Pada 2001 Pemerintah RI sempat menghentikan operasi Freeport McMoran di Papua. Freeport dianggap melanggar konsensus PBB mengenai Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) serta aturan expansi "Gold Mining" tentang pelarangan sebuah negara beroperasi di negara lain. Namun Pada 2007 Freeport kembali beroperasi, dengan mengakali peraturan yang membuat Freeport McMoran seolah-olah perusahaan tambang milik Indonesia dan mengganti namanya menjadi Freeport Indonesia.
Hal serupa juga berlaku pada Ontario Limited Co.Ltd, Perusahaan penambang emas raksasa milik Great Britain (Britania Raya) yang berpusat di Bermuda. Ontario Limited Co.Ltd membuat anak perusahaan di Indonesia dengan nama Kalimantan Gold Corporation. Tujuannya jelas, agar secara yuridis, perusahaan ini adalah perusahaan Indonesia.
Menurut data yang dirilis dari tmx.quotemedia.com, terhitung resmi sejak 23 Mei 2012, Freeport & KGC sudah mulai menambang emas & tembaga di Kalimantan. Kedua perusahaan raksasa ini membentuk sebuah anak perusahaan untuk menjalankan operasi tambang di Kalimantan Tengah, yaitu "PT. Kalimantan Surya Kencana". Daerah operasi mereka terbentang dari Tayan Kalbar sampai Tarakan Kaltim, yang juga melewati Beruang Tengah Kalteng.
Kalimantan Gold Corporation dalam laporan resmi yang dirilis di Bursa Efek Toronto pada Selasa (29/5/2012) menyebutkan, pengeboran pertama sedang dilakukan di Beruang Tengah sejak 23 Mei 2012. ”Pengeboran pada lubang kedua diharapkan dapat dilakukan di Berungan kanan pada awal Juni 2012,” ujar Faldi Ismail, Deputy Chairman and CEO Kalimantan Gold, dalam keterangan pers yang dikutip KONTAN (www.tmx.quotemedia.com, Selasa, 29/5/2012).
Freeport & KGC Joint Operation (dalam consortiumnya menggunakan anak perusahaan bersama J.O. Kalimantan Surya Kencana) melakukan eksplorasi tembaga dan emas di Kalimantan terhitung sejak Mei 2012. Selain tercatat di bursa efek Toronto, Kanada, KLG juga tercatat di Bursa Efek London.
Dari fakta ini jelas memperlihatkan urgensi lawatan SBY ke London untuk tujuan apa. Ketika masyarakat mempertanyakan pertimbangan SBY yang lebih memilih berkunjung ke London ketimbang kunjungan untuk menyelesaikan konflik horizontal yang terjadi di dalam negeri, deal-deal seperti ini jelas sangat menguntungkan SBY secara personal dan golongan.
Di satu sisi, sebagai warga Indoonesia, saya tidak ingin papua melepaskan diri dari NKRI. Namun dari sisi sentimentil, saya pun akan melakukan hal yang sama seperti saudara-saudara di papua. Ketika semua penduduk Capitol lebih sibuk mengurusi pemimpin daerah mereka yang baru, ada bagian dari Indonesia yang diperas habis-habisan. Sekarang giliran Kalimantan. Penduduk asli tidak akan membiarkan begitu saja tanah mereka dirampas dan ekosistem mereka dirusak, disamping mereka tidak menikmati kekayaan alam mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar