Menepi dari hingar-bingar kota. Mencari makna dalam kesunyian. Mengalami pengorbanan untuk mendapatkan nilai. Belajar tentang hidup dengan menjalani hidup itu sendiri. Pilihan jatuh pada desa Baduy. kebetulan salah seorang teman saya yang lain memiliki akses langsung dengan orang di Baduy dalam. Rencana disusun bersamaan dengan janji dengan kawan di Baduy dalam.
Gerbong yang kami naiki bukanlah gerbong penumpang. Hanya ada jendela, tidak ada pintu. Kami masuk lewat jendela dan duduk bersila. Melihat orang banyak dengan ekspresi mereka masing-masing. Melihat orang dengan segala barang bawaannya, termasuk seekor ayam pun ada. Mungkin terdengar begitu kumuh, namun kami tetap menikmati semua. menikmati perjalanan dengan khikmat.Kereta berhenti. Kami bergegas keluar. Tentu saja melalui jalan masuk kami tadi, jendela. Wahyu sempat membantu seorang ibu yang kesulitan turun dari jendela, karena memang jarak antara jendela-tanah terlalu jauh. Kepekaan dan inisiatif yang cukup menyentil saya. Sangat sederhana, namun begitu sangat menunjukkan betapa menolong orang lain dengan pengorbanan itu bisa menghasilkan senyuman.
Dari stasiun Rangkas Bitung, kami menumpang angkot menuju sebuah terminal. Terminalnya tergolong kecil. Lebih didominasi oleh angkutan jenis Elf. Kebetulan hari itu lalu lintas angkutan cukup padat, sehingga kami bertiga tidak mendapat kursi di angkutan. Seketika itu juga, ide gila muncul. "Gimana kalo di kap mobil aja", kata salah seorang teman saya. Karena kami tidak punya banyak pilihan, maka pilihan ini kami ambil. Kami hanya ingin sampai ke Baduy tepat dan berjumpa dengan kawan kami, orang Baduy Dalam.Sekitar 3 jam perjalanan mengantarkan kami dari Terminal menuju desa Ciboleger, desa terakhir yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Sesampainya di sana, kami langsung disambut oleh kawan kami, Sapri yang kebetulan membawa serta kawannya, Asmin. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah "Wow, mereka masih anak-anak ternyata". Hal itu terlihat dari bentuk wajah keduanya. Kami rehat sejenak untuk merenggangkan otot kami yang kaku setelah menegang selama 3 jam perjalanan. Kopi dan pisang goreng menemani rehat kami.
Perbincangan ringan membuka interaksiku dengan kawan baru dari Baduy Dalam ini. mereka tidak terlalu primitif untuk diajak berbincang. Ini pengalaman pertama saya berbincang dengan penghuni Baduy Dalam. Mereka cukup punya wawasan di luar adat istiadat mereka. Pengetahuan mereka tentang Jakarta membuat saya cukup tercengang, sebab mereka ternyata cukup mengenal Ibu Kota.Setelah rehat, kami memutuskan untuk memulai perjalanan. namun baru beberapa menit berjalan, hujan turun dan semakin deras. Maka kami sepakat untuk berteduh dan menunda perjalanan sampai hujan reda. Kami berteduh di teras rumah salah seorang warga Baduy Luar. Kesempatan ini membuka waktu yang cukup banyak untuk kembali berbincang. Perbincangan ringan yang disisipi sedikit humor untuk melepaskan tawa. Dua jam berlalu, hujan pun akhirnya mereda. Kami melanjutkan perjalanan.
Kala itu, jalan setapak dari tanah terasa sangat licin. Beberapa kali Ardo harus tergelincir dan kehilangan keseimbangan. Namun dua rekan kami dari Baduy Dalam nampak santai mengambil langkah. Mereka tidak memakai alas kaki. Maka, kami pun mengikuti contoh itu, dengan harapan bisa terbebas dari licinnya jalanan.
Seperjalanan, kami melewati pemandangan yang begitu luar biasa indah. Melewati danau yang begitu jernih airnya. Melintasi punggung bukit yang menyajikan pemandangan elok punggungan bukit dengan kabut tipis di lembahnya. Ditambah, udara segar yang menambah nikmatnya perjalanan kami. Sering saya mengambil nafas dalam untuk menikmati betapa nikmatnya udara, udara yang disajikan cuma-cuma. Suasana yang begitu damai segera menjadi imaji di kepala.
3 jam perjalanan dengan jalan kaki tidak terasa. Melewati sungai yang menjadi pembatas antara wilayah Baduy Dalam dan Baduy Luar. Menikmati teduhnya rumah singgah di ladang yang kami lalui. Meneguk betapa segarnya air sungai yang begitu bersih dan segar. menikmati hasil bumi dari buah durian yang beruntung masih bisa kami rasakan. Semuanya itu menjadi bumbu perjalanan kami selama 3 jam menuju Baduy Dalam.
Alat komunikasi kami matikan dan kami bungkus di dalam tas. Sebab aturan adat di Baduy Dalam tidak memperbolehkan adanya pemakaian alat elektonik. Tidak masalah. Semua itu hanya tidak bisa divisualkan. Namun tetap bisa tersaji melalui tulisan.
Sebelum masuk ke perkampungan, ada sebuah lokasi tempat penyimpanan beras. tempat penyimpanan itu seperti rumah minang, namun dalam bentuk mini. Sekitar 2 x 2 meter saja. Cukup tinggi. Dan hanya ada satu pintu kecil yang terletak di bagian atas untuk memasukkan dan mengambil beras. Tidak jauh dari lokasi itu, ada sebuah jembatan yang terbuat dari bambu yang menjadi penghubung dan pintu gerbang perkampungan.
Perkampungan yang kami datangi ini merupakan perkampungan atau desa tempat tinggal Sapri dan Asmin. Perkampungan itu bernama Ci Beo. Terdiri dari beberapa puluh rumah yang berarti beberapa puluh keluarga. Sebab aturannya di sini, setiap orang yang menikah, wajib hidup dengan keluarganya, bukan dengan orang tuanya. Kebetulan Sapri belum menikah, maka ia masih tinggal dengan orang tuanya.
Rumah-rumah di sama cukup unik. Tidak ada sebilah paku yang menjadi perekat. Semua balok terpasang dengan kuncian yang sengaja dipahat dan ibuat agar kuat menyangga dan menjadi pondasi yang kokoh. Sangat harmoni.
Pengalaman berharga berikutnya kami dapatkan ketika selesai makan malam. Kami kembali berbincang di halaman depan rumah, tepatnya di pinggir jalan. Penerangan hanya menggunakan sebuah lampu yang terbuat dari botol kaca, sumbu, dan minyak tanah.
Di dalam suasan gelap itu, saya mulai mengajukan beberapa pertanyaan mengenai konsepsi adat istiadat Baduy Dalam. Menurut penjelasan Sapri, menjadi orang Baduy Dalam itu adalah sebuah kehormatan. Hal itu karena identitas itu merupakan warisan. Orang Baduy Dalam bisa dengan mudah menjadi orang Baduy Luar, namun tidak sebaliknya. Orang Baduy Dalam memiliki peraturan yang sangat ketat, apalagi bila itu berkaitan dengan adat istiadat. Salah satu contoh adalah Orang Baduy Dalam tidak boleh berbohong. Orang Baduy dalam tidak boleh memiliki alat-alat elektronik. Tidak boleh menggunakan kendaraan. Tidak boleh mengotori sungai dan lingkungan. Dan semua aturan itu diawasi oleh seorang tetua adat yang akrab mereka panggil Pu'un.
Hal yang saya anggap luar biasa adalah kejujuran mereka. Ketika mereka bepergian ke Jakarta yang notabene jauh dari kampung, mereka masih memegang teguh prinsip untuk tidak memakai kendaraan, padahal, kalau mereka melakukan itu pun tidak ada warga Baduy Dalam yang melihat. Namun mereka tidak mengambil pilihan itu, bahkan hal itu tidak pernah hadir sebagai pilihan di kepala mereka. Di tengah perkembangan budaya msyarakat yang serba kebelinger seperti ini, ternyata ada yang masih berpegang teguh pada konsep kejujuran.
Setelah perbincangan yang cukup serius itu, maka mulai masuklah kami ke perbincangan ringan. Tiba-tiba asmin bertanya mengenai bulan yang kadang muncul dan kadang menghilang. Saya pun menjawab dengan sedikit mengingat-ingat pelajaran di SD dan SMP mengenai astronomi. Saya mencoba menjelaskan hal ilmiah dengan penjelasan populer. Namun dengan penjelasan itu, mereka hanya merespon dengan kata "Oooo..." Lalu menyambung pertanyaan sebelumnya, maka ia bertanya kembali dengan polosnya, "Terus, bisa nggak orang pergi ke bulan?" Wahyu menjawab menggunakan konsep pesawat ulang alik. Namun Sapri bertanya lagi, "Bisa nggak orang pergi jalan kaki ke bulan?". Wahyu menjawab dengan tegas "Ya nggak bisa, makanya, selama orang Baduy Dalam nggak boleh pake kendaraan, Sapri dan Asmin nggak bisa pergi ke bulan". Jawaban itu lantas membawa gelak tawa yang memecah pekatnya malam itu.
Mereka orang yang polos. Mereka seperti sebuah kertas putih yang sedang diisi dengan tulisan dan gambar. Mereka masih terlalu kosong secara pengetahuan umum. Namun untuk soal harmonisasi alam, mereka adalah guru saya. Sangat sulit berpegang teguh dengan prinsip seperti itu di tengah kehidupan serba moderen seperti ini. Namun dari situ, minimal saya bisa belajar untuk memahami sebuah ketulusan dan kebanggaan.
Nampaknya terlalu banyak yang bisa diceritakan dalam perjalanan ini. Belum kami menutup mata, masih ada dua hari lagi yang belum sempat tertuang di sini.
#Bersambung....


Tidak ada komentar:
Posting Komentar