Sesekali dalam keseharian saya berhadapan dengan sebuah perbedaan yang dilatar belakangi budaya. Perjalanan pendidikan saya yang membawa contoh dari tiga daerah yang memiliki karakter budaya yang berbeda membawa sebuah pandangan unik mengenai sapaan.
Kala itu dalam perbincangan ringan di selasar kantin kampus UMN, saya berbincang perihal diferensi budaya yang beragam di Jakarta dan sekitarnya. Pengalaman saya di empat tahun di Jogja menghasilkan sebuah sapaan yang merupakan penghargaan dan penghormatan bagi individu yang belum atau baru dikenal. sapaan itu adalah Mas dan Mbak. Sapaan ringan yang sering kita dengar bukan. Dua sapaan ini tentu untuk mewakili dua gender yang berbeda. dan karena sapaan itu begitu apresiatif buat saya, maka secara terbiasa saya menggunaan sapaan itu untuk orang yang belum saya kenal atau yang baru saya kenal. Tanpa memandang latar belakang ras apapun, terkecuali untuk orang batak yang sangat kental dalam pelafalan dan dialeknya, saya memberi penamaan khusus, Bang.
Diferensi makna yang terkandung dalam sapaan Mas dan Mbak ternyata telah memiliki stereotipe tersendiri untuk beberapa kalangan. Terkadang saya mendapat tanggapan ketus ketika menggunakan sapaan ini, terutama untuk kalangan (maaf) tionghoa. Tidak ada tendensi apapun yang saya ucapkan untuk sapaan itu. Itu adalah murni sebuah apresiasi dan perwakilan rasa hormat. Sebab untuk saya, sapaan Mas dan Mbak mewakili sifat pengayom.
Tirai penghalang tersibak ketika salah seorang teman saya bercerita perihal pengalaman yang mungkin serupa dengan saya. Kala itu dia sedang pergi dengan dua temannya dan mengunjungi salah satu toko. Dua teman di depannya mengucapkan "Makasih Mbak" kepada penjaga toko. Namun teman saya mengucapkan hal yang berbeda "Makasih Cik". Seketika dua orang teman saya berbisik kepada teman saya "Cuma kamu yang paling sopan". Sapaan itu diucapkan karena teman saya mengidentifikasi sang penjaga toko memiliki karakteristik keturunan Tionghoa. Lantas teman saya tersentak sejenak dan mencoba memahami maksud dari temannya itu. Dia berasumsi bahwa sapaan Mbak dan Mas dalam konteks budaya plural Jakarta sebagai Mbak-Mbak (pembantu rumah tangga) dan Mas-Mas (kuli-kuli, tukang ojek, dll).
Dari situ saya baru menyadari bahwa ada sebuah diferensiasi dalam pemaknaan sapaan ini. Pada akhirnya perbincangan ini membawa saya pada pemahaman baru dalam beradaptasi dengan lingkungan. Pemahaman saya sebelumnya adalah, ketika kita memanggil orang dengan sapaan Ko, maka pada saat itu juga saya telah memberi cap kepada orang itu bahwa dia adalah keturunan Tionghoa. Sedangkan pemaknaan saya dengan kata Mas dan Mbak adalah untuk menghargai mereka tanpa memandang latar belakang budayanya. Sebab sapaan itu bagi saya mewakili makna yang telah saya sebutkan sebelumnya.
Baiklah, untuk konteks Jakarta dan sekitarnya, nampaknya saya harus menafikkan hal ini dan mencoba memahami sebagai orang lain untuk mengerti dan memahami orang lain. Indahnya perbedaan kadang membawa kita dalam perselisihan yang hanya dilatar belakangi oleh pengalaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar