Bagi orang khatolik atau kristen, mungkin kalian tahu kalimat apa yang ada di atas. Ya, benar. Itu adalah salah satu kalimat yang ada dalam janji pernikahan dalam Khatolik. Mempelai disosori pertanyaan demikian dan diharuskan untuk menjawab "Ya, kami bersedia". Maka tafsiran yang muncul dalam hal ini bahwa agama dalam konteks Khatolik merupakan warisan. Warisan yang bukan diberikan ketika orang tua berpulang, namun warisan yang diberikan ketika sang anak mulai dikandung dan dilahirkan.
Hal itu juga saya alami sebagai individu bebas yang hidup di tengah keluarga Khatolik. Sedari bayi saya telah dibaptis dengan nama Yohanes. Siapa Yohanes? Yohanes yang mana? Apa saya memang membutuhkan pelindung dengan nama itu? Hal itu baru saya sadari ketika saya mulai beranjak dewasa. kesadaran bahwa apa yang saya alami merupakan penindasan dan diskriminasi yang dilakukan oleh organisasi keagamaan, Khatolik. Siapa yang salah? Bukan itu yang saya pertanyakan. Saya lebih mempertanyakan dimana kebebasan dan kemerdekaan anak-anak Khatolik sebagai manusia? Apakah ketika Ayah dan Ibu saya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang berbeda, lantas pernikahan mereka akan tergagalkan?
Mungkin orang tua saya menganggap hal itu sebagai beban sekaligus tanggung jawab mereka terhadap sumpah suci yang menyatukan mereka di hadapan Tuhan. Mengapa Tuhan hanya bisa diam dan tidak membela kami bayi-bayi yang tertindas?
Manusia hanya membutuhkan tempat tenang dalam hati mereka masing-masing untuk berintim dengan Tuhan mereka. Perayaan ekaristi di mata saya tidak lebih dari sekadar rutinitas ritual yang telah lama kehilangan arti di mata umat-umat yang mengikutinya. Lalu dimana letak kesakralan dari warisan 2000 tahun silam itu? Warisan yang dalam sejarah perkembangannya mengalami banyak tragedi berdarah dan politisasi. Tidak perlulah itu dibeberkan di sini.
Saya hanya memberikan pandangan bahwa ada banyak bentuk penindasan dari lembaga dan organisasi keagamaan itu. Manusia hanya memerlukan komunikasi vertikal dengan Tuhannya, serta melakukan komunikasi horizontal kepada sesamanya. Dan dua hal ini merupakan dua bentuk komunikasi yang sangat berbeda. Namun dua hal itu terlalu disamarkan dengan sejarah panjang lembaga keagamaan. Semoga kita dapat memilih dan memilah dengan sadar apa yang kita imani dan kita lakukan sebagai manusia yang mengaku beragama dan berTuhan. Hidup sebagai manusia yang manusiawi dengan kemampuan komunikasi vertikal yang magis kepada penciptanya.
Hal itu juga saya alami sebagai individu bebas yang hidup di tengah keluarga Khatolik. Sedari bayi saya telah dibaptis dengan nama Yohanes. Siapa Yohanes? Yohanes yang mana? Apa saya memang membutuhkan pelindung dengan nama itu? Hal itu baru saya sadari ketika saya mulai beranjak dewasa. kesadaran bahwa apa yang saya alami merupakan penindasan dan diskriminasi yang dilakukan oleh organisasi keagamaan, Khatolik. Siapa yang salah? Bukan itu yang saya pertanyakan. Saya lebih mempertanyakan dimana kebebasan dan kemerdekaan anak-anak Khatolik sebagai manusia? Apakah ketika Ayah dan Ibu saya menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang berbeda, lantas pernikahan mereka akan tergagalkan?
Mungkin orang tua saya menganggap hal itu sebagai beban sekaligus tanggung jawab mereka terhadap sumpah suci yang menyatukan mereka di hadapan Tuhan. Mengapa Tuhan hanya bisa diam dan tidak membela kami bayi-bayi yang tertindas?
Manusia hanya membutuhkan tempat tenang dalam hati mereka masing-masing untuk berintim dengan Tuhan mereka. Perayaan ekaristi di mata saya tidak lebih dari sekadar rutinitas ritual yang telah lama kehilangan arti di mata umat-umat yang mengikutinya. Lalu dimana letak kesakralan dari warisan 2000 tahun silam itu? Warisan yang dalam sejarah perkembangannya mengalami banyak tragedi berdarah dan politisasi. Tidak perlulah itu dibeberkan di sini.
Saya hanya memberikan pandangan bahwa ada banyak bentuk penindasan dari lembaga dan organisasi keagamaan itu. Manusia hanya memerlukan komunikasi vertikal dengan Tuhannya, serta melakukan komunikasi horizontal kepada sesamanya. Dan dua hal ini merupakan dua bentuk komunikasi yang sangat berbeda. Namun dua hal itu terlalu disamarkan dengan sejarah panjang lembaga keagamaan. Semoga kita dapat memilih dan memilah dengan sadar apa yang kita imani dan kita lakukan sebagai manusia yang mengaku beragama dan berTuhan. Hidup sebagai manusia yang manusiawi dengan kemampuan komunikasi vertikal yang magis kepada penciptanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar