Minggu, 23 September 2012

“Karir Sempurna Bermula dari Pendidikan Sempurna”

Frasa yang menjadi judul di atas merupakan slogan dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Universitas yang kita kenal sebagai anak perusahaan dari Kompas Gramedia Group (KG). Universitas pada hakekatnya merupakan lembaga nirlaba yang berperan dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi. Tiap universitas memiliki karakternya masing-masing, dan karakter itu bisa dilihat dari karakter individu – individu yang hidup di dalamnya.

UMN didirikan dengan angan – angan luhur dari pendirinya yang tidak lain adalah CEO dari KG Group, Jacob Oetama. Ia ingin berperan dalam mencipkakan manusia yang mau dan mampu untuk membangun Indonesia ke arah yang lebih baik. Setidaknya itulah yang dikatakannya ketika memberikan sambutan di function hall UMN ketika peresmian gedung UMN. Maka pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah, benarkah demikian adanya?

Universitas ini berdiri pada 2006 dengan angkatan pertama 2007. UMN baru menyelenggarakan wisuda mahasiswa pertamanya pada akhir 2011. UMN lahir ditengah maraknya isu tentang komersialisasi dua sektor strategis yang sedang berkembang, pelayanan kesehatan dan pendidikan. UMN jelas bermain dalam ranah yang kedua. Dikatakan komersialisasi karena sebuah lembaga tidak lagi mengarah pada tujuan dasar bidang yang menjadi konsentrasi, dan lebih mengedepankan laba dari penyelenggaraannya. Apakah UMN masuk dalam ketegori kampus komersil?

Definisi yang diberikan oleh Derek Bok dengan komersialisasi perguruan tinggi adalah berbagai upaya untuk mencari keuntungan dari pengajaran, penelitian dan kegiatan - kegiatan lain di kampus. Bila ingin dirinci di dalamnya termuat (1) pengaruh kekuatan ekonomi terhadap kehidupan universitas (misalnya ilmuilmu yang laku jual menjadi disiplin mayor dalam departemen). (2) pengaruh dari budaya korporasi ke dalam lingkungan kampus (rektor universitas diambil dari CEO perusahaan yang sukses, pemakaian istilah bisnis seperti bottom line, brand nama dalam kehidupan kampus). (3) kepentingan karir mahasiswa memasuki dunia kerja berpengaruh terhadap penataan kurikulum universitas.

Dari definisi tersebut, maka bisa kita lihat ada tiga indikator untuk mengategorikan sebuah perguruan tinggi tergolong komersil atau masih berpijak pada penyelenggaraan pendidikan yang luhur. Secara singkat bisa dirumuskan bahwa siapa rektor universitas itu, apa saja fakultas dan program studinya, serta sinergi kurikulum dengan dunia kerja.

Secara singkat pula bisa dikatakan UMN bukan memberi atensi pada pengolahan pola berpikir wirausaha, namun lebih pada kesiapan menyetak profesional muda yang siap kerja. Asumsi ini didasarkan pada minimnya bahkan tidak adanya inkubasi bisnis untuk mahasiswanya. Maka konsekuensi logis dari semua itu adalah UMN menyiapkan para pegawai dan karyawan untuk perusahaan – perusahaan dan sektor bisnis yang sudah ada, bukan menciptakan peluang bisnis baru. Hal itu dibantu dengan slogan yang diusungnya juga.

Dengan demikian, apakah cita – cita luhur sang pendiri masih relevan dengan situasi yang ada sebenarnya? Atau memang dari awal cita – cita itu tidak pernah ada? Hanya sebagai penampakan bayangan di depan kabut yang tidak pernah diketahui sosok sebenarnya di belakang kabut?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut