Kamis, 27 September 2012

Pejuang Dalam Pelarian

Masih ingatkah kalian dengan peristiwa 65? Sebuah konspirasi politik terbesar yang pernah dialami negeri ini. Besar karena banyak kepentingan yang bermain di sana, baik oleh elit lokal, maupun kepentingan Internasional. Setelah berakhirnya PD II, dua negara besar saling terlibat perang dingin. Perlombaan untuk menjadi negara paling berpengaruh di dunia, baik secara ideologi, maupun peta kekuatan militernya.

Indonesia di bawah kepemimpinan Soekarno lebih condong ke Soviet, hal itu ditandai dengan hubungan bilateral yang harmonis. Soviet kala itu juga bukan karena tidak ada tendensi dekat dengan Indonesia. Ketika Indonesia masuk ke dalam arus komunis, maka garis tegak dari atas ke bawah belahan bumi itu akan dikuasai komunis, begitu pula dengan Australia dan negara boneka Malaysia.

Namun seperti biasanya, bahwa konspirasi merupakan agenda besar yang semata-mata hanya berorientasi pada tujuan akhir. menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Indonesia masuk ke dalam bagian yang harus dikorbankan. Caranya dengan menciptakan gejolak dengan skala nasional dengan dua agenda besar, Menumpas simpatisan dan partai komunis, serta menggulingkan kepemimpinan Soekarno. Jutaan nyawa melayang kala itu, nyawa mereka yang masuk sebagai anggota dan simpatisan PKI maupun nyawa orang-orang yang sengaja dikorbankan dan menjadi tumbal.

Dari jutaan orang yang terganjal peristiwa itu, ada satu orang yang berhasil selamat dengan menjalani 15 tahun hukuman yang dibagi menjadi dua, hukuman penjara dan tahanan kota. Orang ini sama sekali tidak terkait dengan gerakan partai-partai atau ormas-ormas. Orang ini murni hidup sebagai prajurit, sebagai militer.

Selama menjalani hukuman di nusa kambangan, dia melihat dan mengalami sendiri kejamnya penyiksaan yang tidak pernah terbayangkan di era manusia moderen abad 20. Biji jagung yang dikombilasikan dengan kerikil atau pasir, hampir menjadi menu wajib makan sehari-hari di dalam sel. Tidak sedikit yang mati akibat gangguan pencernaan. Namun dia berhasil bertahan sampai bebas dari hukuman penjara dengan cap OT di kanan atas kartu identitas kewarganegaraannya.

Dia berpikir bahwa dia tidak mungkin bertahan hidup dengan kondisi sosial masyarakat di Jawa yang sangat erat dengan peta konflik politik yang barusan terjadi. Oleh sebab itu dia pergi menyeberang lautan dan hidup di Kalimantan dan memulai bisnis elektronik. 30 tahun lebih dia menjalani hidup sebagai pelarian, sebagai orang yang dibuang oelh negaranya sendiri, negara yang dia bela, negara yang dicintainya. Tidak ada luka yang lebih dalam daripada luka orang yang dikhianati oleh sesuatu yang dicintainya.

Sampai akhir hidupnya dia hidup sebagai pelarian. Meski pada masa pemerintahan Gus Dur ada pemulihan nama baik kepada orang-orang yang tersandung kasus 65, namun itu tidak terlalu berpengaruh banyak. Titel PKI yang dicap orang kepada dirinya tidak membawa perubahan banyak dalam kehidupan sosialnya.Namun paling tidak, dia telah berhasil hidup sebagai pejuang. Pejuang yang berjuang untuk Istri. Pejuang yang berjuang untuk anak-anaknya. Pejuang yang berhasil menanamkan benih-benih perjuangan dalam tiap diri ketiga anaknya.

Masa perjuangannya telah berakhir sejalan dengan tutupnya usia. Perjuangan yang dia jalani semasa hidupnya kini telah dilanjutkan oleh ketiga anaknya. Tentu saja bentuk perjuangannya telah berbeda. Namun paling tidak nilai yang menghidupi perjuangan itu tetap sama. Dia orang yang sangat luar biasa. Inspirasi bagi hidupku. Ayah yang menjadi patron hidupku. Orang tua yang menjadi teladanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut