Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku memulai hari dengan kemalasan. Malas untuk kembali ke dalam realita yang tak pernah masuk ke dalam logika. Malas untuk kembali memakai topeng agar tak dikenali oleh ribuan mayat lapar mencari mangsa. Malas untuk menyamar menjadi satu dari ribuan mereka. Malas untuk menangisi segala tetes air mata yang kusembunyikan di sudut kelopak mata.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku membuka pintu untuk kembali dalam hari yang tak pernah berakhir. Tak pernah berakhir sejak pertama dimulai. Tak pernah berakhir ketika menyusup dalam kenangan, bahwa yang akan terjadi nanti, adalah hari-hari kemarin. Berperang sendiri dan mengangkat pedang untuk berjuang, yang kemudian akan kembali ditinggalkan dan ditusuk dari belakang.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku membelah kerumunan mayat tanpa hati dan akal. Sebab otak dan hati mereka telah lama menjadi saksi kanibalisme yang mereka lakuka pada dirinya sendiri. Membelah ribuan mayat tanpa perasaan, yang mencoba menyamar menjadi manusia.
Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, aku menyaksikan betapa manusia bisa masuk begitu dalam ke sudut jahat hati mereka. Meracuni setiap inchi raga mereka. Menyaksikan betapa mereka sudah tidak merindukan betapa hangatnya keakraban.
Di pinggir jalan berdiri remaja separuh mayat yang sedang kebingungan dengan penentuan sikapnya. Menentukan akan menjalani sebagai apa? Aku menyaksikan semua itu.
Mata lebih sering terpejam ketika apa yang kulihat tidak pernah sama sekali melintas dibayangan. Mata terpejam, menjadi saksi betapa hidup lebih terasa mati dengan ribuan mayat yang mengelilingi.
Hari ini, 17 November 2012. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku kenali. Orang yang menopangku disaat sulit dan orang yang menikamku ketika aku jaya. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku cintai. Orang yang mau membagi sepenggal kisah hidupnya, untuk kemudian meracuniku dengan segala pujian. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku kagumi. Orang yang menjadi motivator dan mentor hidupku, yang untuk kemudian memenjarakanku dalam kebebasan.
Hari ini, 17 November 2012. Mereka masih membicarakan yang lain, yang tidak lain adalah diri mereka sendiri.
Hari ini, 17 November 2012. Aku masih menjadi saksi di tengah para mayat dan keblingsatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar