Minggu, 30 September 2012

Ikhlas

Kadang kita sering menghela nafas, terperangah dan diam, atau bahkan menangis terisak atau meraung, ketika kita mendapati situasi di luar spekulasi hidup kita. Respon diri untuk melawan ketika berhadapan dengan situasi ini sangat-sangat manusiawi. Kita akan lebih memilih untuk suka pada hal yang kita suka, dan memilih benci untuk hal yang kita benci. Namun begitu sangat jarang kita bisa suka pada hal yang kita benci.

Empat tahun silam saya pernah mengalami hal seperti ini. Mengalami rasa kecewa yang teramat sangat. Bukan kepada diri sendiri, namun pada orang yang sangat saya sayang dan cintai. Dia adalah salah satu orang yang membimbing saya dari kecil hingga saya besar. Dia adalah kakak yang teramat sangat dekat dengan emosional dan sisi sentimentil saya.

Tidak ada cela yang perlah dilakukannya semasa saya mengenalnya, sebelum hari itu tiba. Saya sangat marah dan kesal untuk mendengar dan dipaksa menerima kenyataan yang tidak pernah sedikitpun terlintas di pikiran dan perasaan saya. Kala itu menjadi saat yang sangat penting. Rasa marah, kecewa, sedih, bercampur dalam satu wadah.

Empat tahun berlalu. Sekarang, kami semua bisa tertawa ketika harus kembali mengenang masa itu. Hari yang pernah kami lalui dengan tetesan air mata dan luapan emosi, bisa menyublim menjadi serangkaian guyon sore hari menemani obrolan dalam menikmati secangkir kopi. Kami mengenang itu dengan senyum dibibir, gelak tawa.

Seperjalanan pulang dari kediamannya saya berusaha mencerna dan melihat kembali tentang proses apa yang telah kami alami. Proses yang membawa kami menuju satu titik cerah untuk bisa melangkah dari keterpurukan. Melanjutkan dalam khayalan sambil nongkrong di kamar mandi. Kemudian duduk di beranda depan dengan secangkir kopi. Kilasan itu hanya membawa saya pada satu kata, Ikhlas. Kami telah berhasil mengikhlaskan hal buruk yang kami terima. Kami berhasil mengubur kenangan suram sampai iya bisa tumbuh menjadi pohon kendal yang rindang, hingga kami bisa berada pada situasi yang nyaman.

Ikhlas, adalah satu-satunya jawaban bagi saya untuk bisa menikmati ketidakenakan yang dialami. Ikhlas, adalah satu-satunya jawaban untuk alasan bisa melangkah. Ikhlas adalah satu-satunya alasan agar saya bisa menikmati tiap-tiap getir yang datang menghampiri. Proses panjang membawa pada satu fase yang menghadirkan pengalaman sebagai guru yang sangat berharga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pengikut