Ketika manusia dipercaya terlahir dari maha karya sang pencipta:
Beringas, ganas, serakah, dan sifat buruk lainnya.
Kesan pertama yang bernuansa negatif. Merupakan cara pandang umum dari manusia. Mampu melihat titik hitam yang kecil di atas kanvas, tanpa mau menyadari betapa dominannya warna putih dari kanvas itu.
Lama aku mencari kesadaran hidup sebagai manusia. Maih dalam proses pembelajaran tanpa henti hentinya berkoreksi sambil bersyukur atas udara yang masih boleh kuhirup setiap detik. Bersyukur atas hangatnya matahari yang masih bisa kunikmati di hari pagi.
Manusia terlahir memang sebagai makhluk yang tidak sempurna, oleh sebab itu ia dilahirkan, oleh sebab itu manusia harus menjalani hidup di dunia untuk mencapai kesempurnaan jiwa. Jiwa-jiwa sempurna tidak akan pernah terlahir sebagai manusia, bahkan seorang Mesias pun sampai berpeluh darah di Getsemani ketika hendak berjumpa dengan maut.
Aku tak pernah sampai pada pemahaman misteri ilahi. misteri hidup. misteri kematian. akan eksistensi Tuhan. akan Iblis. akan hidup kekal. Namun ada satu hal yang bisa kupegang dalam hidup. Bahwa manusia memang harusnya melukis di atas kanvas itu agar tidak begitu kosong polos. Menjalani proses hidup dengan sekian banyak kekeliruan yang menjadi pelajaran. Mengalami banyak keterbatasan yang pada akhirnya bisa didobrak. Melukiskan itu semua di atas kanvas jiwa, menjadi mahakarya yang indah. Lukisan hidup yang sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar