Ramlan Soemargo. Seorang intelek muda yang memiliki keahlian dalam bidang sosiologi dan antropologi. Keahlian yang didapat dari jalur formalnya. Namun dalam interaksinya, Ramlan bisa dibilang seorang psikolog. Interaksi sosial yang tinggi membuatnya memiliki banyak kerabat dan akses-akses yang jarang dimiliki kaum muda. Kelebihan ini sangat disadarinya. Ia juga menyadari bawha semua itu mampu membuka jalan dan akses baru yang membuatnya bisa lebih berkembang, termasuk akses politik.
Seorang idealis yang lebih banyak terjun langsung ke masyarakat. Menggelar diskusi di berbagai tempat dan memberdayakan pemuda di desa agar memiliki orientasi diri yang jelas. Diskusi dan menonton film merupakan agenda hariannya. Sebuah jalan yang ditekuni dengan hati dan dedikasi. Kesadaran diri membawanya merasa perlu ikut membangun kaum muda
Malam itu, setelah diskusi film, ada pria paruh baya dengan tatapan tajam memperhatikannya. Tatapan itu sudah dirasakan Ramlan setelah sampai di sebuah desa di pinggiran tangerang, sebelum acara dimulai. Mulutnya berbicara, matanya menatap peserta diskusi, namun sudut matanya tak melepaskan perhatian ke paruh baya itu. Dan ternyata, benar saja.
Seusai acara, pria itu menghampirinya, menebar senyum sambil menjulurkan tangan. “Bung Ramlan, apa kabar? Saya Yatno.” Ramlan menyambut tangan pria itu dan lantas mereka berjabat tangan. Jabatan tangan yang tegas dan sangat mempresentasikan karakter dari bukan orang biasa. Basa-basi menjadi menu pembuka obrolan itu yang akhirnya ditutup dengan sebuah tawaran. “Kapan-kapan kita bisa ngobrol lagi? Saya tinggal di Bintaro, ini kartu nama saya.”
Obrolan malam itu dengan Yatno ternyata cukup impresif bagi Ramlan. Impresif karena meninggalkan sebuah pertanyaan besar. “Apa motifnya?” Sebuah pertanyaan yang membawanya pada lanjutnya hubungan yang berawal dari sebuah acara diskusi. Hubungan yang menjadi awal bagi tergadainya sebuah idealisme.
“Anda tahu? Tidak banyak pemuda yang mendedikasikan diri untuk membangun bangunan kesadaran pada pemuda di desa. Bung punya motivasi yang besar dan dedikasi pada pekerjaan. Apa bung tidak merasa perlu untuk terus mengembangkan itu?” Pertanyaan yang mengandung stimulus yang besar, mengundang ambisi untuk tidak sekadar menjadi pelayan, namun juga aktualisasi personal.
Ramlan bergabung dalam organisasi berwujud parpol. Alasan Ramlan bergabung cukup bisa diterima dengan nalar. “Partai ini satu idealisme dengan saya. Saya bisa lebih berkiprah melalui ini.” Pernyataan standar yang sebenarnya sudah terinfeksi dengan kepentingan lain dari sekadar diskusi dan menonton film.
Kendaraan politik itu ternyata memang bisa membawa seseorang pada aktualisasi diri. Mempresentasikan dirinya dan membuatnya lebih dikenal luas. Foto Ramlan telah terpajang di sana-sini. Foto-foto yang mewabah ketika ada pemilihan wakil daeran untuk pusat. Ya, Ramlan tercalon menjadi calon legislatif. Motivasinya masih sama, memberdayakan pemuda. Kendaraannya, partai politik.
Program demi program disusunnya guna mensukseskan cita-citanya memberdayakan pemuda. Program-program dengan sekian rupiah. Membawa dirinya merasa semakin terapresiasi bukan sekadar kegiatan amal nirlaba. Pekerjaan yang mampu memberikannya hidup layak, bahkan mapan, bahkan lebih. Tidak ada lagi sepeda motor. Tidak ada lagi menumpang dan dijemput pemuda dari desa. Tidak ada lagi baju yang selama ini dipakainya sebagai pengabdi masyarakat.
Kegiatan tetap sama. Diskusi dan menonton film. Sedikit masuk juga promosi kendaraan politiknya. Dukungan semakin kuat, membawanya naik dalam periode kedua. Semakin mapan dan berlebihan. Tidak cukup membawa kepuasan. Malah pikiran untuk terus menerus mencari objekan.diskusi menjadi kamuflase.
Infiltrasi partai semakin tinggi. Membatasi ruang gerak dan kiprah yang menjadi rutinitasnya. Minimal adalah rutinitas sebelum menjadi anggota dewan. Dalam situasi ini, kepentingan golongan sudah bih besar dari idealismenya. Serangkaian program dan proyek dirancang yang semakin sering menjadi tanpa realisasi, namun tetap ada laporan pertanggungjawaban. Dari mana asalnya?
Program-program pemberdayaan pemuda menjadi semakin tergadaikan. Proyek besar yang menjadi target partai menjadi target jangka pendek Ramlan. Mengumpulkan pundi-pundi menjadi target jangka menengah. Kedudukan menjadi target jangka panjangnya. Tidak ada lagi idealisme. Ramlan semakin jauh masuk ke dalam lingkaran. Bukan hanya berada di arus, namun telah menjadi motor pada lingkaran itu. Ramlan Soemargo telah luntur. Ramlan Soemargo hanya nama, tanpa jiwa, tanpa idealisme, tanpa nurani.
Ramlan semakin menikmati zona nyamannya. Membuatnya terus dan terus berusaha untuk ada dalam posisi itu. Namun seperti biasa, seperti yang telah terjadi berulang dalam sejarah. Kepentingan membutuhkan pengorbanan. Ramlan yang mempunyai kepentingan kedudukan telah mengorbankan idealismenya. Kendaraan politik memiliki kepentingan dalam kancah politik nasional juga mengajukan korban. Korban dari tubuh partai, Ramlan Soemargo.
Tidak ada lagi idealisme. Tidak ada lagi nurani. Tidak ada lagi kedudukan. Tidak ada lagi aktualisasi diri. Tidak ada lagi kepentingan. Tidak ada lagi nama baik. Tidak ada lagi peluang. Tidak ada lagi harapan. Yang masih tersisa adalah namanya, tanpa jiwa. Telah lama mati. Ramlan Soemargo, korban dari kepentingan besar. Setoran rutin partai. Limbah pabrik kekuasaan dan kepentingan besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar