Kamis, 04 Oktober 2012

Terbenam Sejarah: "Tan Malaka"

Menjadi bagian dari sejarah merupakan sebuah kebanggan dan kepuasan tersendiri. Menjadi bagian karena ikut berperan aktif dalam sebuah gerakan untuk perubahan dan keadaan yang lebih baik. Perjuangan yang muncul dari kemauan diri dan kegelisahan hati. Menjadi dasar yang kuat untuk mau menentang tiran yang berdiri mengangkang.

Ada seorang tokoh nasional yang cenderung terlupakan sejarah, atau sengaja dilupakan. Tokoh nasional dengan pemikiran brilian dan ispiratif demi membentuk sebuah ide tentang negara yang merdeka dan penentuan atas nasibnya sendiri. Tan Malaka. Bapak bangsa yang terasingkan.

"Kelahiran suatu pikiran sering menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya"

Kurang lebih begitu bunyi yang diutarakan Tan mengenai proses kelahiran ide. Ide muncul atas sebuah keadaan yang tidak memuaskan, dan sering kali lebih menyakitkan. Keprihatinan membuahkan kemauan dan pemikiran tentang ide-ide untuk mencapai keadaan yang lebih baik lagi. Dibutuhkan gairah muda secara pola pikir, yang jauh dari kemapanan keadaan. Pikiran muda yang begitu idealis untuk konsepsi sebuah ide yang brilian dan berani.

"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda"

Pemuda adalah golongan dengan gelora semangat perubahan yang besar yang mengandung ide-ide luar
biasa, sebuah kekayaan yang tiada tara.

Apa yang disampaikan Tan 90 tahun lalu nampaknya masih sangat begitu relevan dalam konteks masa sekarang. Pemikirannya sangat visioner, bukan sekadar pikiran taktis untuk konteks satu jaman.

"Selama orang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan putch atau anarchisme hanyalah impian seorang yang lagi demam"

Bahwa sebenarnya banyak jalan untuk mencapai suatu kemerdekaan. Bila sebuah perjuangan turun ke jalan yang identik dengan bentuk vandalisme sudah dianggap begitu usang, maka itu bukanlah suatu kebuntuan. Kita hanya perlu untuk tetap berpegang pada tujuan, dengan mengambil alternatif jalan.

Menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk bisa merealisasikan ide yang kita buahkan memang suatu kebanggaan tersendiri. Namun begitu, untuk orang sekaliber Tan nampaknya perlu diberikan pengecualian. Perlu ada sebuah penghormatan yang nyata. Tanpa Tan, mungkin tidak pernah akan ada ide untuk negara seperti Indonesia atau keinginan untuk mencapai kemerdekaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut