Waktu itu 29 September. Layaknya tahun-tahun sebelumnya, selalu ada perayaan akbar untuk tanggal 2 Oktober. Kodam Diponegoro mengirimkan sekitar 500 personilnya untuk memperingati hari jadi angkatan. Angkatan yang gagah berani melindungi dan mengawal nusantara, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Angkatan yang masih hijau dengan sejumlah prestasi yang mengukir mata dunia.
Martono, putra Purwodadi yang memiliki mimpi untuk mengawal negeri, ialah salah satunya. Personil kebanggaan infanteri dengan wing emas di dada itu merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia meninggalkan keluarga dengan mimpi-mimpi besar demi membela negara serta mengawal Republik Indonesia. Mimpi mulia yang terpatron dalam dirinya.
Namun, petaka memang datang tanpa diundang. Ia bersama rekan-rekan seperjuangannya dikhianati ketika sedang melakukan perjalanan panjang nun mulia dari Semarang ke Ibu kota. Mereka dialihkan sebelum masuk ke Ibu Kota dan diperintahkan untuk menjaga daerah Halim dengan alasan yang tidak jelas – hanya untuk berjaga. Satu pertanyaan yang menghinggapi Martono dan ratusan tentara lainnya – kenapa kita dialihkan ke sini? Tetapi Martono adalah prajurit sejati yang taat. Taat pada perintah yang kadang tidak pernah ia temukan alasannya. Ia patuh mengikuti instruksi atasan untuk menjaga daerah itu. Meskipun martono juga heran, kenapa harus menjaga daerah angkatan udara, kenapa ada pengalihan komando, dan dari mana komando itu datang? Petaka semakin dekat. Prajurit berjaga dengan penuh tanggung jawab, walau mereka pun tidak tahu apa sebenarnya yang mereka tanggung.
Tengah malam menjelang subuh, suara bising berondongan senjata terdengar dari segala arah. Semakin dekat dan terus mendekat. Tanpa komando, tanpa instruksi. Selayang pandang terlihat kilat api yang jelas dari moncong senjata berat. Semakin dekat dan terus mendekat. Martono dan beberapa prajurit lari tunggang – langgang, sebab mereka tahu, ada yang tidak beres di sini. Sepelarian mereka melihat prajurit-prajurit yang terkapar dengan luka tembak. Kepalanya tidak bisa berpikir jernih, yang ada di otaknya hanya lari dan menjauh dari daerah ini. Berlari menjauh dari hamparan mayat prajurit yang terhujani peluru tajam berkaliber besar. Martono terus berlari.
Di ujung pelariannya, Martono melihat jejeran bayangan hitam di kejauhan. Ketika jarak semakin dekat, mereka disambut dengan hujanan peluru. Martono memutar haluan dan menjauh dari bayangan hitam. Rombongan mengikuti, meski satu persatu mulai berguguran disambar peluru – tepat disampingnya berlari. Kerutan dahi dan desahan nafas dengan baluran keringat cukup memperlihatkan betapa panik dan takutnya Martono dengan apa yang ada di depan matanya. Melihat rombongannya berangsur-angsur hanya menjadi kumpulan, Martono terus berlari dan menambah kecepatan. Sesekali kumpulan Martono membalas dengan tembakan kecil, yang kemudian dibalas dengan hujanan tembakan lebih dahsyat. Jelas bahwa jumlah mereka tidak seimbang. Martono sadar bahwa yang sedang dihadapinya ini bukan hal biasa yang bisa dinalar dengan logika. Maka, Martono dan beberapa kumpulannya memutuskan untuk menerobos hutan menuju Karawang, menjauh dari kejaran untuk membuka harapan besar dan satu pertanyaan besar, “Apa yang sedang terjadi?”.
Martono dan beberapa kumpulannya berhasil lari dari kejaran dan menyelinap di lebatnya hutan. Sesekali mereka masuk ke perkampungan untuk mengganti pakaian dan mencari makan, sambil mencuri-curi informasi, lalu kembali menghilang di hutan Karawang. Martono hanya ingat bahwa hari itu adalah 30 September 1965. Petaka besar yang ternyata bukan hanya menimpa dirinya. Petaka yang membuatnya hidup sebagai pelarian, sampai sekarang.
lanjutkan pasca 30091965...
BalasHapus