Rabu, 03 Oktober 2012

Mengenang 40 hari Papa Hendromartono

"Ketika penyesalan menemui jawab, itu adalah momentum untuk kembali melangkah"

Penyesalan terdalam seorang anak adalah ketika orang tuanya berpulang, namun dia belum melakukan apa-apa untuk mereka. Kira-kira itulah yang saya alami ketika saya mendapat kabar bawah ayah saya telah berpulang. Saya terlarut dalam raungan duka dengan segenap perasaan sesal yang sebegitu saja terluap. Saya akhirnya menyadari betapa berharganya satu detik yang saya lalui.

Ketika ayah saya masih hidup, ada satu pertanyaan wajib yang selalu ia tanyakan. "Koe ki karo febry jujurane piye?" Ia menanyakan tentang rencana pernikahan saya. Jauh dari rencana hidup saya, rencana itu belum sempat terpikirkan. Tiga kali saya pulang ke rumah, saya selalu disodori pertanyaan itu. Dan saya selalu menjawab, belum kepikiran pah, harus lulus dulu dan kerja dulu baru nikah. Ayah saya hanya membalasnya dengan tawa kecilnya. Dia tidak menanyakan kapan saya lulus. Dia tidak menanyakan tentang mau apa saya ketika saya lulus. Dia hanya bertanya kapan saya menikah.

Pertanyaan itu yang menjadi beban itu lantas berubah menjadi sebuah tanggung jawab dan prioritas dalam hidup saya. Saya sadar bahwa saya tidak punya banyak waktu untuk menunaikan itu selagi ayah saya masih ada. Saya menatar dan menempa hidup dan mental saya lebih keras lagi. Saya ingin bisa mapan ketika saya lulus nanti. Namun, ternyata saya tidak punya cukup waktu untuk itu.

Satu minggu dari kabar duka itu datang, saya selalu terlarut dalam penyesalan dan refleksi tentang kebodohan masa lalu yang pernah saya lakukan. Saya meresapi betapa bodohnya menyia-nyiakan waktu satu tahun yang saya buang di SMA. Andai saya bisa melewati SMA tepat waktu, mungkin saya masih punya kesempatan untuk menunaikan tanggung jawab itu.

Hari terakhir sebelum kembali ke Tangerang, kami sekeluarga datang ke makam untuk berpamitan dan menghantarkan doa agar perjalanan ayah saya lancar. Kami datang sekeluarga ditemani beberapa teman dekat keluarga kami. Ketika turun dari mobil, kami langsung menuju makan untuk membersihkan beberapa daun kering yang ada di atas kuburan yang masih berrupa gundukan tanah itu. Ibu dan kakak perempuan saya masih asyik dengan kegiatan mereka untuk mengganti lampu sentir sebagai penerangan. Waktu itu sore hari sekitar pukul 5 sore.

Mami Rida yang ikut dalam rombongan langsung mengambil posisi berlutut di kepala kubur. Dia sedikit mengusap nisan salib yang tertanam. Tiba-tiba dia bersuara "Mah, sudah mah, nanti dulu, kita doa dulu mah".   Saya langsung menengok ke Mami Rida, saya sadar bahwa itu adalah ayah saya. Intonasinya, cara ia melafal, itu adalah benar-benar papa saya. Sontak, kami langsung mengambil posisi berlutut untuk berdoa. 15 menit lebih ia berdoa tanpa terbata. "Terima kasih Tuhan kau telah memberi keluarga seperti ini. Terima kasih kepada istriku tercinta, anak-anakku tersayang. Aku ikhlas dengan apa yang telah kalian lakukan dan berikan." Air mataku tak lagi bisa kubendung. Beban tanggung jawab dan penyesalan yang kurasa seketika itu juga seperti diangkat. "Papa telah ikhlas dengan semuanya, Aku pun harus ikhlas dan merelakannya tanpa ada penyesalan dan kesedihan".

Selepas dari situ, saya kembali berpikir mengenai situasi ideal yang ingin kuberikan ke orang tua sebagai anak. Ternyata seorang orang tua pun memiliki situasi idealnya sendiri terhadap anak-anaknya. Mulai dari situ aku berjanji bahwa air mata yang kutumpahkan di makamnya adalah air mata terakhir yang aku teteskan untuk dirinya. Aku ingin mengenangnya dalam kebahagiaan untuk menemaninya di keabadian.

Dukaku sebagai seorang anak sudah berakhir, Sesalku sebagai seorang anak sudah tuntas. Hanya kebanggaan yang kini hidup dalam benakku. Bangga karena boleh dilahirkan di tengah-tengah keluarga Hendromartono yang begitu luar biasa. Bisa dididik di dalam keluarga Hendromartono dalam ketabahan, keikhlasan, ketegaran, dan kesederhanaan. Keluarga yang berani berdiri tegap menghadang dan melawan badai. Hidup dengan darah Hendromartono yang hidup tanpa dendam. Hidup dengan daging Hendromartono yang Ikhlas memberikan tangannya untuk orang lain. Ayah yang begitu luar biasa. Satu-satunya patron yang akan selalu hidup dalam hati, pikiran dan jiwaku.

2 komentar:

  1. mama setuju dg pernyataanmu itu krn seorg wanita yg dikenalkan tuk kami sekeluarga memang sangat merebut hati papamu krn dia yg lugu dan polos juga baik penuh pengertian.Semoga keinginan dan harapan Papa menjadi kenyataan dg kekuatan dan Berkat Tuhan dan semoga itu semua juga rencanaNya yang akan menjadi kebahagiaan keluarga besar Hendromartono sehingga beliau mendapat kelegaan dan dapat tersenyum bahagia di alam kekal yang tenang dan damai, Semoga dan semoga anakku dapat mewujudkan harapan itu, Mama hanya bisa panjatkan Doa tuk dpt memenuhi harapan papamu, Tuhan Memberkati : Dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus ……. Amin.
    Ttd
    Mama

    Trims, de. terus menulis.

    BalasHapus
  2. Makasih mama,,, Maksih udah menghadirkan aku di tengah-tengah keluarga yang luar biasa ini. Makasih juga untuk doa yang selalu memberi kekuatan. Restu mama papa adalah kekuatan terbesarku untuk bisa melangkah jauh kedepan...

    BalasHapus

Pengikut