Selasa, 27 November 2012

Dialog Dini Hari

Malam itu entah angin apa yang mendorong saya untuk menjemput sang kekasih yang tengah (selalu) lembur dengan pekerjaannya. Bertempat di Jalan Sudirman, Gedung CIMB menjadi kantor bagi Medco yang tengah diaudit oleh EY, kantor kekasihku. Agak tidak biasa karena hari itu telah menyantap 7 jam kemacetan, ditambah dengan pekerjaan yang harus selesai esok, namun, tepat pukul 24:00 saya tetap berangkat.

Setengah jam perjalanan mengantar saya sampai di tujuan. dan, belum ada tanda-tanda pulang. Berbekal uang 2rb di selipan kantong, saya mennghampiri pedagang kopi keliling. "Kopi Hitam satu pak". Mantab, sarapan untuk menemani hari yang panjang. Tak jauh dari sana, ada satpam yang tengah berjaga. Melihat ada potensi untuk simbiosis mutualisme, saya menghampiri satpam itu. Minta ijin tempat dengan tawaran standar. "Ngopi pak". "Mari-mari".

Saya mengawali perbincangan dengan tawaran standar kedua. "Rokok pak". "Ada saya". Mulailah masuk kedalam perbincangan dengan topik perdana "Telepon Seluler". Ia mengatakan bahwa telpon seluler sudah seperti kacang. Siapa saja bisa beli dan boleh punya lebih dari satu. Udah bukan barang mewah lagi. Padahal dulu jaman tahun 1995, namanya HP itu barang mewah banget, walau masih segede bagong. Bikin janji buat pacaranpun harus ke telpon umum dulu. Kira-kira begitulah rangkuman topik perdana.

Berlanjut ke topik pasca rehat dengan tema "Transportasi Umum". Pak satpam punya pendapat bahwa jaman makin maju, ternyata tidak berbanding lurus dengan perkembangan sarana transportasi umumnya. "Jaman saya dulu waktu pacaran, taun 93, bisa pulang malem gampang pake kopaja. Kopaja masih muter sampe jam 1 2, sekarang mah, jam 10 juga udah bagus. Makin kemari makin taksi yang dibanyakin, tiap menit lewat 5 minimal. Padahal kalo orang kayak kita mana kepikiran naik taksi."

Wah, nampaknya pak satpam sedang galau lintas jaman. oke lanjut lagi,,,

"Jalanan makin rame, malah makin sepi kopaja. dulu jam 1 juga masih bisa dapet Patas". Betul pak, saya setuju dengan keluhan ini, dan,,, keluhan sebelumnya juga sih.

Tak lama datang mobil Livina yang terasa tergesa. Kaca terbuka, terlihat sosok wanita lokal bersama pria kaukasoid. "Di dalem ada atm cimb pak?" "ada, masuk aja ke kiri". Si mas bule keluar dengan rambut pirangnya, namun tak berapa lama kembali keluar dengan oleh-oleh pertanyaan. "Dimana lagi ada ATM CIMB? Tidak bisa ambil uang di sini" pak satpam dengan sigapnya menjelaskan letak ATM terdekat.
Livina kembali berangkat dengan tergesa.

Ternyata hal itu menjadi Bridge untuk topik pamungkas. "Gila, diabisin semua cewek sini sama bule-bule" Eh, kok kayak ada hal terpendam yang asik kalau dikeluarkan nih. "Hahaha,, Bule kan demen banget sama cewek Indo pak" "Gila ya, udah ekonomi dijajah, perempuan juga"

Wahhh,,, ini menarik sekali untuk dibahas.

"Sekarang bilang udah merdeka mah, tapi sama aja. Bule-bule dateng kemari, jadi pengusaha, sukses, kita jadi budaknya."

Itu adalah quote terbaik malam itu.
Perbincangan meluas dengan cakupan VOC sebagai perusahaan, yang membuat kesimpulan bahwa selama 400 tahun yang menjajah kita adalah korporasi. Kalau dulu pas kolonial mereka menggunakan pemerintah asal sebagai penjamin keamanan, penjajah jaman sekarang makin pintar dengan memakai pemerintah lokal.

Obrolan 1,5 jam menemani saya dalam penantian misi penjemputan.
Terima kasih pak satpam
Besok jemput kita ngobrol lagi, sambil kenalan.

Nb: Maaf pak saya memalsukan umur, saya 90, bukan 85. habisnya situ tuwir bener 73, jomplang banget tar obrolan kita. hehehe,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut