Rabu, 26 September 2012

Lika-Liku Cinta

Salah satu hal yang terindah yang dialami manusia adalah jatuh cinta. Dan salah satu hal yang paling menyedihkan dalam hidup manusia adalah putus cinta. Kenapa cinta begitu bisa membuat fluktuasi suasana hati kita? Kenapa yang namanya cinta itu begitu mempengaruhi pengambilan sikap dan keputusan cinta? Kita tidak akan pernah tahu bagaimana cara menanggapi kedatangan cinta bila kita belum mengenal cinta itu sendiri.

Cinta, memiliki rasa dan interpretasi berbeda pada setiap manusia. Tentu saja berbeda, karena pengalaman manusia tentang cinta juga berbeda. Namun di dalam perbedaan itu, cinta akan dirasa sama ketika pertama datang, menyenangkan, menyejukkan dan membahagiakan. Sampai sini masih setujukan? hehehehe...

Cinta begitu terasa membahagiakan karena pengaruh dari perpaduan reaksi kimia dan hormon-hormon dalam tiap sel tubuh menghasilkan reaksi dan perasaan yang disebut cinta. Kalo kata Dr. Domeena Renshaw dari Universitas Loyola, ada yang namanya peningkatan alirah darah menuju kepala dan berfokus di otak. Hal ini tidak jauh berbeda dengan orang yang sedang kecanduan. Tapi semua itu adalah hasil penelitian, saya lebih percaya kalau cinta itu adalah anugerah sekaligus kutukan. Punya pengaruh yang berbeda sesuai dengan karakter orang yang mengalaminya.

Mari kita masuk ke inti pembicaraan. Perasaan cinta yang begitu mendalam mampu membuat orang mabuk kepayang, melayang-layang sampai lupa daratan. Perasaan ini adalah murni dari respon perasaan yang tidak lain didalangi oleh hati. Dan hal ini kita sebut dengan penyikapan cinta. catat baik-baik. Hati mengambil peran yang besar dalam pengambilan keputusan. Ini sangat menyenangkan sekali, karena membuat kita seperti terhipnotis. Namun celakanya, hal ini menjadi permasalahan besar ketika si pecandu cinta mengalami putus cinta. Nah lo,,,

Dalam situasi seperti ini, seseorang akan galau stadium empat, mengalami sedikit sesak napas, sampai pada peningkatan kadar emosi diri untuk berteriak bahkan memukul orang. Ini adalah fase yang pertama. Respon singkat dari hati untuk menanggapi situasi seperti ini. Fase kedua adalah orang mengalami halusinasi dan bayang-bayang yang punya imbuhan "seandainya". Seandainya apa yang kulakukan kayak gini, seandainya aku gak ngelakuin itu, seandainya aku bisa... dan banyak pengandaian yang lain. Dalam situasi ini, seorang pecandu berat cinta akan mengalami depresi dengan tanda-tanda bengong, skip, sampai pada penyakit lupa. Lupa makan, lupa mandi, dan lupa sebagainya. Alhasil, semua terabaikan dan orang ini lebih memilih untuk menikmati penderitaannya (penderitaan kok dinikmati). Fase ketiga yang punya masa sangat lama adalah keadaan Stuck dan tidak bisa Move on. Hayo lo,, sering kan begini... Orang ini akan mengambil asumsi bahwa mantannya itu adalah orang nomor satu yang punya paling segalanya. Dalam fase ini, seseorang biasanya cenderung membubuhi bumbu penyedap galau, semisal lagu-lagu galau, film-film drama galau, serta bumbu penyedap lainnya, sambil terus meratapi kekasih hatinya yang sudah pergi dan menghilang. Dalam fase ini pula, seseorang bila ditanya kenapa dia tidak Move on, maka ia akan menjawab: "Dia itu sangat spesial, susah buat gak mikirin apalagi ngelupain. Kayaknya gua akan terus nunggu dia. Siapa tahu gua bisa balik lagi sama dia". Kalau seseorang sudah mulai berkata demikian atau minimal nyerempet-nyerempet intinya, maka fix orang ini Stuck dan akan menikmati paket combonya, galau tak berujung yang pada akhirnya membuat menderita tiada akhir.

Kalau kita uraikan satu-satu dan mulai memasukan unsur logika, bukan hanya hati, maka sebenarnya seseorang itu akan sia-sia menunggu. Dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tau kenapa?? Karena orang yang lu tunggu bukan berada di belakang lu, dia udah ada jauh di depan lu. Maka kalo lu nunggu, lu akan jadi semakin jauh dari itu orang. Harusnya lu gak nunggu, lu coba pake otak dan badan lu. Tanya dulu hati lu maunya apa, mau lanjut sama orang itu apa pindah ke lain hati. Lalu selanjutnya lu pake otak lu buat bilang ke badan lu supaya lu lari biar bisa ngejar orang yang ditunjuk sama hati lu. Bodo amat mau diterima apa ditolak mentah-mentah, tapi seenggaknya lu udah bisa Move on. Ketika lu udah ada di fase ini, maka ini adalah sebuah titik cerah.

Suasana hati begitu mempengaruhi pengambilan keputusan kita. Bila ada istilah cinta itu buta, agaknya saya kurang setuju, karena akan lebih tepat kalo dibilang cinta itu tolol. Kita gak perlu pake otak buat merasakan cinta. So, apa kalian sudah bergerak dari perhentian dan penantian panjang kalian? Trauma kak,,, hahahaha... Alesan klasik yang jadi bagian dari sekutu penguasa hati yang mutlak.

Teman saya pernah bilang kalau galau itu sebuah kepastian. Mau orang itu senang atau sedih, galau itu pasti datang. Tapi yang perlu diingat adalah Menderita itu pilihan. hehehe.. semoga bermanfaat ya...

2 komentar:

Pengikut