Selasa, 13 November 2012

"Kudeta 1965"


Berakhirnya Perang Dunia Kedua (PD II) merupakan awal dari dimulainya Perang Dingin. Perang yang melibatkan dua blok besar dunia. Penganut paham demokrasi dan penganut paham komunis. Dua negara besar, Amerika yang memimpin sekutu mewakili demokrasi, dan Uni Sovyet yang mewakili komunis.

Perang ideologi ini membawa dampak besar, baik bagi negara-negara yang terlibat langsung, maupun negara yang lebih berperan sebagai simpatisan. Indonesia, mendeklarasikan diri untuk tidak memihak salah satu blok, namun pada praktiknya, Indonesia lebih condong ke Sovyet. Paling tidak, sampai akhir 1965.

Di Indonesia, bulan Oktober 1965, kaum buruh internasional menelan kekalahan terbesarnya pasca PD II. Lebih dari 1 juta jiwa melayang sebagai imbas dari kudeta militer yang diatur oleh CIA dengan eksekutor lokal Jendral Soeharto, selaku Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (PANGKOSTRAD) kala itu. Kudeta itu memanfaatkan momen goyahnya pemerintahan Soekarno, yang dipicu oleh kesehatan Soekarno yang dikabarkan menurun drastis. Tujuannya jelas, menyingkirkan pemerintahan yang berkuasa kala itu, rezim Soekarno.

Melibas komunis di Indonesia bukanlah perkara mudah. Operasi panjang CIA yang melibatkan mantan duta besar AS untuk Indonesia dan Australia, Marshall Green, yang juga melibatkan Badan Intelejen Australia (ASIS) membangun basis militer yang sengaja dipersiapkan untuk sebuah rezim anti-revolusi Indonesia. Tujuannya jelas, Menggulingkan Soekarno dan membasmi basis komunis di Indonesia.

Ketakutan pihak barat ini sangat beralasan. Dengan jumlah 3,5 juta; ditambah 3 juta dari pergerakan pemuda; 3.5 juta dari serikat buruh; dan pergerakan petani BTI yang mempunyai 9 juta anggota. serta pergerakan wanita, organisasi penulis, artis dan pergerakan kaum inteleknya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung. Jumlah ini menempatkan PKI sebagai partai komunis terbesar di dunia, di luar Cina dan Uni Sovyet.

Marshall Green mengakui keterlibatannya dan pemerintahnya dalam eksekusi kaum buruh dan simpatisan PKI. Sekitar 1 juta orang dibunuh dan ratusan ribu lainnya dijebloskan ke penjara tanpa melalui proses hukum. Penderitaan yang berhasil keluar dari penjara tidak hanya berhenti saat meninggalkan hukuman kurungan. Pencantuman label OT di tanda pengenal membuat mereka sulit mendapat pekerjaan, serta mendapat hukuman sosial di masyarakat.

Operasi kejam ini tidak lepas dari ambisi AS untuk menguasai Indonesia sebagai "Permata Asia", yang memiliki simpanan sumber daya alam yang luarbiasa banyaknya. Eisenhower tahun 1953 dalam pidatonya menegaskan betapa pentingnya Indonesia bagi Imperialisme AS.

Permainan ini sengaja diciptakan agar AS tetap bisa mengontrol Indonesia. Mengontrol Indonesia, berarti pula mengontrol Asia Tenggara dan sekitarnya. Bila Indonesia jatuh ke tangan komunis, maka garis vertikal ke bawah tidak akan bisa dikontrol oleh AS lagi.

Sebelum kudeta di Indonesia tahun 1965, Richard Nixon menyerukan untuk pengeboman saturasi untuk melindungi "potensi mineral besar" Indonesia. Dua tahun setelahnya, dia menyerukan bahwa Indonesia merupakan hadiah terbesar Asia Tenggara.

Melalui diktator Soeharto, setidaknya ada tujuh hal yang menjadi alasan utama AS menganggap betapa pentingnya Indonesia sebagai negara paling berwenang secara strategis di dunia. (1) Mempunyai populasi yang terbesar di seluruh Asia Tenggara; (2) Merupakan penyuplai utama bahan-bahan mentah di daerah itu; (3) Kemakmuran ekonomi Jepang yang terus berkembang, sangatlah tergantung pada minyak bumi dan bahan-bahan mentah lain yang dipasok oleh Indonesia; (4) Investasi Amerika yang sudah ada di Indonesia sangatlah kokoh dan hubungan dagang kita sedang berkembang cepat; (5) Indonesia mungkin secara meningkat akan menjadi penyedia yang penting untuk keperluan energi AS; (6) Indonesia adalah anggota OPEC, tetapi itu mengambil sikap yang moderat dalam langkah-langkahnya, dan tidak ikut serta dalam embargo minyak bumi; (7) Kepulauan Indonesia terletak pada jalur-jalur laut yang strategis dan pemerintah Indonesia memainkan peranan yang vital dalam perundingan-perundingan hukum kelautan, yang sangatlah penting untuk keamanan dan kepentingan komersil kita.

Kudeta 1965 merupakan kepentingan internasional AS dalam usahanya untuk menjadi negara paling berpengaruh di dunia. Indonesia menjadi parameter utama agar terciptanya cita-cita AS itu. Melalui skenario CIA dengan menggunakan kediktatoran Soeharto dalam melanggengkan eksploitasi AS terhadap sumberdaya Indonesia, mereka telah berhasil mencapai cita-citanya. Namun dalam konteks lokal, kita tengah memanen kebusukan yang ditanam 50 tahun silam. Sebuah perjuangan panjang untuk meratakan lahan itu dan menanamnya dengan benih yang benar. Mengawalnya agar tumbuh menjadi pohon teduh yang menyejahterakan yang dibawahnya.

Torehan sejarah panjang yang kelam yang sekarang tengah kita ulang.



TIDAK BOLEH ADA SEJARAH KELAM YANG TERULANG DUA KALI DI REPUBLIK INI

RESISTENSIAL,,,!!!





sumber:
http://www.wsws.org/exhibits/1965coup/coup1965.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_30_September

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut