Agamamu apa?
Pertanyaan yang kadang membuat saya kesal karena punya tendensi untuk mengharamkan kepercayaan yang saya anut. Nama saya Yohanes Preva Dimas Wihendarto. Ketika orang melihat nama itu, mereka bisa seketika itu tahu bahwa saya seorang Jawa yang menganut kepercayaan nasrani. Karena Yohanes merupakan nama rasul dalam sejarah gereja Khatolik, serta Wihendarto dengan huruf "O" di akhir nama yang mewakili etnis Jawa. Sejujurnya saya kurang nyaman dengan hal itu. Oleh sebab itu saya selalu memperkenalkan diri sebagai Preva Dimas, tanpa Nasrani, tanpa Jawa. buat sebagian orang, mungkin saya pengecut, namun saya tidak perlu memberikan pembuktian kepada mereka bahwa anggapan itu salah.
Dalam konteks budaya di Indonesia, masyarakatnya yang telah terlalu lama terkotak-kotak dengan Agama dan Ras membuat saya kurang leluasa dalam mengambil peran di ranah publik. Sesekali ada saja orang yang berani menanyakan Agama saya apa. Bukan untuk suatu kepentingan, namun hanya untuk sekadar memberi posisi saya di mata mereka. hahaha... Picik.
Mungkin banyak saja orang yang mengalami kejengahan seperti yang saya alami ini. sebagian besar dari mereka mengambil langkah untuk menanggalkan Agama dan kepercayaan akan Tuhan. Anggapan bahwa agama hanya menjadi pemecah dalam kehidupan sosial. Bagi saya, realita ini tidak bisa dimaknai sama untuk setiap sisi. Ada sebuah kekosongan dalam diri manusia yang tidak pernah ada jawabnya. kekosongan ini seringkali diisi dengan memasukkan konsepsi akan dzat yang menciptakan alam semesta, dzat yang memberi kehidupan. dzat yang memelihara kehidupan. dzat yang akhirnya dipahami sebagai Tuhan.
Secara kepercayaan, saya mengimani Kritus. Bukan karena dia anak Allah seperti cerita dan kisah dalam Alkitab. Namun karena sosok yang ada pada dirinya begitu menginspirasi dan seringkali menjadi pemecah kebuntuan pada situasi sulit yang saya alami. Situasi yang muncul karena arogansi dan ego kita sebagai manusia. Mungkin bila Gabriel mendatangi Maria dan berkata bahwa Maria harus memberi anaknya nama "Ucok", maka Ucoklah yang akan saya Imani.
Kekaguman saya bukan pada kebangkitanNya, namun lebih pada sikap dan sifat hidup Kristus sendiri. Maka dalam hal ini saya akan tetap mengimani Kritus terlepas Ia akan bangkit dari kubur dan naik ke surga. Meski Ia membusuk di kuburnya, saya akan tetap mengimaniNya.
Mungkin ini lebih terasa seperti promosi kepercayaan. Namun yang ingin saya sampaikan adalah saya sedang berbicara mengenai kepercayaan yang saya anut, bukan membicarakan Agama yang tertulis di KTP saya. Karena ketika kita membuka diri untuk mendengar apa yang dipercayai orang lain, hal itu akan lebih nyaman untuk diperbincangkan. Ketimbang kita gontok-gontokan berbicara mengenai Agama yang sangat erat kaitannya dengan budaya tempat agama itu lahir, serta politisasi agama itu sendiri.
Kepercayaan cukup hidup dalam diri masing-masing, sebuah hubungan sakral antara manusia dengan penciptanya. Ketika manusia hidup dalam sosial masyarakat, maka kepercayaan itu tersampaikan melalui sikap hidup dan perilaku keseharian. Pemaknaan terdalam pada sebuah kepercayaan adalah pada penerapannya, bukan sekadar wacana untuk dipergunjingkan.
Maka untuk menjawab pertanyaan pembuka di atas adalah "Saya Nasrani". Tidak pakai Khatolik, Protestan, Ortodoks, atau yang lainnya. Saya hanya mengimani pribadi manusia teladan dalam diri Kristus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar