebih sulit lagi, yaitu intervensi kebijakan dalam negeri oleh negara donor. Maka dari situasi ini lahirlah produk perundang-undangan yang pro pada modal asing namun menjerat masyarakat kelas bawah kita semakin terbelit oleh situasi ekonomi yang sulit.

Produk undang-undang dan kebijakan pemerintah yang membicarakan kesejahteraan masyarakat tidak sampai 10%. Sedangkan 90% nya bicara soal politik dan pemekaran daerah. Situasi yang jelas tidak berpihak pada kelompok miskin.

Kebijakan ini berimbas pada merosotnya upah dan kondisi kerja buruh, akibat sistem outsourcing dan kontrak. Masyarakat miskin semakin dibatasi ruang gerak atas hak-hak yang seharusnya mereka dapat, seperti tunjangan, asuransi, jenjang karir, serta yang lebih penting adalah jaminan kerja dengan mengganti status mereka dari kontrak menjadi tetap.

Ini baru satu dari banyak produk undang-undang dan kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat miskin. Masih ada undang undang terkait seperti BHP, Minerba, Penanaman modal, SDA, Migas, dan lain-lain, yang mengkondisikan masyarakat untuk tetap berada di kelas bawah.

Situasi ini tidak lepas juga dari aspek pendidikan. Sebab ketika kerangka struktural telah dibangun melalui undang-undang dan kebijakan, maka harus dibarengi juga oleh kerangka substansialnya, yang dalam hal ini adalah pendidikan.

Untuk sebagian orang, pendidikan merupakan barang mahal yang sangat sulit diakses. Tentunya hal ini merujuk pada pendidikan berkualitas.

Sejak sekitar 1978 pada level pendidikan tinggi telah ada yang namanya Normalisasi Kehidupan Kampus / Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0457/0/1990 tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi, yang mengubah format organisasi kemahasiswan yang melarang mahasiswa terjun dalam politik praktis. Pendidikan dibuat menjadi prosedural dan menciptakan anggapan bahwa mahasiswa yang baik adalah yang memiliki nilai di atas rata-rata.

Kondisi struktural yang sudah dibangun memaksa dunia pendidikan untuk ikut masuk dalam pasar tenaga kerja yang mencetak lulusan siap kerja. Hal yang sering dikenal dengan istilah link and match.

Sebuah desain besar yang sengaja diciptakan dalam kompleksitas masalah yang berimbas pada kemiskinan atau pemiskinan, yang ironisnya adalah pemerintah dan jajaran elit sebagai aktornya.

Pertanyaan selanjutnya adalah “bagaimana solusinya?”

Solusi yang bisa diterapkan harus berjalan harmoni dalam setiap segi, yaitu:

1. Merombak pola pendidikan yang hanya berorientasi pada pemasok tenaga kerja, bukan tenaga ahli.

2. Merombak segala kebijakan dan undang-undang yang tidak pro pada kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat miskin.

3. Nasionalisasikan sumber daya agar bisa dikelola dan dinikmati sepenuhnya demi kesejahteraan masyarakat.

Tiga solusi ini mungkin terasa abstrak dan sulit untuk diterapkan. Namun ada satu catatan yang perlu dirujuk, bahwa dulu kondisi Kuba dan Venezuela sama seperti Indonesia, namun sekarang mereka mampu bangkit dan sejahtera di atas tanahnya. Yang dibutuhkan hanya keberanian pemerintah kita yang memiliki konsekuensi diasingkan dari dunia Internasional. Menurut saya hal itu bukan masalah, sebab bagaimanapun juga, negara maju membutuhkan pasokan bahan baku yang berasal dari negara dunia ketiga seperti Indonesia.

Agar masyarakat keluar dari jurang kemiskinan maka kebijakan pemerintah dan undang-undang harus pro terhadap rakyat miskin, serta perbaikan menyeluruh di institusi pendidikan. Ketika masyarakat telah menjadi cerdas, maka ruang publik mereka akan didukung oleh kebijakan pemerintah dan undang-undang yang mampu menjamin dan menopang masyarakat untuk berdikari, bukan sekadar berkarir di perusahaan asing dan menjadi “sapi perah”. Dengan kesadaran ini, angka lima pada sila terakhir tidak menjadi utopis.

Selasa, 13 November 2012

"Kudeta 1965"


Berakhirnya Perang Dunia Kedua (PD II) merupakan awal dari dimulainya Perang Dingin. Perang yang melibatkan dua blok besar dunia. Penganut paham demokrasi dan penganut paham komunis. Dua negara besar, Amerika yang memimpin sekutu mewakili demokrasi, dan Uni Sovyet yang mewakili komunis.

Perang ideologi ini membawa dampak besar, baik bagi negara-negara yang terlibat langsung, maupun negara yang lebih berperan sebagai simpatisan. Indonesia, mendeklarasikan diri untuk tidak memihak salah satu blok, namun pada praktiknya, Indonesia lebih condong ke Sovyet. Paling tidak, sampai akhir 1965.

Di Indonesia, bulan Oktober 1965, kaum buruh internasional menelan kekalahan terbesarnya pasca PD II. Lebih dari 1 juta jiwa melayang sebagai imbas dari kudeta militer yang diatur oleh CIA dengan eksekutor lokal Jendral Soeharto, selaku Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (PANGKOSTRAD) kala itu. Kudeta itu memanfaatkan momen goyahnya pemerintahan Soekarno, yang dipicu oleh kesehatan Soekarno yang dikabarkan menurun drastis. Tujuannya jelas, menyingkirkan pemerintahan yang berkuasa kala itu, rezim Soekarno.

Melibas komunis di Indonesia bukanlah perkara mudah. Operasi panjang CIA yang melibatkan mantan duta besar AS untuk Indonesia dan Australia, Marshall Green, yang juga melibatkan Badan Intelejen Australia (ASIS) membangun basis militer yang sengaja dipersiapkan untuk sebuah rezim anti-revolusi Indonesia. Tujuannya jelas, Menggulingkan Soekarno dan membasmi basis komunis di Indonesia.

Ketakutan pihak barat ini sangat beralasan. Dengan jumlah 3,5 juta; ditambah 3 juta dari pergerakan pemuda; 3.5 juta dari serikat buruh; dan pergerakan petani BTI yang mempunyai 9 juta anggota. serta pergerakan wanita, organisasi penulis, artis dan pergerakan kaum inteleknya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung. Jumlah ini menempatkan PKI sebagai partai komunis terbesar di dunia, di luar Cina dan Uni Sovyet.

Marshall Green mengakui keterlibatannya dan pemerintahnya dalam eksekusi kaum buruh dan simpatisan PKI. Sekitar 1 juta orang dibunuh dan ratusan ribu lainnya dijebloskan ke penjara tanpa melalui proses hukum. Penderitaan yang berhasil keluar dari penjara tidak hanya berhenti saat meninggalkan hukuman kurungan. Pencantuman label OT di tanda pengenal membuat mereka sulit mendapat pekerjaan, serta mendapat hukuman sosial di masyarakat.

Operasi kejam ini tidak lepas dari ambisi AS untuk menguasai Indonesia sebagai "Permata Asia", yang memiliki simpanan sumber daya alam yang luarbiasa banyaknya. Eisenhower tahun 1953 dalam pidatonya menegaskan betapa pentingnya Indonesia bagi Imperialisme AS.

Permainan ini sengaja diciptakan agar AS tetap bisa mengontrol Indonesia. Mengontrol Indonesia, berarti pula mengontrol Asia Tenggara dan sekitarnya. Bila Indonesia jatuh ke tangan komunis, maka garis vertikal ke bawah tidak akan bisa dikontrol oleh AS lagi.

Sebelum kudeta di Indonesia tahun 1965, Richard Nixon menyerukan untuk pengeboman saturasi untuk melindungi "potensi mineral besar" Indonesia. Dua tahun setelahnya, dia menyerukan bahwa Indonesia merupakan hadiah terbesar Asia Tenggara.

Melalui diktator Soeharto, setidaknya ada tujuh hal yang menjadi alasan utama AS menganggap betapa pentingnya Indonesia sebagai negara paling berwenang secara strategis di dunia. (1) Mempunyai populasi yang terbesar di seluruh Asia Tenggara; (2) Merupakan penyuplai utama bahan-bahan mentah di daerah itu; (3) Kemakmuran ekonomi Jepang yang terus berkembang, sangatlah tergantung pada minyak bumi dan bahan-bahan mentah lain yang dipasok oleh Indonesia; (4) Investasi Amerika yang sudah ada di Indonesia sangatlah kokoh dan hubungan dagang kita sedang berkembang cepat; (5) Indonesia mungkin secara meningkat akan menjadi penyedia yang penting untuk keperluan energi AS; (6) Indonesia adalah anggota OPEC, tetapi itu mengambil sikap yang moderat dalam langkah-langkahnya, dan tidak ikut serta dalam embargo minyak bumi; (7) Kepulauan Indonesia terletak pada jalur-jalur laut yang strategis dan pemerintah Indonesia memainkan peranan yang vital dalam perundingan-perundingan hukum kelautan, yang sangatlah penting untuk keamanan dan kepentingan komersil kita.

Kudeta 1965 merupakan kepentingan internasional AS dalam usahanya untuk menjadi negara paling berpengaruh di dunia. Indonesia menjadi parameter utama agar terciptanya cita-cita AS itu. Melalui skenario CIA dengan menggunakan kediktatoran Soeharto dalam melanggengkan eksploitasi AS terhadap sumberdaya Indonesia, mereka telah berhasil mencapai cita-citanya. Namun dalam konteks lokal, kita tengah memanen kebusukan yang ditanam 50 tahun silam. Sebuah perjuangan panjang untuk meratakan lahan itu dan menanamnya dengan benih yang benar. Mengawalnya agar tumbuh menjadi pohon teduh yang menyejahterakan yang dibawahnya.

Torehan sejarah panjang yang kelam yang sekarang tengah kita ulang.



TIDAK BOLEH ADA SEJARAH KELAM YANG TERULANG DUA KALI DI REPUBLIK INI

RESISTENSIAL,,,!!!





sumber:
http://www.wsws.org/exhibits/1965coup/coup1965.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_30_September

Minggu, 11 November 2012

Strategi Kampanye


A. PERENCANAAN STRATEGIS KAMPANYE

Ketika berpikir tentang PR dan perencanaan, ada baiknya kita mulai dengan melihat definisi PR berikut :
“praktik PR adalah usaha yang direncanakan serta dilakukan secara kontinyu untuk menciptakan dan menjaga nama baik (goodwill) dan kesepahaman bersama antara suatu organisasi dengan publiknya.”

Inti dari definisi tersebut adalah bahwa PR harus direncanakan. Itu merupakan proses yang dipikirkan secara matang dan hati-hati. Proses tersebut juga memerlukan aktivitas yang dilakukan secara terus menerus. Dalam kaitannya dengan praktek kampanye PR, setidaknya ada beberapa alasan mengapa sebuah perencanaan harus dilakukan dalam kampanye (arti penting perencanaan), yaitu :

1) Memfokuskan usaha. Perencanaan membuat tim kampanye dapat mengidentifikasi dan menyusun tujuan yang akan dicapai dengan benar hingga akhirnya pekerjaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien, karena berkonsentrasi pada prioritas dan alur kerja yang jelas.

2) Mengembangkan sudut pandang berjangka waktu panjang. Perencanaan membuat tim kampanye melihat semua komponen secara menyeluruh. Ini akan membuat tim kampanye tidak berpikir mengenai efek kampanye dalam jangka waktu yang pendek tapi juga ke masa depan, hingga mendorong dihasilkannya program yang terstruktur dalam menghadapi kebutuhan masa depan.

3) Meminimalisi kegagalan. Perencanaan yang cermat dan teliti akan menghasilkan alur serta tahapan kerja yang jelas, terukur, dan spesifik serta lengkap dengan langkah-langkah alternatif, sehingga bila ada kegagalan bisa langsung diambil alternatif penyelesaian.

4) Mengurangi konflik. Konflik kepentingan dan prioritas merupakan hal yang sering terjadi dalam sebuah kerja tim. Perencanaan yang matang akan mengurangi potensi munculnya konflik, karena sudah ada bentuk tertulis mengenai alur serta prioritas pekerjaan untuk tiap-tiap anggota tim.

5) Memperlancar kerja sama dengan pihak lain. Sebuah rencana yang matang akan memunculkan rasa percaya para pendukung potensial serta media yang akan digunakan sebagai saluran kampanye, hingga pada akhirnya akan terjalin kerjasama yang baik dan lancar. (Gregory dalam Venus 2007:144)


Proses pengembangan tahapan-tahapan perencanaan suatu pelaksanaan program kampanye Public Relations secara keseluruhan, yaitu termasuk tujuan, publik sasaran dan pesan-pesan yang efektif, baik bertujuan periode jangka panjang (strategi) maupun berbentuk secara mikro (individual) dalam pelaksanaan jangka pendek dengan tujuan khusus (taktik) dapat dilaksanakan secara bersama-sama melalui proses 10 tahapan atau rangkaian yang secara logis. Gregory (2004:36) menyebutkan 10 tahapan perencanaan sebagai berikut :



1. Analisis Situasi

Analisis adalah langkah pertama dari proses perencanaan. Setelah riset, tahap berikutnya adalah analisis dan ini dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan yang akan menjadi dasar dari program Public Relations. ada dua jenis analisis yang digunakan untuk perencanaan program kampanye yaitu :

Analisis PEST

Teknik yang biasa digunakan dan sangat berguna untuk menganalisis lingkungan eksternal. PEST membagi lingkungan dalam empat area dan membahas hampis segala hal yang dapat mempengaruhi organisasi. Empat area tersebut adalah Politik, Ekonomi, Sosial dan Teknologi. Menurut Gregory (2004:41) pertanyaan-pertanyaan dasar yang diungkapkan ketika melaksanakan analisis PEST adalah : apa faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi organisasi?, mana dari faktor-faktor tersebut yang paling penting saat ini?, mana yang akan menjadi faktor yang paling penting empat tahun kemudian?

Analisis SWOT

Analisis SWOT meliputi empat elemen yaitu Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Oppurtunities (kesempatan), dan Threats (tantangan). Strength dan oppurtunities dapat dikelompokan sebagai pertimbangan-pertimbangan positif yang mendukung terlaksananya program kampanye, sedangkan weakness dan threats dikelompokan pada kondisi-kondisi negatif yang harus dihadapi kampanye. Sementara menurut Gregory (2004:46) menjelaskan dua elemen pertama, Strength dan Weakness dapat dilihat sebagai faktor yang digerakan secara internal dan bersifat khusus terhadap organisasi. Dua elemen yang lain, Oppurtunities dan Threats biasanya bersifat eksternal dan didapat melalui analisis PEST.


2. Tujuan

Menetapkan tujuan yang realistis adalah sangat penting apabila program atau kampanye yang direncanakan harus memiliki arah dan dapat menunjukan suatu keberhasilan tertentu. Tujuan utama dari Public Relations adalah untuk mempengaruhi sikap dan perilaku. Menurut Gregory (2004:79) ada delapan hal penting yang harus di ingat ketika menetapkan tujuan, yaitu :
Sejalan dengan tujuan organisasi.
Tepat dan spesifik.
Lakukan apa yang dapat dicapai.
Lakukan pengukuran sebanyak mungkin.
Bekerjalah berdasarkan skala waktu.
Bekerjalah berdasarkan anggaran.
Bekerjalah sesuai dengan urutan prioritas. 


3. Mengenali Publik
James Grunig (1984) mendefinisikan empat jenis publik, yaitu :
Nonpublik, adalah kelompok yang tidak terpengaruh maupun mempengaruhi organisasi.
Publik yang tersembunyi (latent public), adalah kelompok yang menghadapi masalah akibat tindakan suatu organisasi, namun mereka tidak menyadarinya.
Publik yang sadar (aware public), adalah kelompok yang mengenali adanya masalah.
Publik yang aktif, adalah kelompok yang mengambil tindakan terhadap suatu masalah.

Sementara itu, publik yang aktif dapat dikelompokan dalam tiga kategori berikut :
Publik semua masalah (all-issue public) sangat aktif terhadap semua masalah yang mempengaruhi organisasi.
Publik masalah tunggal (single-issue public) sangat aktif terhadap satu masalah atau sekelompok kecil masalah.
c. Publik masalah hangat (hot-issue public) adalah mereka yang terlibat dalam suatu masalah yang memiliki dukungan publik luas dan biasanya mendapatkan liputan khusus dari media.

Pemilihan publik mana yang akan menjadi sasaran bergantung pada tujuan kampanye yang akan dilaksanakan. Arens dalam Venus (2007:150) mengatakan bahwa identifikasi dan segmentasi ssasaran kampanye dilaksanakan dengan melakukan pemilahan atau segmentasi terhadap kondisi geografis, kondisi demografis, kondisi perilaku dan kondisi psikografis.


4. Pesan

Gregory (2004:95) menjelaskan empat langkah untuk menentukan pesan, yaitu : Langkah pertama adalah menggunakan persepsi yang sudah ada. Langkah kedua adalah menjelaskan pergeseran yang dapat dilakukan terhadap persepsi tersebut. Langkah ketiga adalah mengidentifikasi unsur-unsur persuasi. Cara terbaik adalah melakukannya berdasarkan fakta. Langkah keempat adalah memastikan bahwa pesan tersebut dapat dipercaya dan dapat disampaikan melalui Public Relations.


5. Strategi

Strategi adalah pendekatan keseluruhan untuk suatu program atau kampanye. Strategi adalah faktor pengkoordinasi, prinsip yang menjadi penuntun, ide utama dan pemikiran dibalik program taktis. (Venus 2007:152)


6. Taktik

Berbicara taktik pelaksanaan suatu program kampanye yang harus berkaitan erat dengan program dari strategi utama, tujuan kampanye, ketika akan mengembangkan taktik pelaksanaan kampanye tersebut tidak terlepas dari faktor-faktor kekuatan, kreativitas atau kemampuan tim pelaksana, pengembangan program hingga pencapaian tujuan terukur, seperti yang diungkapkan Ruslan (2007:102) sebagai berikut :

a) Appropriateness, adanya kecocokan secara aktual dengan teknik-teknik taktik pelaksanaan, pencapaian target khalayak publik, hasil-hasil yang dicapai dalam melaksanakan pesan-pesan kampanye dan termasuk kecocokan dengan teknik-teknik Public Relations serta media komunikasi yang dipergunakan.

b) Deliverability, apakah anda mampu melaksanakan teknik-teknik berkampanye secara sukses sesuai dengan target? berapa besar alokasi dana yang diperlukan? Bagaimana dengan jadwal waktu pelaksanaan kampanye tersebut apakah sudah tepat? Termasuk memiliki tim ahli dan pendukungnya dalam taktik pelaksanaan secara tepat?.


7. Skala waktu

Ada dua hal yang pasti dalam kehidupan praktisi Public Relations. Pertama, tidak pernah ada waktu yang cukup untuk melakukan semua pekerjaan yang harus dilakukan, tugas dan tanggung jawab yang ada lebih besar daripada waktu yang tersedia. Kedua adalah bahwa tugas-tugas Public Relations seriingkali melibatkan orang lain dan memerlukan koordinasi dari beberapa unsur. Ada dua faktor utama yang saling berkaitan yang harus diamati ketika mempertimbangkan skala waktu. Pertama, tenggat waktu (deadline) harus di identifikasi sehingga tugas-tugas yang dihubungkan dengn suatu proyek dapat diselesaikan tepat waktu. Kedua adalah sumber daya yang tepat perlu dialokasikan sehingga tugas-tugas yang ada dapat diselesaikan. (Gregory, 2004:124)


8. Sumber daya

Menurut Ruslan (2007:104) terdapat tiga bentuk sumber daya utama yang berkaitan dengan pelaksanaan program kampanye Public Relations. Pertama sumber daya manusia (SDM) yang terlibat langsung dalam kegiatan kampanye berupa tenaga profesional, dan ahli hingga terampil, staf pendukung atau tenaga lapangan. Kedua, sumber biaya operasional untuk menunjang kegiatan kampanye yang dikelola secara efisien dalam pembiayaan pelaksanaan operasional (implementation fee), consultant or professional fee, space of advertising cost, dan equipment fee (biaya penyewaan perlatan penunjang, publikasi, transportasi, sound system dan lighting system dan sebagainya). Ketiga adalah sumber perlengkapan transportasi, dukungan perlatan teknis, pemanfaatan media komunikasi dan tim kerja lain dan sebagainya.


9. Evaluasi

Menurut Gregory (2004:138) evaluasi adalah proses yang berkelanjutan jika kita berbicara tentang program berjangka panjang. Jika dilaksanakan dengan benar, evaluasi memudahkan anda untuk mengendalikan kegiatan Public Relations. Berikut adalah alasan menngapa kita perlu mencantumkan evaluasi dalam kampanye dan program yang kita buat.
Memfokuskan usaha.
Menunjukan keefektifan.
Memastikan efisiensi biaya.
Mendukung manajemen yang baik.
Memfasilitasi pertanggungjawaban.


10. Review

Sementara evaluasi dilakukan secara teratur, review yang menyeluruh dilakukan dengan frekuensi yang lebih jarang. Setelah memutuskan untuk melakukan review, siklus proses perencanaan akan terulang lagi. Sekali lagi pertanyaan-pertanyaan dasar harus diajukan :
Apa yang ingin kita capai?
Siapa yang ingin kita jangkau?
Apa yang ingin kita katakan?
Apa cara yang paling efektif untuk menyampaikan pesan?
Bagaimana suskes dapat diukur?

Selain itu, peninjauan kembali terhadap penilaian perencanaan, pelaksanaan selama program dan pencapaian tujuan tertentu suatu kampanye berlangsung secara periodik setiap tahun tujuan program kampanye Public Relations melalui proses input (perolehan riset data, fakta, dan informasi di lapangan), output (kecocokan dengan isi pesan, tujuan dan media yang dipergunakan) dan result (hasil-hasil dari tujuan dan efektivitas program kampanye yang telah dicapai, apakah adanya perubahan sikap atau perilaku khalayak sasaran).

Menurut French (1982) terdapat 8 langkah perencanaan komunikasi untuk kampanye yaitu :

a. menganalisis masalah

b. menganalisis khalayak

c. merumuskan tujuan

d. memilih media

e. mengembangkan pesan

f. merencanakan produksi media

g. merencanakan manajemen progam

h. monitoring dan evaluasi

Nimmo dan Thomas ungs (1973 menjelaskan fase perencanaan kampanye politik. yaitu

a. fase pengorganisasian meliputi : kapan staf, informasi, dan dana dikumpulkan, strategi dan taktik ditetapkan, semangat kelompok dibangkitkan.

b. Fase pengujian meliputi : kapan calon menggalang para anggota menawarkan kemudahan pada orang – orang yang belum jadi anggota.

c. Fase kritis meliputi : suatu titik dimana calom pemilih belum menentukan sikap terhadap partai atau siapa yang adan dipilih atau di dukung.




B. PELAKSANAAN KAMPANYE

Menurut Venus (2007:199) pelaksanaan kampanye adalah “penerapan dari konstruksi ranncangan program yang telah ditetapkan sebelumnya”. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam tahap pelaksanaan meliputi : realisasi unsur-unsur kampanye, menguji coba rencana kampanye, pemantauan pelaksanaan, dan pembuatan laporan kemajuan.


1. Realisasi unsur-unsur pokok kampanye

· Perekrutan dan pelatihan personel kampanye

Kegiatan kampanye merupakan kerja tim. Dengan demikian banyak personel (juga lembaga) yang akan terlibat didalamnya. Penentuan siapa saja yang akan terlibat sebagai pelaksana kampanye (campaign organizer) merupakan langkah awal dalam melaksanakan kampanye. Orang-orang yang akan menjadi personel kampanye harus diseleksi dengan teliti dengan memperhatikan aspek motivasi, komitmen, kemampuan bekerjasama, dan pengalaman yang bersangkutan dalam kerja sejenis.

· Mengonstruksi pesan

Pada prinsipnya desain pesan kampanye harus sejalan dengan karakteristik khalayak sasaran, saluran yang digunakan, dan efek kampanye yang diharapkan. Pesan kampanye memiliki berbagai dimensi yang meliputi pesan verbal, nonverbal, dan visual. Namun apapun dimensinya, secara umum konstruksi pesan kammpanye harus didasarkan pada pertimbangan kesederhanaan (simplicity), kedekatan (familiarity) dengan situasi khalayak, kejelasan (clarity), keringkasan (conciesness). Kebaruan (novelty), konsistensi, kesopanan (courtessy) dan kesesuaian dengan objek kammpanye.

· Menyeleksi penyampai pesan kampanye

Pelaksanaan kampanye juga menghendaki pelaksana kampanye berhadapan dengan pemilihan individu yang secara spesifik bertindak sebagai pelaku (campaign actor) yang menyampaikan pesan kampanye. Keputusan untuk menentukan siapa pelaku atau penyampai pesan kampanye ini menjai sangat penting karena merekalah aktor yang akan berhadapan langsung dengan publik.

· Menyeleksi saluran kampanye

Menyeleksi media mana yang akan digunakan sebagai saluran kampanye harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Beberapa faktor pokok yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media kampanye diantaranya : jangkauan media, tipe dan ukuran besarnya khalayak, biaya, waktu, dan tujuan serta objek kampanye. Di samping itu faktor lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah karakteristik khalayak, baik secara demografis, psikografis, maupun geografis. Pola penggunaan media khalayak (media habit) juga harus diperhitungkan untuk memastikan media apa yang biasanya digunakan khalayak.


2. Uji coba rencana kampanye

Uji coba terhadap suatu rancangan dilakukan untuk menyusun strategi (pesan, media, dan penyampai pesan) yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Lewat uji coba rencana kampanye juga kita akan memperoleh gambaran tentang respons awal sebagian khalayak sasaran terhadap pesan-pesan kampanye. Respons ini pada gilirannya akan digunakan sebagai pembanding ketika melakukan evaluasi proses dan akhir kampanye.


3. Tindakan dan pemantauan kampanye

Sebagai sebuah kegiatan yang terprogram dan direncanakan dengan baik, maka segala tindakan dalam kampanye harus dipantau agar tidak keluar dari arah yang ditetapkan. Untuk itu harus dipahami bahwa tindakan kampanye bukanlah tindakan yang kaku dan parsial, tetapi bersifat adaptif, antisipatif, integratif dan berorientasi pada pemecahan masalah.
Adaptif. Tindakan kampanye bersifat adaptif artinya ia terbuka terhadap masukan-masukan baru atau bukti-bukti baru yang ditemukan di lapangan.
Anitisipatif. Tindakan kampanye bersifat antisipatif artinya kegiatan kampanye harus memperhitungkan berbagai kemungkinan yang akan muncul di lapangan saat kampanye dilakukan.
Orientasi pemecahan masalah. Tindakan kampanye bersifat problem solving oriented artinya segala bentuk tindakan dalam proses kampanye diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
Integratif dan koordinatif
Kegiatan kampanye bukanlah tindakan one man show melainkan kegiatan yang didasarkan pada kerja tim. Keberhasilan kampanye ditentukan oleh bagaimana pelaksana kampanye bertindak secara integratif dan koordinatif. Koordinasi ini tidak hanya dilakukan dengan sesama pelaksana kampanye melainkan juga dengan berbagai pihak terkait yang akan turut mempengaruhi kelancaran dan keberhasilan pencapaian tujuan kampanye.


4. Laporan kemajuan

Unsur terakhir dari proses pelaksanaan kampanye adalah penjadwalan laporan kemajuan atau progress report. Laporan kemajuan merupakan dokumen yang sangat penting, bukan hanya bagi manajer tapi juga pelaksana kampanye secara keseluruhan. Dalam laporan kemajuan umumnya dimuat berbagai data dan fakta tentang berbagai hal yang telah dilakukan selama masa kampanye.






SUMBER:

 http://stail.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=158:urgensi-perencanaan-komunikasi-dalam-sebuah-organisasi&catid=44:jurnal-ilmiah&Itemid=95
--
http://www.scribd.com/doc/32808491/Kampanye-PR

http://komunitaspr.wordpress.com/2010/06/10/perencanaan-strategis-kampanye-pr/









Jumat, 02 November 2012

SBY Jual Ladang Emas Kalimantan

Pada 2001 Pemerintah RI sempat menghentikan operasi Freeport McMoran di Papua. Freeport dianggap melanggar konsensus PBB mengenai Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) serta aturan expansi "Gold Mining" tentang pelarangan sebuah negara beroperasi di negara lain. Namun Pada 2007 Freeport kembali beroperasi, dengan mengakali peraturan yang membuat Freeport McMoran seolah-olah perusahaan tambang milik Indonesia dan mengganti namanya menjadi Freeport Indonesia.

Hal serupa juga berlaku pada Ontario Limited Co.Ltd, Perusahaan penambang emas raksasa milik Great Britain (Britania Raya) yang berpusat di Bermuda. Ontario Limited Co.Ltd membuat anak perusahaan di Indonesia dengan nama Kalimantan Gold Corporation. Tujuannya jelas, agar secara yuridis, perusahaan ini adalah perusahaan Indonesia.

Menurut data yang dirilis dari tmx.quotemedia.com, terhitung resmi sejak 23 Mei 2012, Freeport & KGC sudah mulai menambang emas & tembaga di Kalimantan. Kedua perusahaan raksasa ini membentuk sebuah anak perusahaan untuk menjalankan operasi tambang di Kalimantan Tengah, yaitu "PT. Kalimantan Surya Kencana". Daerah operasi mereka terbentang dari Tayan Kalbar sampai Tarakan Kaltim, yang juga melewati Beruang Tengah Kalteng.

Kalimantan Gold Corporation dalam laporan resmi yang dirilis di Bursa Efek Toronto pada Selasa (29/5/2012) menyebutkan, pengeboran pertama sedang dilakukan di Beruang Tengah sejak 23 Mei 2012. ”Pengeboran pada lubang kedua diharapkan dapat dilakukan di Berungan kanan pada awal Juni 2012,” ujar Faldi Ismail, Deputy Chairman and CEO Kalimantan Gold, dalam keterangan pers yang dikutip KONTAN (www.tmx.quotemedia.com, Selasa, 29/5/2012).

Freeport & KGC Joint Operation (dalam consortiumnya menggunakan anak perusahaan bersama J.O. Kalimantan Surya Kencana) melakukan eksplorasi tembaga dan emas di Kalimantan terhitung sejak Mei 2012. Selain tercatat di bursa efek Toronto, Kanada, KLG juga tercatat di Bursa Efek London.

Dari fakta ini jelas memperlihatkan urgensi lawatan SBY ke London untuk tujuan apa. Ketika masyarakat mempertanyakan pertimbangan SBY yang lebih memilih berkunjung ke London ketimbang kunjungan untuk menyelesaikan konflik horizontal yang terjadi di dalam negeri, deal-deal seperti ini jelas sangat menguntungkan SBY secara personal dan golongan.

Di satu sisi, sebagai warga Indoonesia, saya tidak ingin papua melepaskan diri dari NKRI. Namun dari sisi sentimentil, saya pun akan melakukan hal yang sama seperti saudara-saudara di papua. Ketika semua penduduk Capitol lebih sibuk mengurusi pemimpin daerah mereka yang baru, ada bagian dari Indonesia yang diperas habis-habisan. Sekarang giliran Kalimantan. Penduduk asli tidak akan membiarkan begitu saja tanah mereka dirampas dan ekosistem mereka dirusak, disamping mereka tidak menikmati kekayaan alam mereka.

Selasa, 09 Oktober 2012

“Stopping The Presses For Good”

Surat kabar atau yang akrab disebut koran merupakan salah satu media komunikasi yang paling tua yang masih bertahan sampai sekarang. Koran menjadi populer ketika ditemukannya mesin cetak oleh Gutenberg pada 1450. Walau pada awalnya biaya untuk mencetak sebuah koran sangat mahal, namun seiring dengan berkembangnya teknologi masalah finansial ini bisa diatasi.

Memasuki abad ke-19, koran mulai mendapat saingan dengan munculnya radio sebagai sarana komunikasi baru yang jauh lebih cepat. Pada saat itu banyak orang berpendapat bahwa koran akan mati karena penikmat berita akan beralih ke radio. Namun agaknya hal ini bukan menjadi masalah lagi ketika ancaman itu tidak terbukti. Apalagi ketika alih fungsi radio menjadi sarana hiburan.

Pada abad ke-20 muncul ancaman baru untuk koran, yaitu televisi. Televisi lebih memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh media lain seperti koran atau radio. Televisi mampu menampilkan audio (suara) sekaligus video (gambar). Namun lagi-lagi hal ini bukan menjadi masalah ketika ancaman televisi tidak terbukti untuk eksistensi koran dalam dunia media masa.

Pada masa sekarang ancaman untuk koran kembali muncul. Sarana komunikasi tercepat yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia, yaitu internet. Internet seperti yang telah kita ketahui adalah sarana komunikasi berbasis komputer. Internet memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh koran, seperti cakupan isi, kecepatan, sampai efisiensi. Internet merupakan sebuah tantangan serius bagi eksistensi koran. Maka pertanyaan yang muncul adalah, mampukah koran bertahan dan tetap eksis dengan munculnya media komunikasi yang memiliki banyak kelebihan ini?


Menghadapi Tantangan 

Dalam film dokumenter yang berjudul “Stopping The Presses For Good” dijelaskan bahwa dampak yang ditimbulkan dari berkembangnya sarana internet ini akan mengancam keberadaan koran sebagai sarana komunikasi klasik yang masih bertahan sampai sekarang. Fasilitas untuk mengakses internet sudah sangat berkembang.

Kelemahan koran yang paling terlihat adalah dalam hal kecepatan penyampaian berita dan cakupan (banyak) berita yang disajikan. Dikatakan bahwa koran akan mendekati akhir masa jayanya atau bisa dibilang akan mati. Apakah hal ini benar? Mungkin benar dan sangat mungkin salah. Masyarakat modern dalam konteks media masa yang diramalkan adalah masyarakat yang memiliki sebuah alat yang bisa mengakses internet dimanapun berada.

Kebutuhan masyarakat akan berita sudah sangat besar. Generasi sekarang adalah generasi yang serba digital. Masyarakatnya adalah orang yang memiliki tingkat kesibukan yang sangat tinggi. Maka dari situ internet menjadi solusi yang sanggup menjawab kebutuhan ini. Namun hal yang paling mendasar yang harus dilihat adalah keberadaan koran di masyarakat. Koran bukan hanya menjadi sebuah media yang berkutat dalam penyampaian berita saja. Koran memiliki aspek penting yang bisa membuatnya bertahan menghadapi segala tantangan yang muncul. Aspek itu adalah budaya. Budaya ini terbentuk karena intensitas hubungan manusia dengan koran ini sangat tinggi. Kebiasaan ini membuat manusia menanggapi koran menjadi sebuah kebutuhan yang pada akhirnya berlanjut menjadi budaya yang telah menyatu dengan masyarakat.

Film “Stopping The Presses For Good” mengatakan bahwa internet adalah ancaman serius bagi eksistensi koran. Hal ini terbukti dengan penurunan jumlah penjualan koran yang cukup signifikan di Amerika yang mencapai 28%. Ancaman ini saya akui memang sangat serius. Namun ancaman ini bisa disiasati dengan membuat inovasi dalam penyajian koran.


Inovasi Itu Penting 

Hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah perubahan dalam penyajian berita. Koran jelas tidak mungkin menang dalam hal kecepatan, maka yang harus ditekankan adalah segi investigasi yang lebih mendalam sehingga membantu pembaca dalam mencerna berita. Karena bila koran hanya menyajikan fakta saja, maka hal itu sama saja seperti berita yang ada dalam internet.

Pembaca bukan hanya sedakar ingin tahu soal apa yang terjadi, namun juga kupasan berita yang berbobot dan berkualitas dari si penyaji berita. Hal lain yang perlu dilakukan adalah penambahan variasi isi koran. Koran tidak boleh hanya soal berita yang “berat-berat” saja, namun juga mesti diselingi dengan berita yang ringan, seperti berita pariwisata, mitos, dan lain sebagainya. Mengingat sejarah dari koran dan hubungan dengan penikmatnya saya yakin bahwa koran akan sangat mungkin bertahan dengan kehadiran internet.

Film yang berjudul “Stopping The Presses For Good” hanya menjelaskan kemungkinan logis yang mungkin akan terjadi dengan kehadiran internet sebagai sarana pemenuhan kebutuhan akan berita, tanpa melihat aspek historis dan kualitas isi dari sebuah koran. Koran akan mampu bertahan apabila koran membuat inovasi dalam penyajiannya.

Kamis, 04 Oktober 2012

Terbenam Sejarah: "Tan Malaka"

Menjadi bagian dari sejarah merupakan sebuah kebanggan dan kepuasan tersendiri. Menjadi bagian karena ikut berperan aktif dalam sebuah gerakan untuk perubahan dan keadaan yang lebih baik. Perjuangan yang muncul dari kemauan diri dan kegelisahan hati. Menjadi dasar yang kuat untuk mau menentang tiran yang berdiri mengangkang.

Ada seorang tokoh nasional yang cenderung terlupakan sejarah, atau sengaja dilupakan. Tokoh nasional dengan pemikiran brilian dan ispiratif demi membentuk sebuah ide tentang negara yang merdeka dan penentuan atas nasibnya sendiri. Tan Malaka. Bapak bangsa yang terasingkan.

"Kelahiran suatu pikiran sering menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya"

Kurang lebih begitu bunyi yang diutarakan Tan mengenai proses kelahiran ide. Ide muncul atas sebuah keadaan yang tidak memuaskan, dan sering kali lebih menyakitkan. Keprihatinan membuahkan kemauan dan pemikiran tentang ide-ide untuk mencapai keadaan yang lebih baik lagi. Dibutuhkan gairah muda secara pola pikir, yang jauh dari kemapanan keadaan. Pikiran muda yang begitu idealis untuk konsepsi sebuah ide yang brilian dan berani.

"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda"

Pemuda adalah golongan dengan gelora semangat perubahan yang besar yang mengandung ide-ide luar
biasa, sebuah kekayaan yang tiada tara.

Apa yang disampaikan Tan 90 tahun lalu nampaknya masih sangat begitu relevan dalam konteks masa sekarang. Pemikirannya sangat visioner, bukan sekadar pikiran taktis untuk konteks satu jaman.

"Selama orang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan putch atau anarchisme hanyalah impian seorang yang lagi demam"

Bahwa sebenarnya banyak jalan untuk mencapai suatu kemerdekaan. Bila sebuah perjuangan turun ke jalan yang identik dengan bentuk vandalisme sudah dianggap begitu usang, maka itu bukanlah suatu kebuntuan. Kita hanya perlu untuk tetap berpegang pada tujuan, dengan mengambil alternatif jalan.

Menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk bisa merealisasikan ide yang kita buahkan memang suatu kebanggaan tersendiri. Namun begitu, untuk orang sekaliber Tan nampaknya perlu diberikan pengecualian. Perlu ada sebuah penghormatan yang nyata. Tanpa Tan, mungkin tidak pernah akan ada ide untuk negara seperti Indonesia atau keinginan untuk mencapai kemerdekaan.

Jumat, 28 September 2012

Diskriminasi Agama

"Bersediakah saudara berdua menjadi Bapak Ibu yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saudara dan mendidik mereka menjadi orang Katolik sejati?"


Bagi orang khatolik atau kristen, mungkin kalian tahu kalimat apa yang ada di atas. Ya, benar. Itu adalah salah satu kalimat yang ada dalam janji pernikahan dalam Khatolik. Mempelai disosori pertanyaan demikian dan diharuskan untuk menjawab "Ya, kami bersedia". Maka tafsiran yang muncul dalam hal ini bahwa agama dalam konteks Khatolik merupakan warisan. Warisan yang bukan diberikan ketika orang tua berpulang, namun warisan yang diberikan ketika sang anak mulai dikandung dan dilahirkan.

Hal itu juga saya alami sebagai individu bebas yang hidup di tengah keluarga Khatolik. Sedari bayi saya telah dibaptis dengan nama Yohanes. Siapa Yohanes? Yohanes yang mana? Apa saya memang membutuhkan pelindung dengan nama itu? Hal itu baru saya sadari ketika saya mulai beranjak dewasa. kesadaran bahwa apa yang saya alami merupakan penindasan dan diskriminasi yang dilakukan oleh organisasi keagamaan, Khatolik. Siapa yang salah? Bukan itu yang saya pertanyakan. Saya lebih mempertanyakan dimana kebebasan dan kemerdekaan anak-anak Khatolik sebagai manusia? Apakah ketika Ayah dan Ibu saya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang berbeda, lantas pernikahan mereka akan tergagalkan?

Mungkin orang tua saya menganggap hal itu sebagai beban sekaligus tanggung jawab mereka terhadap sumpah suci yang menyatukan mereka di hadapan Tuhan. Mengapa Tuhan hanya bisa diam dan tidak membela kami bayi-bayi yang tertindas?

Manusia hanya membutuhkan tempat tenang dalam hati mereka masing-masing untuk berintim dengan Tuhan mereka. Perayaan ekaristi di mata saya tidak lebih dari sekadar rutinitas ritual yang telah lama kehilangan arti di mata umat-umat yang mengikutinya. Lalu dimana letak kesakralan dari warisan 2000 tahun silam itu? Warisan yang dalam sejarah perkembangannya mengalami banyak tragedi berdarah dan politisasi. Tidak perlulah itu dibeberkan di sini.

Saya hanya memberikan pandangan bahwa ada banyak bentuk penindasan dari lembaga dan organisasi keagamaan itu. Manusia hanya memerlukan komunikasi vertikal dengan Tuhannya, serta melakukan komunikasi horizontal kepada sesamanya. Dan dua hal ini merupakan dua bentuk komunikasi yang sangat berbeda. Namun dua hal itu terlalu disamarkan dengan sejarah panjang lembaga keagamaan. Semoga kita dapat memilih dan memilah dengan sadar apa yang kita imani dan kita lakukan sebagai manusia yang mengaku beragama dan berTuhan. Hidup sebagai manusia yang manusiawi dengan kemampuan komunikasi vertikal yang magis kepada penciptanya.

Rabu, 26 September 2012

Satu Malam Di Progo

Seperti biasanya, perjalanan Jogja - Jakarta adalah sebuah pembelajaran dan pengingat. Kereta ini punya nilai tersendiri buat saya. Ia merupakan sarana pengingat dan pembelajaran untuk saya. Kelasnya memang hanya Ekonomi, cukup dengan 35 rb, saya bisa sampai ke Ibukota kala itu. Sesuai dengan kelasnya yang ekonomis.

Sedikit kisah mengenai kereta ini yang mungkin tidak banyak orang tau. KA Progo pertama beroperasi pada akhir 70an. Selanjutnya pada awal 80an ada penataan ulang, salah satunya adalah kereta Senja Ekonomi Yogya dengan relasi Gambir - Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, relasi diubah menjadi Pasar Senen -Lempuyangan, yang selanjutnya terjadi perubahan nama menjadi Empu Jaya yang merupakan akronim dari Lempuyangan - Jakarta Raya. Namun sayangnya dalam operasinya, kereta ini sering mengalami kecelakaan. Kemudian sekitar 2002 namanya kembali diubah menjadi KA Progo. Progo sendiri merupakan nama dari sebuah sungai yang ada di Yogyakarta.

Seperti kisah hidup kereta Progo yang panjang, sayapun memiliki sejarah panjang dengan kereta ini. "Kenapa sukanya nyiksa diri naik ekonomi dempet-dempetan. Nyiksa badan aja". Itu adalah kalimat yang sempat keluar dari mulut ibu saya. nampaknya dia begitu prihatin melihat anak bontotnya berdesak-desakan di Progo. Alasannya sederhana, saya mencari kenyamanan perjalanan.

Bicara tentang kenyamanan, tentu saja tolak ukurnya berbeda-beda. Bagi banyak orang, kenyamanan perjalanan adalah kursi empuk yang bisa diatur kemiringannya, kesejukan udara dari mesin pendingin, serta mungkin selimut dan bantal birunya. Hal ini tidak salah sama sekali. Namun yang jelas untuk saya, kenyamanan adalah ketika saya bisa bertemu dengan banyak orang dengan segala permasalahannya dan kami dapat ngobrol panjang lebar tentang segala topik sampai yang mengiringi perjalanan sampai ke kota tujuan. Tidak jarang saya berdiri beberapa jam karena penuhnya penumpang yang ingin berangkat. Sesaat dilain perjalanan ketika saya datang lebih awal saya mendapat tempat duduk. Namun tidak jarang pula tempat duduk saya yang nyaman harus saya ikhlaskan kepada seorang nenek atau ibu hamil, atau seorang ibu dengan bayinya. "Silakan bu, duduk di tempat saya". "Matur suwun mas". Tiga kata yang buat saya mampu menahan mulut saya untuk selalu tersenyum selama perjalanan. Kadang, hal itu merupakan salam kenal dan sapa untuk memulai perbincangan.

Ketika PT KAI belum merevitalisasi armadanya, banyak pedagang yang naik - turun dan lalu - lalang selama perjalanan. Mulai dari menjajakan makanan, buku, sampai barang-barang Cina yang multifungsi dan tentu saja murah meriah. Ketika kereta mulai masuk Cikampek, ada beberapa pengammen yang masuk dan memamerkan kebolehannya dalam bermusik. Ada pula anak jalanan bermodal sapu dan pewangi ruangan yang membersihkan gerbong dan menyemprotkan aroma wangi dari botol spray yang dibawanya. Semua dibayar dengan seikhlasnya.

Semua hal itu adalah kejadian yang tidak akan pernah ditemui di kereta lain yang kelasnya lebih tinggi. Dari hal-hal kecil ini saya mengamati dan mencoba merefleksikan diri. Merefleksikan keadaan diri yang saya alami dengan realita kondisi ratusan orang yang sekadar menumpang atau menjadikan kereta ini sebagai penyambung hidup mereka. Seburuk-buruknya situasi hidup yang saya alami, saya merasa masih lebih beruntung dari sebagian besar orang yang ada di sana. Beruntung karena situasi hidup saya tidak sekeras mereka. Beruntung karena saya bisa menjual kemampuan dari sekadar menjual tenaga. Beruntung karena masih bisa memberi untuk mereka yang meminta.

12 jam perjalanan untuk bekal kecil panjangnya kehidupan yang saya jalani. Kereta Progo memberikan pelajaran kecil agar saya selalu ingat dan tidak lupa diri dengan keberhasilan dan kesuksesan yang bisa saya raih. Untuk sekarang saya telah menetap di Tangerang. Selama saya masih lajang dan melakukan perjalanan sendiri, Kereta Progo akan tetap menjadi prioritas mode transportasi untuk mengantarkan saya kembali ke Kota Jogja. Berjumpa dengan guru-guru luarbiasa yang mau membagi sepenggal cerita yang sangat menginspirasi untuk saya.

Saya Nasrani

Agamamu apa?

Pertanyaan yang kadang membuat saya kesal karena punya tendensi untuk mengharamkan kepercayaan yang saya anut. Nama saya Yohanes Preva Dimas Wihendarto. Ketika orang melihat nama itu, mereka bisa seketika itu tahu bahwa saya seorang Jawa yang menganut kepercayaan nasrani. Karena Yohanes merupakan nama rasul dalam sejarah gereja Khatolik, serta Wihendarto dengan huruf "O" di akhir nama yang mewakili etnis Jawa. Sejujurnya saya kurang nyaman dengan hal itu. Oleh sebab itu saya selalu memperkenalkan diri sebagai Preva Dimas, tanpa Nasrani, tanpa Jawa. buat sebagian orang, mungkin saya pengecut, namun saya tidak perlu memberikan pembuktian kepada mereka bahwa anggapan itu salah.

Dalam konteks budaya di Indonesia, masyarakatnya yang telah terlalu lama terkotak-kotak dengan Agama dan Ras membuat saya kurang leluasa dalam mengambil peran di ranah publik. Sesekali ada saja orang yang berani menanyakan Agama saya apa. Bukan untuk suatu kepentingan, namun hanya untuk sekadar memberi posisi saya di mata mereka. hahaha... Picik.

Mungkin banyak saja orang yang mengalami kejengahan seperti yang saya alami ini. sebagian besar dari mereka mengambil langkah untuk menanggalkan Agama dan kepercayaan akan Tuhan. Anggapan bahwa agama hanya menjadi pemecah dalam kehidupan sosial. Bagi saya, realita ini tidak bisa dimaknai sama untuk setiap sisi. Ada sebuah kekosongan dalam diri manusia yang tidak pernah ada jawabnya. kekosongan ini seringkali diisi dengan memasukkan konsepsi akan dzat yang menciptakan alam semesta, dzat yang memberi kehidupan. dzat yang memelihara kehidupan. dzat yang akhirnya dipahami sebagai Tuhan.

Secara kepercayaan, saya mengimani Kritus. Bukan karena dia anak Allah seperti cerita dan kisah dalam Alkitab. Namun karena sosok yang ada pada dirinya begitu menginspirasi dan seringkali menjadi pemecah kebuntuan pada situasi sulit yang saya alami. Situasi yang muncul karena arogansi dan ego kita sebagai manusia. Mungkin bila Gabriel mendatangi Maria dan berkata bahwa Maria harus memberi anaknya nama "Ucok", maka Ucoklah yang akan saya Imani.

Kekaguman saya bukan pada kebangkitanNya, namun lebih pada sikap dan sifat hidup Kristus sendiri. Maka dalam hal ini saya akan tetap mengimani Kritus terlepas Ia akan bangkit dari kubur dan naik ke surga. Meski Ia membusuk di kuburnya, saya akan tetap mengimaniNya.

Mungkin ini lebih terasa seperti promosi kepercayaan. Namun yang ingin saya sampaikan adalah saya sedang berbicara mengenai kepercayaan yang saya anut, bukan membicarakan Agama yang tertulis di KTP saya. Karena ketika kita membuka diri untuk mendengar apa yang dipercayai orang lain, hal itu akan lebih nyaman untuk diperbincangkan. Ketimbang kita gontok-gontokan berbicara mengenai Agama yang sangat erat kaitannya dengan budaya tempat agama itu lahir, serta politisasi agama itu sendiri.

Kepercayaan cukup hidup dalam diri masing-masing, sebuah hubungan sakral antara manusia dengan penciptanya. Ketika manusia hidup dalam sosial masyarakat, maka kepercayaan itu tersampaikan melalui sikap hidup dan perilaku keseharian. Pemaknaan terdalam pada sebuah kepercayaan adalah pada penerapannya, bukan sekadar wacana untuk dipergunjingkan.

Maka untuk menjawab pertanyaan pembuka di atas adalah "Saya Nasrani". Tidak pakai Khatolik, Protestan, Ortodoks, atau yang lainnya. Saya hanya mengimani pribadi manusia teladan dalam diri Kristus.

Aku Jawa, Kamu Cina, Lantas..??

Bagi saya, ada beberapa hal klasik yang tidak akan pernah habis diperbincangkan, Tuhan, Seks, Politik, dan Budaya. Empat topik ini selalu saja membawa wawasan baru yang diwakili oleh tiap individu yang tentunya juga berbeda. Namun dalam hal ini saya ingin berbicara mengenai topik Budaya. Dalam pembahasan ini, Budaya juga mewakili lingkungan serta latar belakang ras.

Masalah klasik yang sering diutarakan adalah stereotipe untuk setiap etnis. Pemberian lebel tertentu kepada etnis memang kadang bisa memberikan pencerahan untuk identifikasi, namun menjadi sebuah bumerang bila hal itu dimaknai kaku pada tiap individu. Hal ini mungkin sangat erat kaitannya dengan konsepsi Tuhan dan kepercayaan yang hidup dalam diri seseorang.

Buat saya, Latar belakang budaya ini merupakan sebuah kutukan atau orang berTuhan bilang adalah Takdir. maka dalam hal ini Takdir buat saya hanya meliputi dua hal saja, mengenai kelahiran dan mengenai kematian. Dua hal yang tidak bisa kita pilih dan pada akhirnya hanya menjadi sebuah kutukan yang pasti kita alami. Dan karena dua hal ini bukanlah sebuah pilihan, maka akan sangat tidak adil bila dalam keseharian kita mempermasalahkan hal ini. Contoh, kita sering terjebak dalam dilematis hubungan yang mewakili permasalahan perbedaan ras. Dalam keseharian saya banyak menemui tipikal orang yang buat saya begitu radikal mengutuk kutukan orang mengenai latar belakang ras. Begitu kental terasa ketika saya menjalin hubungan dengan wanita yang kebetulan memiliki perbedaan latar belakang ini.

Ketika saya telah sampai pada titik jengah dengan stereotipe yang ada di masyarakat, saya berkomitmen bahwa pendamping hidup saya kelak adalah wanita yang memiliki latar belakang ras yang berbeda dengan saya. Pembuktian untuk diri sendiri sebagai bentuk kepuasan diri bahwa saya bisa tetap bahagia ketia memilih untuk keluar dari kebenaran umum.

Berkaitan dengan hal ini, ras Tionghoa dan Pribumi memiliki jurang pemisah yang dibelah oleh stereotpie tadi. Anggapan orang pribumi, bahwa orang Tionghoa adalah ras yang serakah, pelit, dan suka mengintimidasi dengan kekuatan ekonomi. Anggapan orang tionghoa, bahwa orang pribumi adalah orang-orang yang tidak punya masa depan. orang-orang malas yang tidak mau berkembang dan suka menipu dengan mewakili kepribumian yang dimilikinya.

Buat saya situasi ini sangat gila, dari sudut pandang manapun tidak ada pembenaran yang bisa diterima dengan anggapan-anggapan semacam ini. Bahwa kita dilahirkan itu merupaka kutukan sekaligus anugerah yang tidak satu manusiapun bisa memilih sebagai apa dia dilahirkan. Sangatlah kejam diri kita bila di dalam otak kita masih terbesit anggapan seperti ini. Bila saya punya masalah dengan latar belakang Agama yang saya anut, yang kebetulan berbeda dengan pasangan saya, hal itu bisa diselesaikan dengan sebuah pengkhianatan untuk berpindah agama. Namun ketika permasalahan itu justru muncul pada perbedaan ras, maka tidak akan ada penyelesaiannya, karena tidak mungkin seorang Manado bisa menjadi seorang Ambon.

Dalam perjalanan pembuktian ini memang terasa sulit, namun saya percaya dengan prinsip yang saya pegang bahwa tidak ada yang salah dengan perbedaan ras ini. Saya percaya bahwa Mozaik itu indah, walau berbeda, namun bisa indah dipandang. hahahaha... Kadang saya tertawa dalam kebingungan semacam ini. Ada apa dengan pemahaman budaya yang ada di Indonesia. Kepentingan politik masa lalu yang mengkotak-kotakkan kita lantas berevolusi menjadi stereotipe yang kita amini.

Saya punya latar belakang Jawa, saya bangga dengan itu. Tidak masalah. Bagaimana kamu??

Diferensi Makna Budaya

Sesekali dalam keseharian saya berhadapan dengan sebuah perbedaan yang dilatar belakangi budaya. Perjalanan pendidikan saya yang membawa contoh dari tiga daerah yang memiliki karakter budaya yang berbeda membawa sebuah pandangan unik mengenai sapaan.

Kala itu dalam perbincangan ringan di selasar kantin kampus UMN, saya berbincang perihal diferensi budaya yang beragam di Jakarta dan sekitarnya. Pengalaman saya di empat tahun di Jogja menghasilkan sebuah sapaan yang merupakan penghargaan dan penghormatan bagi individu yang belum atau baru dikenal. sapaan itu adalah Mas dan Mbak. Sapaan ringan yang sering kita dengar bukan. Dua sapaan ini tentu untuk mewakili dua gender yang berbeda. dan karena sapaan itu begitu apresiatif buat saya, maka secara terbiasa saya menggunaan sapaan itu untuk orang yang belum saya kenal atau yang baru saya kenal. Tanpa memandang latar belakang ras apapun, terkecuali untuk orang batak yang sangat kental dalam pelafalan dan dialeknya, saya memberi penamaan khusus, Bang.

Diferensi makna yang terkandung dalam sapaan Mas dan Mbak ternyata telah memiliki stereotipe tersendiri untuk beberapa kalangan. Terkadang saya mendapat tanggapan ketus ketika menggunakan sapaan ini, terutama untuk kalangan (maaf) tionghoa. Tidak ada tendensi apapun yang saya ucapkan untuk sapaan itu. Itu adalah murni sebuah apresiasi dan perwakilan rasa hormat. Sebab untuk saya, sapaan Mas dan Mbak mewakili sifat pengayom.

Tirai penghalang tersibak ketika salah seorang teman saya bercerita perihal pengalaman yang mungkin serupa dengan saya. Kala itu dia sedang pergi dengan dua temannya dan mengunjungi salah satu toko. Dua teman di depannya mengucapkan "Makasih Mbak" kepada penjaga toko. Namun teman saya mengucapkan hal yang berbeda "Makasih Cik". Seketika dua orang teman saya berbisik kepada teman saya "Cuma kamu yang paling sopan". Sapaan itu diucapkan karena teman saya mengidentifikasi sang penjaga toko memiliki karakteristik keturunan Tionghoa. Lantas teman saya tersentak sejenak dan mencoba memahami maksud dari temannya itu. Dia berasumsi bahwa sapaan Mbak dan Mas dalam konteks budaya plural Jakarta sebagai Mbak-Mbak (pembantu rumah tangga) dan Mas-Mas (kuli-kuli, tukang ojek, dll).

Dari situ saya baru menyadari bahwa ada sebuah diferensiasi dalam pemaknaan sapaan ini. Pada akhirnya perbincangan ini membawa saya pada pemahaman baru dalam beradaptasi dengan lingkungan. Pemahaman saya sebelumnya adalah, ketika kita memanggil orang dengan sapaan Ko, maka pada saat itu juga saya telah memberi cap kepada orang itu bahwa dia adalah keturunan Tionghoa. Sedangkan pemaknaan saya dengan kata Mas dan Mbak adalah untuk menghargai mereka tanpa memandang latar belakang budayanya. Sebab sapaan itu bagi saya mewakili makna yang telah saya sebutkan sebelumnya.

Baiklah, untuk konteks Jakarta dan sekitarnya, nampaknya saya harus menafikkan hal ini dan mencoba memahami sebagai orang lain untuk mengerti dan memahami orang lain. Indahnya perbedaan kadang membawa kita dalam perselisihan yang hanya dilatar belakangi oleh pengalaman.

Minggu, 23 September 2012

Sejarah Pergerakan Mahasiswa Indonesia

Mahasiswa dalam konteks dunia politik dalam negeri merupakan sebuah kekuatan besar yang bergerak dengan momentum dan berorientasi pada perubahan. Asumsi ini didasarkan pada sejarah pergerakan kaum pelajar dan mahasiswa. Pada era pra kemerdekaan, kaum pelajar adalah pionir yang berperan dalam membidani kemerdekaan Indonesia, melalui tokoh – tokoh intelektualnya – hasil dari politik etis pemerintahan kolonial Belanda. Pulang ke tanah air dengan membawa ide – ide dan strategi untuk mendapatkan kemerdekaan, dengan membangun solidaritas yang berdasarkan kesadaran. Gerakan ini bukanlah sekumpulan orang yang frustasi dengan keadaan, namun lebih pada solidaritas dengan tujuan dan cara yang jelas.

Pada era orde lama, mahasiswa kembali berperan dalam mengukir sejarah Indonesia, dengan aksi turun ke jalan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang membawa Tri Tuntutan Rakyat (Tritura). Selanjutnya diikuti oleh Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), serta kesatuan – kesatuan yang lain. Tuntutan ini memaksa Soekarno untuk melakukan reshuffle kabinet Dwikora pada 21 Februari 1966. Namun karena unsur PKI masih ada di kabinet, maka mahasiswa kembali menggelar aksi dan memboikot pelantikan menteri – menteri pada 24 Februari 1966. Aksi itu menelan korban dari kubu mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Arief Rahman Hakim.

Pergerakan mahasiswa kembali berlangsung dengan momentum kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P.Pronk, Januari 1974, dengan wacana anti modal asing. Aksi itu berlanjut sampai puncaknya pada kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang, Tanaka Kakuei, pada 15 Januari 1974, atau yang dikenal dengan Peristiwa Malari. Ribuan mahasiswa berencana menyambut kedatangan Tanaka dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Aksi itu pecah menjadi kerusuhan yang penuh dengan tindakan vandalisme, pembakaran dan penjarahan. Peristiwa ini ternyata membuat Soeharto geram sebab dianggap mempermalukannya sebagai pemimpin di depan mata internasional.

Aksi mahasiswa lainnya kembali terjadi pada 1998. Bermula dari krisis finansial asia, penembakan empat mahasiswa Trisakti dan kembali dipicu oleh kerusuhan masal di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Kerusuhan sistematis yang ditujukan kepada etnis Tionghoa di Indonesia. Toko – toko dijarah dan dibakar, wanita keturunan Tionghoa diperkosa dan dianiaya, bahkan dibunuh. Ini menjadi indikasi bahwa kerusuhan dan pemerkosaan digerakan secara sistematis, bukan sekadar tindakan sporadis semata. Peristiwa ini menjadi momentum bagi mahasiswa Indonesia untuk bergerak dan mengambil langkah demi sebuah perubahan, reformasi. Diwujudkan dengan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, aktivis, dan pemuda.

Melihat rentetan sejarah panjang pergerakan mahasiswa dan pemuda, terlihat begitu superior dan menjadi suatu patron dalam menelaah situasi dalam konteks nasional. Pergerakan mahasiswa bisa menjadi indikasi bagi lapisan masyarakat untuk ikut serta dalam perjuangan bangsa. Namun sayangnya, sejarah panjang itu tidak lepas dari tunggangan kepentingan politik yang lebih besar lagi. Mahasiswa dijadikan sebagai alat untuk memantabkan momentum untuk sebuah perubahan berskala nasional.

Celakanya dewasa ini pergerakan mahasiswa lebih dimanfaatkan untuk membuat kekisruhan dalam dunia politik. Mahasiswa yang tergolong intelek sangat mudah terprovokasi untuk bertindak anarki bahkan vandalistik dalam mewujudkan aksi. Tuntutan dan petisi seolah-olah menjadi barang mutlak untuk dipenuhi tanpa melihat secara luas dampak baik – buruk dari tuntutan mereka. partai politik tidak kalah turut serta dalam disorientasi pergerakan mahasiswa. Mahasiswa ditunggangi untuk melakukan profokasi dan aksi anarki. Tujuannya jelas, untuk mengalirkan isu nasional yang akan memicu aksi serupa.

Mengembalikan jatidiri mahasiswa menjadi agenda penting demi kembalinya fungsi dan tugas mahasiswa dalam konteks politik nasional. Bergerak tanpa kepentingan tersirat, selain bergerak demi rakyat harus menjadi prioritas. Koreksi dan evaluasi perlu dilakukan agar mahasiswa tidak merasi diri paling benar dan menjadikan itu alasan dasar untuk berbuat semaunya sendiri.

Perlu dilakukan pembinaan dan kaderisasi berbasis pemuda yang menggodok wacana tentang situasi politik nasional. Bergerak atas dasar kesadaran dan tuntutan nurani sebagai manusia murni yang menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan. Demi menciptakan generasi yang lebih cerdas dan bertanggung jawab.

Pengikut