Pasangan. Kenapa kebanyakan orang mendambakan sosok untuk menjadi pasangannya?
Teori filsafat Tao memaknai itu dalam sebuah relasi Yin-Yang. Dua unsur berlawanan yang saling berpadu, kegelapan dan cahaya terang.
Atau tentang falsafah lain yang ada dalam kitab-kitab Samawi mengenai konsepsi Adam dan Hawa. Yang sering begitu dangkal diartikan sebagai laki-laki dan perempuan.
Dua konsepsi dari Ardhi dan Samawi yang punya kesamaan mengenai sebuah perbedaan yang berrelasi dan berpadu menjadi satu kesatuan yang membangun.
Konsepsi seperti ini memang terasa antah berantah bila direlasikan dengan konteks jaman sekarang. Namun ada satu hal sahih yang masih berlaku, bahwa perbedaan punya relasi untuk menjadi satu.
Manusia diciptakan untuk berpasangan, sekalipun ia memilih untuk berpasangan dengan dirinya sendiri. Namun bagi manusia yang memilih untuk berpasangan dengan manusia lain yang berlawanan jenis, maka fase ini masuk pada ranah problematika.
Pernah sekali saya membaca tulisan seorang wanita yang ditujukan untuk kekasihnya. Perasaan hati yang bertentangan dengan pilihan si lelaki. Secara rasa si wanita tidak pernah mengerti kenapa si pria mengambil jalan yang tidak pernah masuk pada konsepsinya. Namun pada akhirnya si wanita mengakui bahwa semua rasa itu terpulihkan dengan raut si pria yang bahagia dengan pilihannya. Maka si wanita pun ikut berbahagia.
Melihat memang sebuah perkara mudah, namun tidak untuk memahami. perlu ada keterbukaan diri, hati dan pikiran untuk bisa mencerna secara utuh tentang sebuah hal yang berlawanan, seperti dua aliran agama tadi yang memadukan perbedaan
Suatu hal yang membahagiaan ketika bertemu dengan pasangan yang secara fisik, karakter, pemikiran, dan hal lain yang begitu berbeda, namun tetap bisa menjadi padu. Sudah tidak ada "Aku" di sana. Yang ada hanya "Kita". Karena perbedaan itu bukan lagi terpisah, namun telah berpadu dan mengalir menjadi satu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar