Mahasiswa dalam konteks dunia politik dalam negeri merupakan sebuah kekuatan besar yang bergerak dengan momentum dan berorientasi pada perubahan. Asumsi ini didasarkan pada sejarah pergerakan kaum pelajar dan mahasiswa. Pada era pra kemerdekaan, kaum pelajar adalah pionir yang berperan dalam membidani kemerdekaan Indonesia, melalui tokoh – tokoh intelektualnya – hasil dari politik etis pemerintahan kolonial Belanda. Pulang ke tanah air dengan membawa ide – ide dan strategi untuk mendapatkan kemerdekaan, dengan membangun solidaritas yang berdasarkan kesadaran. Gerakan ini bukanlah sekumpulan orang yang frustasi dengan keadaan, namun lebih pada solidaritas dengan tujuan dan cara yang jelas.
Pada era orde lama, mahasiswa kembali berperan dalam mengukir sejarah Indonesia, dengan aksi turun ke jalan oleh mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang membawa Tri Tuntutan Rakyat (Tritura). Selanjutnya diikuti oleh Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), serta kesatuan – kesatuan yang lain. Tuntutan ini memaksa Soekarno untuk melakukan reshuffle kabinet Dwikora pada 21 Februari 1966. Namun karena unsur PKI masih ada di kabinet, maka mahasiswa kembali menggelar aksi dan memboikot pelantikan menteri – menteri pada 24 Februari 1966. Aksi itu menelan korban dari kubu mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Arief Rahman Hakim.
Pergerakan mahasiswa kembali berlangsung dengan momentum kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI), Jan P.Pronk, Januari 1974, dengan wacana anti modal asing. Aksi itu berlanjut sampai puncaknya pada kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang, Tanaka Kakuei, pada 15 Januari 1974, atau yang dikenal dengan Peristiwa Malari. Ribuan mahasiswa berencana menyambut kedatangan Tanaka dengan berdemonstrasi di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Aksi itu pecah menjadi kerusuhan yang penuh dengan tindakan vandalisme, pembakaran dan penjarahan. Peristiwa ini ternyata membuat Soeharto geram sebab dianggap mempermalukannya sebagai pemimpin di depan mata internasional.
Aksi mahasiswa lainnya kembali terjadi pada 1998. Bermula dari krisis finansial asia, penembakan empat mahasiswa Trisakti dan kembali dipicu oleh kerusuhan masal di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Kerusuhan sistematis yang ditujukan kepada etnis Tionghoa di Indonesia. Toko – toko dijarah dan dibakar, wanita keturunan Tionghoa diperkosa dan dianiaya, bahkan dibunuh. Ini menjadi indikasi bahwa kerusuhan dan pemerkosaan digerakan secara sistematis, bukan sekadar tindakan sporadis semata. Peristiwa ini menjadi momentum bagi mahasiswa Indonesia untuk bergerak dan mengambil langkah demi sebuah perubahan, reformasi. Diwujudkan dengan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, aktivis, dan pemuda.
Melihat rentetan sejarah panjang pergerakan mahasiswa dan pemuda, terlihat begitu superior dan menjadi suatu patron dalam menelaah situasi dalam konteks nasional. Pergerakan mahasiswa bisa menjadi indikasi bagi lapisan masyarakat untuk ikut serta dalam perjuangan bangsa. Namun sayangnya, sejarah panjang itu tidak lepas dari tunggangan kepentingan politik yang lebih besar lagi. Mahasiswa dijadikan sebagai alat untuk memantabkan momentum untuk sebuah perubahan berskala nasional.
Celakanya dewasa ini pergerakan mahasiswa lebih dimanfaatkan untuk membuat kekisruhan dalam dunia politik. Mahasiswa yang tergolong intelek sangat mudah terprovokasi untuk bertindak anarki bahkan vandalistik dalam mewujudkan aksi. Tuntutan dan petisi seolah-olah menjadi barang mutlak untuk dipenuhi tanpa melihat secara luas dampak baik – buruk dari tuntutan mereka. partai politik tidak kalah turut serta dalam disorientasi pergerakan mahasiswa. Mahasiswa ditunggangi untuk melakukan profokasi dan aksi anarki. Tujuannya jelas, untuk mengalirkan isu nasional yang akan memicu aksi serupa.
Mengembalikan jatidiri mahasiswa menjadi agenda penting demi kembalinya fungsi dan tugas mahasiswa dalam konteks politik nasional. Bergerak tanpa kepentingan tersirat, selain bergerak demi rakyat harus menjadi prioritas. Koreksi dan evaluasi perlu dilakukan agar mahasiswa tidak merasi diri paling benar dan menjadikan itu alasan dasar untuk berbuat semaunya sendiri.
Perlu dilakukan pembinaan dan kaderisasi berbasis pemuda yang menggodok wacana tentang situasi politik nasional. Bergerak atas dasar kesadaran dan tuntutan nurani sebagai manusia murni yang menjunjung tinggi nilai – nilai kemanusiaan. Demi menciptakan generasi yang lebih cerdas dan bertanggung jawab.
menarik bila ditarik lebih jauh secara historis. gerakan mahasiswa lahir dari gerakan pemuda, kala itu dikenal dengan sebutan pemuda-pelajar untuk mengidentifikasi pergerakan kaum intelektual progresif.
BalasHapussecara geneologis, gerakan pemuda pelajar berakar dari gerakan rakyat yang pada masa sebelumnya muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonalisme. perlawanan-perlawanan rakyat yang muncul semakin jelas pada masa pasca politik etis belanda, dimana intelektual pribumi yang keluar dari skenario kolonial. kaum intelektual ini kemudian bergabung dengan perlawanan rakyat tanah air dan memberikan pola menjadi "gerakan". puncak momentum terjadi pada revolusi pemuda 17081954.
singkatnya, gerakan mahasiswa secara dialektika sejarah adalah bagian dari gerakan rakyat. elitisme dan oligarki kekuasaan pasca 60-an mencerabut gerakan mahasiwa dari akar kerakyatan sehingga lebih berorientasi elit.