Rabu, 26 September 2012

Satu Malam Di Progo

Seperti biasanya, perjalanan Jogja - Jakarta adalah sebuah pembelajaran dan pengingat. Kereta ini punya nilai tersendiri buat saya. Ia merupakan sarana pengingat dan pembelajaran untuk saya. Kelasnya memang hanya Ekonomi, cukup dengan 35 rb, saya bisa sampai ke Ibukota kala itu. Sesuai dengan kelasnya yang ekonomis.

Sedikit kisah mengenai kereta ini yang mungkin tidak banyak orang tau. KA Progo pertama beroperasi pada akhir 70an. Selanjutnya pada awal 80an ada penataan ulang, salah satunya adalah kereta Senja Ekonomi Yogya dengan relasi Gambir - Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu, relasi diubah menjadi Pasar Senen -Lempuyangan, yang selanjutnya terjadi perubahan nama menjadi Empu Jaya yang merupakan akronim dari Lempuyangan - Jakarta Raya. Namun sayangnya dalam operasinya, kereta ini sering mengalami kecelakaan. Kemudian sekitar 2002 namanya kembali diubah menjadi KA Progo. Progo sendiri merupakan nama dari sebuah sungai yang ada di Yogyakarta.

Seperti kisah hidup kereta Progo yang panjang, sayapun memiliki sejarah panjang dengan kereta ini. "Kenapa sukanya nyiksa diri naik ekonomi dempet-dempetan. Nyiksa badan aja". Itu adalah kalimat yang sempat keluar dari mulut ibu saya. nampaknya dia begitu prihatin melihat anak bontotnya berdesak-desakan di Progo. Alasannya sederhana, saya mencari kenyamanan perjalanan.

Bicara tentang kenyamanan, tentu saja tolak ukurnya berbeda-beda. Bagi banyak orang, kenyamanan perjalanan adalah kursi empuk yang bisa diatur kemiringannya, kesejukan udara dari mesin pendingin, serta mungkin selimut dan bantal birunya. Hal ini tidak salah sama sekali. Namun yang jelas untuk saya, kenyamanan adalah ketika saya bisa bertemu dengan banyak orang dengan segala permasalahannya dan kami dapat ngobrol panjang lebar tentang segala topik sampai yang mengiringi perjalanan sampai ke kota tujuan. Tidak jarang saya berdiri beberapa jam karena penuhnya penumpang yang ingin berangkat. Sesaat dilain perjalanan ketika saya datang lebih awal saya mendapat tempat duduk. Namun tidak jarang pula tempat duduk saya yang nyaman harus saya ikhlaskan kepada seorang nenek atau ibu hamil, atau seorang ibu dengan bayinya. "Silakan bu, duduk di tempat saya". "Matur suwun mas". Tiga kata yang buat saya mampu menahan mulut saya untuk selalu tersenyum selama perjalanan. Kadang, hal itu merupakan salam kenal dan sapa untuk memulai perbincangan.

Ketika PT KAI belum merevitalisasi armadanya, banyak pedagang yang naik - turun dan lalu - lalang selama perjalanan. Mulai dari menjajakan makanan, buku, sampai barang-barang Cina yang multifungsi dan tentu saja murah meriah. Ketika kereta mulai masuk Cikampek, ada beberapa pengammen yang masuk dan memamerkan kebolehannya dalam bermusik. Ada pula anak jalanan bermodal sapu dan pewangi ruangan yang membersihkan gerbong dan menyemprotkan aroma wangi dari botol spray yang dibawanya. Semua dibayar dengan seikhlasnya.

Semua hal itu adalah kejadian yang tidak akan pernah ditemui di kereta lain yang kelasnya lebih tinggi. Dari hal-hal kecil ini saya mengamati dan mencoba merefleksikan diri. Merefleksikan keadaan diri yang saya alami dengan realita kondisi ratusan orang yang sekadar menumpang atau menjadikan kereta ini sebagai penyambung hidup mereka. Seburuk-buruknya situasi hidup yang saya alami, saya merasa masih lebih beruntung dari sebagian besar orang yang ada di sana. Beruntung karena situasi hidup saya tidak sekeras mereka. Beruntung karena saya bisa menjual kemampuan dari sekadar menjual tenaga. Beruntung karena masih bisa memberi untuk mereka yang meminta.

12 jam perjalanan untuk bekal kecil panjangnya kehidupan yang saya jalani. Kereta Progo memberikan pelajaran kecil agar saya selalu ingat dan tidak lupa diri dengan keberhasilan dan kesuksesan yang bisa saya raih. Untuk sekarang saya telah menetap di Tangerang. Selama saya masih lajang dan melakukan perjalanan sendiri, Kereta Progo akan tetap menjadi prioritas mode transportasi untuk mengantarkan saya kembali ke Kota Jogja. Berjumpa dengan guru-guru luarbiasa yang mau membagi sepenggal cerita yang sangat menginspirasi untuk saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut