Apa yang lebih nyata dari sebuah Kenyataan?
Hidup bagi sebagian orang atau bahkan banyak orang memang sering berjalan tidak sesuai dengan apa yang kita pesan. Dengan apa yang kita punya kita membuat rencana, strategi hidup, untuk mencapai sebuah target yang kita buat, yang kita kemas dalam sebuah Harapan.
Ya, harapan inilah yang membuat manusia hidup sebagai manusia seutuhnya. Harapan menjadi ruh yang sangat berpengaruh dalam penentuan pilihan hidup. Kita bergerak maju, atau mundur untuk mencapai harapan yang kita hidupkan yang konkrit di dalam kepala kita, mempengaruhi alam bawah sadar kita. Mempengaruhi tujuan hidup kita.
Yang menariknya, dari semua manusia yang memiliki harapan dalam hidupnya, mempunyai satu kesamaan dalam menjawab harapan itu untuk menjadi nyata atau sekadar mimpi belaka. Dia adalah sang waktu. Wktu mengikis habis bayangan dari harapan kita untuk menjadi nyata atau menjadi oasis di sebuah gurun. Waktu dengan tegas dan pandang bulu terus bergerak maju di tengah kesiapan atau ketidaksiapan kita saat berjalan.
Waktu memberikan banyak hal untuk mengantar kita mengubah harapan kedalam kenyataan. Bersamaan dengan itu juga, waktu kadang menjerumuskan kita kedalam angan dan pelarian di tengah ketidakpastian dan kegagalan dari apa yang kita rasakan. Jauh membenamkan kita kedalam buaian mimpi yang begitu elok dan nikmat untuk dinikmati, membuat halusinasi dari kenyataan hidup. Lalu, apa yang lebih nyata dari sebuah kenyataan?
Kita terlalu mudah untuk menyusun strategi dan memulai langkah daripada menyelesaikan apa yang telah dimulai. Ditambah tembok kegagalan dan kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang kita pesan. Membawa kita jauh ke dalam kesenangan yang menjadi bius dari hal nyata yang ada di depan mata. Membuat kita ketakutan akan masa depan, sebuah masa yang bahkan belum kita pijak.
Ketakutan mengaburkan kita dari harapan. Ketakutan membius kita dalam bayangan suram akan hal yang belum kita rasakan. Ketakutan melempar jauh diri kita dari waktu yang nyata, yang kita jalani, sekarang. Sekarang kita memilih untuk diam dan memikirkan ketakutan dalam sebuah bayangan. Menghabiskan waktu dengan sia-sia tanpa ada sebuah awalan. Bukankah, hidup adalah pertaruhan?
Dari awal kita sudah ada dalam situasi pertaruhan. Dengan sajian pilihan yang ada di depan, kita harus memilih untuk memulai dengan cara apa dan bagaimana. Mempertaruhkan kepercayaan kita dalam pilihan yang masing-masing punya peluang di depan yang sama-sama tidak pernah kita ketahui apa.
Kita sama-sama memulainya dengan sebuah harapan yang punya satuan waktu untuk mengungkapnya dengan berbagai kenyataan dari situasi yang ada sekarang dengan segala ketidakpastian yang menuntut kita membuat strategi untuk menjalaninya dengan ancaman ketakutan bahwa apakah aku bisa menciptakan masa depan sesuai yang aku harapkan.
Kenapa takut untuk memulainya dari hal kecil atau hal besar, bila keduanya sama-sama punya peluang yang sama untuk gagal atau berhasil? Kenapa harus membuang waktu untuk mendapatkan kebenaran dari harapan bila kita sama-sama tahu dan sadar bahwa kita tidak tau berapa banyak waktu yang kita punya? Kenapa kita harus takut gagal bila sebelumnya kita sudah pernah gagal? Kenapa harus membuang harapan dan hanya mengikuti arus waktu untuk disajikan? Hidup kita adalah diri kita. Yang menjadi pilihannya adalah apakah kita hidup hanya untuk diri kita, atau orang banyak.
Gagal itu biasa, tapi menyerah adalah duka.
Banyak bahasa yang tidak bisa terucap, banyak pikiran yang tidak bisa terluap, banyak gagasan yang harus berhenti dan stag, Namun selalu ada ruang untuk goresan dalam tulisan yang kadang keluar serentak....
Sabtu, 10 Januari 2015
Rabu, 24 September 2014
Bishop of the Poor
Tahun 2008 ada sebuah peristiwa menarik di belahan Amerika Latin yang sempat menjadi topik besar dunia. Fernando Lugo, terpilih menjadi Presiden Paraguay setelah berhasil meraih lebih dari 43% suara. Lugo terkenal sebagai tokoh yang sangat berpihak kepada rakyat miskin dan tertindas. Namun bukan bagian itu yang menarik, sebab golongan "kiri" memang selalu ada di tengah pemerintahan tiran.
Sebelum terpilih menjadi presiden, Fernando Lugo adalah seorang uskup di Paraguay - Pemimpin rohani umat Khatolik. Lugo diusung untuk maju dalam pemilihan umum setelah mendapat keputusan dari Vatikan dengan meninggalkan jabatannya sebagai Uskup. Keputusan ini dipertegas oleh para pendukung Lugo yang mendesak Vatikan dengan memberikan dua pilihan - kehilangan seorang uskup atau kehilangan jutaan umat Khatolik di Paraguay. Ini salah satu hal yang menarik, bagaimana seseorang meninggalkan sebuah jabatan dan mengambil jabatan lain untuk kepentingan yang lebih besar. (1)
Terpilihnya Lugo sebagai presiden merupakan kabar baik untuk rakyat Paraguay, karena Lugo adalah sebuah harapan. Harapan untuk membebaskan rakyat Paraguay dari ketidakadilan. Harapan untuk membawa Paraguay ke dalam pemerintahan yang bersih. Harapan agar rakyat Paraguay bisa mendapat faedah dari kekayaan alam yang terkandung di dalam tanah Paraguay. Harapan, bahwa Lugo akan memimpin Paraguay menuju babak baru yang lebih baik, setelah sejak tahun 1947, Paraguay dikuasai oleh pemerintaan diktator dan korup. Seperti keseimbangan di dalam hidup, maka sebuah Harapan juga memiliki kebalikannya, yaitu kekhawatiran. kekhawatiran yang dirasakan oleh lawan-lawan politiknya, birokrat-birokrat korup, pengusaha hitam, dan kepentingan korporat asing yang menyedot habis kekayaan Paraguay. Kelompok-kelompok ini berdidi berdampingan yang berseberangan dengan kelompok-kelompok yang menaruh harapan.
Kelompok yang mewakili kekhawatiran ini mengakualisasikan perasaan mereka ke dalam sebuah aksi. Assassination. Skenario pembunuhan yang ditujukan terhadap Lugo dibuat. Rencana ini rupanya terdengar sampai ke telinga Lugo dan kelompoknya. Tiga hari sebelum pelantikannya sebagai Presiden, Lugo menyetir sendiri mobilnya untuk melarikan diri dan bersembunyi di sebuah biara. Rencana pembunuhan ini gagal dan Lugo berhasil dilantik menjadi Presiden. Kemenangan pertama untuk "Harapan". (2)
Berbagai manuver politik yang dituangkan di dalam kebijakan yang pro rakyat dibuat oleh Lugo. Rakyat dapat menikmati kekayaan alam yang mereka miliki. Namun kemenangan ini berujung dengan lengsernya Lugo setelah 4 tahun memimpin. Dan kembali, tirani menguasai Paraguay. (3)
Bila kita menarik benang sampai ke belahan bumi sebaliknya dari Paraguay, merupakan hal yang tenah terjadi di negara itu. Ada kesamaan yang terjadi di kedua negara itu. pertama, adalah seorang tokoh yang meninggalkan sebuah jabatan yang sedang diembannya untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar (1). Lalu perjuangan itu menjadi sebuah kemenangan pertama dengan terpilihnya sang tokoh pembawa harapan perubahan sebagai presiden (2). Namun apakah hasil akhir dari pertandingan di negara ini akan berakhir sama dengan Paraguay? Tentunya bukan hasil itu yang diharapkan.
Rasanya penting untuk menengok ke samping dan ke belakang untuk belajar dari apa yang telah terjadi tanpa harus dialami. Paraguay adalah cermin nyata untuk berkaca sebelum siap berpesta.
Salam Harapan dan Perubahan…!!!
Sebelum terpilih menjadi presiden, Fernando Lugo adalah seorang uskup di Paraguay - Pemimpin rohani umat Khatolik. Lugo diusung untuk maju dalam pemilihan umum setelah mendapat keputusan dari Vatikan dengan meninggalkan jabatannya sebagai Uskup. Keputusan ini dipertegas oleh para pendukung Lugo yang mendesak Vatikan dengan memberikan dua pilihan - kehilangan seorang uskup atau kehilangan jutaan umat Khatolik di Paraguay. Ini salah satu hal yang menarik, bagaimana seseorang meninggalkan sebuah jabatan dan mengambil jabatan lain untuk kepentingan yang lebih besar. (1)
Terpilihnya Lugo sebagai presiden merupakan kabar baik untuk rakyat Paraguay, karena Lugo adalah sebuah harapan. Harapan untuk membebaskan rakyat Paraguay dari ketidakadilan. Harapan untuk membawa Paraguay ke dalam pemerintahan yang bersih. Harapan agar rakyat Paraguay bisa mendapat faedah dari kekayaan alam yang terkandung di dalam tanah Paraguay. Harapan, bahwa Lugo akan memimpin Paraguay menuju babak baru yang lebih baik, setelah sejak tahun 1947, Paraguay dikuasai oleh pemerintaan diktator dan korup. Seperti keseimbangan di dalam hidup, maka sebuah Harapan juga memiliki kebalikannya, yaitu kekhawatiran. kekhawatiran yang dirasakan oleh lawan-lawan politiknya, birokrat-birokrat korup, pengusaha hitam, dan kepentingan korporat asing yang menyedot habis kekayaan Paraguay. Kelompok-kelompok ini berdidi berdampingan yang berseberangan dengan kelompok-kelompok yang menaruh harapan.
Kelompok yang mewakili kekhawatiran ini mengakualisasikan perasaan mereka ke dalam sebuah aksi. Assassination. Skenario pembunuhan yang ditujukan terhadap Lugo dibuat. Rencana ini rupanya terdengar sampai ke telinga Lugo dan kelompoknya. Tiga hari sebelum pelantikannya sebagai Presiden, Lugo menyetir sendiri mobilnya untuk melarikan diri dan bersembunyi di sebuah biara. Rencana pembunuhan ini gagal dan Lugo berhasil dilantik menjadi Presiden. Kemenangan pertama untuk "Harapan". (2)
Berbagai manuver politik yang dituangkan di dalam kebijakan yang pro rakyat dibuat oleh Lugo. Rakyat dapat menikmati kekayaan alam yang mereka miliki. Namun kemenangan ini berujung dengan lengsernya Lugo setelah 4 tahun memimpin. Dan kembali, tirani menguasai Paraguay. (3)
Bila kita menarik benang sampai ke belahan bumi sebaliknya dari Paraguay, merupakan hal yang tenah terjadi di negara itu. Ada kesamaan yang terjadi di kedua negara itu. pertama, adalah seorang tokoh yang meninggalkan sebuah jabatan yang sedang diembannya untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar (1). Lalu perjuangan itu menjadi sebuah kemenangan pertama dengan terpilihnya sang tokoh pembawa harapan perubahan sebagai presiden (2). Namun apakah hasil akhir dari pertandingan di negara ini akan berakhir sama dengan Paraguay? Tentunya bukan hasil itu yang diharapkan.
Rasanya penting untuk menengok ke samping dan ke belakang untuk belajar dari apa yang telah terjadi tanpa harus dialami. Paraguay adalah cermin nyata untuk berkaca sebelum siap berpesta.
Salam Harapan dan Perubahan…!!!
Minggu, 19 Mei 2013
Air Mata Itu Cinta
Cerita. Selalu menjadi kenangan yang melekat di dasar hati. Karena cerita punya kedekatan intim dengan para pelakunya.
Cerita ini adalah tentang keluarga yang memahami betul arti keakraban dan kekeluargaan. Keluarga yang sederhana, namun sangat bersahaja. Keluarga yang mampu menghadirnya rasa nyaman, bahkan untuk orang-orang di sekitarnya. Keluarga yang penuh dengan cerita, air mata bahagia.
Betapa cinta sangat terasa dalam keluarga ini. Betapa rasa saling memiliki terjalin erat membentuk jalinan kasih yang begitu hangat.
Malam itu adalah malam yang luar biasa. Malam yang membawa usia baru dalam keluarga itu. Ungkapan cinta lewat kue dan gambar. Mengandung begitu banyak, begitu dalam cinta untuk ayahanda.
Air mata menetes bukan untuk membasih luka. Namun sebagai ungkapan haru yang terluap, yang tak anggup lagi tertampung.
Selamat ulang tahun Om Pisi Wibowo.
Ayah yang begitu luar biasa, sederhana apa adanya,,,,
Rabu, 20 Maret 2013
Kesenangan dan Kekonyolan
Hari ini 21 Maret 2013..
Sama seperti hari-hari lain sebelumnya, aku membenamkan diri untuk bertemu diri sendiri. 10 menit berbincang dengan diri sendiri, bercerita tentang apa saja yang dilalui hari ini. Satu pertanyaan yang membuatku tertegun, "Sudah berapa umurku?"
Usia memang bukan patokan untuk sebuah kematangan, usia memang bukan sebuah acuan untuk menargetkan pilihan. Usia punya arti yang jauh lebih penting dari itu.
Usia menjadi sangat penting ketika kita telah menghabiskan banyak tahun untuk banyak sesuatu yang tidak berguna. atau memperkosanya hanya untuk kesenangan, dan yang lebih parahnya ketika usia yang banyak tidak membungkus banyak kebaikan yang harusnya berimbang.
Aku menoleh 6 tahun kebelakang, ketika aku duduk di bangku SMA. Aku menghabiskan banyak waktu dengan kawan-kawanku dan menjadi sedikit waktu dengan keluargaku. Tanpa kusadari, kawan-kawanku menjadi tempat bereksplorasi dan mengembangkan diri, sedang keluarga menjadi zona yang aman dan nyaman untuk memarut kepenatan.
Aku sama gilanya dengan kawan-kawanku, melakukan hal gila untuk kesenangan. Melakukan hal konyol untuk meninggalkan sebuah kenangan. Sekarang sudah jauh berubah dari yang pernah aku lalui. Kawanku ada yang masih menjadi kawanku yang dulu dengan kesenangan dan kekonyolannya. Ada yang telah menjadi imam di keluarganya. Ada pula yang pergi jauh ke Russia dan Inggris untuk ilmu dan hidup. Ada juga yang harus bekerja keras untuk memikul tanggung jawab keluarga dan diri sendiri. Ada yang berhasil menikah dengan cita-citanya, ada pula yang mesti tertahan oleh keterbatasannya. Semua menjadi nyata ketika usia nyaris seperempat abad.
Lalu apa yang Kami cari? Kamu? Aku? Dia? atau Mereka?
Masih kah kita Bermanja dengan Kesenangan dan Tidur dengan Kekonyolan?
Sama seperti hari-hari lain sebelumnya, aku membenamkan diri untuk bertemu diri sendiri. 10 menit berbincang dengan diri sendiri, bercerita tentang apa saja yang dilalui hari ini. Satu pertanyaan yang membuatku tertegun, "Sudah berapa umurku?"
Usia memang bukan patokan untuk sebuah kematangan, usia memang bukan sebuah acuan untuk menargetkan pilihan. Usia punya arti yang jauh lebih penting dari itu.
Usia menjadi sangat penting ketika kita telah menghabiskan banyak tahun untuk banyak sesuatu yang tidak berguna. atau memperkosanya hanya untuk kesenangan, dan yang lebih parahnya ketika usia yang banyak tidak membungkus banyak kebaikan yang harusnya berimbang.
Aku menoleh 6 tahun kebelakang, ketika aku duduk di bangku SMA. Aku menghabiskan banyak waktu dengan kawan-kawanku dan menjadi sedikit waktu dengan keluargaku. Tanpa kusadari, kawan-kawanku menjadi tempat bereksplorasi dan mengembangkan diri, sedang keluarga menjadi zona yang aman dan nyaman untuk memarut kepenatan.
Aku sama gilanya dengan kawan-kawanku, melakukan hal gila untuk kesenangan. Melakukan hal konyol untuk meninggalkan sebuah kenangan. Sekarang sudah jauh berubah dari yang pernah aku lalui. Kawanku ada yang masih menjadi kawanku yang dulu dengan kesenangan dan kekonyolannya. Ada yang telah menjadi imam di keluarganya. Ada pula yang pergi jauh ke Russia dan Inggris untuk ilmu dan hidup. Ada juga yang harus bekerja keras untuk memikul tanggung jawab keluarga dan diri sendiri. Ada yang berhasil menikah dengan cita-citanya, ada pula yang mesti tertahan oleh keterbatasannya. Semua menjadi nyata ketika usia nyaris seperempat abad.
Lalu apa yang Kami cari? Kamu? Aku? Dia? atau Mereka?
Masih kah kita Bermanja dengan Kesenangan dan Tidur dengan Kekonyolan?
Rabu, 06 Maret 2013
Kemiskinan atau Pemiskinan?
Kemsikinan merupakan bahasan panjang yang begitu rumit untuk diselesaikan. Merupakan sebuah akibat yang perlu diketahui terlebih dahulu penyebabnya. Masalah sosial seperti kemiskinan tidak bisa lepas dari hukum sebab-akibat.
Ada dua faktor yang menjadi penyebab kemiskinan. Pertama adalah faktor internal, yang merupakan faktor dari tiap individu dengan berbagai perilaku negatif yang memiskinkan diri sendiri. Kedua adalah faktor eksternal yang lebih saya titik beratkan pada tingkatan elit dan produk perundang-undangan yang dihasilkan, yang ternyata hanya menyenggol masalah kemiskinan, atau lebih parahnya lagi membantu menyuburkan kemiskinan.
Dari sisi pemerintahan, saya menilai ada yang salah dalam pengambilan kebijakan pemerintah kita., terutama kebijakan luar negerinya. Misalnya soal perdagangan bebas yang tidak dibarengi dengan penguatan ekonomi masyarakat dalam negeri. Hal ini membuat begitu banyak produk asing yang masuk dan konsumen lebih banyak membeli produk luar negeri yang harganya tidak terpaut jauh dengan produk dalam negeri. Pengusaha lokal yang kalah modal akhirnya menyerah dan gulung tikar. Atau kebijakan lainnya seperti pengambilan hutang luar negeri. Hutang dalam jumlah besar yang menjebak Indonesia dalam lingkaran setan.
Menurut data Bank Indonesia, utang Indonesia tahun 2006 sekitar US$ 132,63 miliar dan melonjak tajam sampai tahun 2011 menjadi US$ 221,60 miliar. Belum lagi kita harus membayar cicilan utang dan bunganya yang diperkirakan sebesar Rp 118 triliun. Situasi ini membuat utang Indonesia sekarang sebesar Rp 1.975 triliun, bahkan lebih besar dari APBN 2013 sebesar Rp 1.683 triliun.
Saya lebih senang menyebut situasi ini sebagai ‘perangkap utang’. Dengan besarnya angka utang yang dibandingkan dengan kemampuan menyicil kita yang rendah membuat utang ini seakan mustahil bisa dilunasi. Perangkap utang ini menjebak Indonesia kedalam situasi lain yang lebih sulit lagi, yaitu intervensi kebijakan dalam negeri oleh negara donor. Maka dari situasi ini lahirlah produk perundang-undangan yang pro pada modal asing namun menjerat masyarakat kelas bawah kita semakin terbelit oleh situasi ekonomi yang sulit.
Produk undang-undang dan kebijakan pemerintah yang membicarakan kesejahteraan masyarakat tidak sampai 10%. Sedangkan 90% nya bicara soal politik dan pemekaran daerah. Situasi yang jelas tidak berpihak pada kelompok miskin.
Kebijakan ini berimbas pada merosotnya upah dan kondisi kerja buruh, akibat sistem outsourcing dan kontrak. Masyarakat miskin semakin dibatasi ruang gerak atas hak-hak yang seharusnya mereka dapat, seperti tunjangan, asuransi, jenjang karir, serta yang lebih penting adalah jaminan kerja dengan mengganti status mereka dari kontrak menjadi tetap.
Ini baru satu dari banyak produk undang-undang dan kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat miskin. Masih ada undang undang terkait seperti BHP, Minerba, Penanaman modal, SDA, Migas, dan lain-lain, yang mengkondisikan masyarakat untuk tetap berada di kelas bawah.
Situasi ini tidak lepas juga dari aspek pendidikan. Sebab ketika kerangka struktural telah dibangun melalui undang-undang dan kebijakan, maka harus dibarengi juga oleh kerangka substansialnya, yang dalam hal ini adalah pendidikan.
Untuk sebagian orang, pendidikan merupakan barang mahal yang sangat sulit diakses. Tentunya hal ini merujuk pada pendidikan berkualitas.
Sejak sekitar 1978 pada level pendidikan tinggi telah ada yang namanya Normalisasi Kehidupan Kampus / Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK). Melalui SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0457/0/1990 tentang Pola Pembinaan dan Pengembangan Kemahasiswaan di Perguruan Tinggi, yang mengubah format organisasi kemahasiswan yang melarang mahasiswa terjun dalam politik praktis. Pendidikan dibuat menjadi prosedural dan menciptakan anggapan bahwa mahasiswa yang baik adalah yang memiliki nilai di atas rata-rata.
Kondisi struktural yang sudah dibangun memaksa dunia pendidikan untuk ikut masuk dalam pasar tenaga kerja yang mencetak lulusan siap kerja. Hal yang sering dikenal dengan istilah link and match.
Sebuah desain besar yang sengaja diciptakan dalam kompleksitas masalah yang berimbas pada kemiskinan atau pemiskinan, yang ironisnya adalah pemerintah dan jajaran elit sebagai aktornya.
Pertanyaan selanjutnya adalah “bagaimana solusinya?”
Solusi yang bisa diterapkan harus berjalan harmoni dalam setiap segi, yaitu:
1. Merombak pola pendidikan yang hanya berorientasi pada pemasok tenaga kerja, bukan tenaga ahli.
2. Merombak segala kebijakan dan undang-undang yang tidak pro pada kesejahteraan masyarakat, terutama masyarakat miskin.
3. Nasionalisasikan sumber daya agar bisa dikelola dan dinikmati sepenuhnya demi kesejahteraan masyarakat.
Tiga solusi ini mungkin terasa abstrak dan sulit untuk diterapkan. Namun ada satu catatan yang perlu dirujuk, bahwa dulu kondisi Kuba dan Venezuela sama seperti Indonesia, namun sekarang mereka mampu bangkit dan sejahtera di atas tanahnya. Yang dibutuhkan hanya keberanian pemerintah kita yang memiliki konsekuensi diasingkan dari dunia Internasional. Menurut saya hal itu bukan masalah, sebab bagaimanapun juga, negara maju membutuhkan pasokan bahan baku yang berasal dari negara dunia ketiga seperti Indonesia.
Agar masyarakat keluar dari jurang kemiskinan maka kebijakan pemerintah dan undang-undang harus pro terhadap rakyat miskin, serta perbaikan menyeluruh di institusi pendidikan. Ketika masyarakat telah menjadi cerdas, maka ruang publik mereka akan didukung oleh kebijakan pemerintah dan undang-undang yang mampu menjamin dan menopang masyarakat untuk berdikari, bukan sekadar berkarir di perusahaan asing dan menjadi “sapi perah”. Dengan kesadaran ini, angka lima pada sila terakhir tidak menjadi utopis.
Kanvas
Ketika manusia dipercaya terlahir dari maha karya sang pencipta:
Beringas, ganas, serakah, dan sifat buruk lainnya.
Kesan pertama yang bernuansa negatif. Merupakan cara pandang umum dari manusia. Mampu melihat titik hitam yang kecil di atas kanvas, tanpa mau menyadari betapa dominannya warna putih dari kanvas itu.
Lama aku mencari kesadaran hidup sebagai manusia. Maih dalam proses pembelajaran tanpa henti hentinya berkoreksi sambil bersyukur atas udara yang masih boleh kuhirup setiap detik. Bersyukur atas hangatnya matahari yang masih bisa kunikmati di hari pagi.
Manusia terlahir memang sebagai makhluk yang tidak sempurna, oleh sebab itu ia dilahirkan, oleh sebab itu manusia harus menjalani hidup di dunia untuk mencapai kesempurnaan jiwa. Jiwa-jiwa sempurna tidak akan pernah terlahir sebagai manusia, bahkan seorang Mesias pun sampai berpeluh darah di Getsemani ketika hendak berjumpa dengan maut.
Aku tak pernah sampai pada pemahaman misteri ilahi. misteri hidup. misteri kematian. akan eksistensi Tuhan. akan Iblis. akan hidup kekal. Namun ada satu hal yang bisa kupegang dalam hidup. Bahwa manusia memang harusnya melukis di atas kanvas itu agar tidak begitu kosong polos. Menjalani proses hidup dengan sekian banyak kekeliruan yang menjadi pelajaran. Mengalami banyak keterbatasan yang pada akhirnya bisa didobrak. Melukiskan itu semua di atas kanvas jiwa, menjadi mahakarya yang indah. Lukisan hidup yang sempurna.
Beringas, ganas, serakah, dan sifat buruk lainnya.
Kesan pertama yang bernuansa negatif. Merupakan cara pandang umum dari manusia. Mampu melihat titik hitam yang kecil di atas kanvas, tanpa mau menyadari betapa dominannya warna putih dari kanvas itu.
Lama aku mencari kesadaran hidup sebagai manusia. Maih dalam proses pembelajaran tanpa henti hentinya berkoreksi sambil bersyukur atas udara yang masih boleh kuhirup setiap detik. Bersyukur atas hangatnya matahari yang masih bisa kunikmati di hari pagi.
Manusia terlahir memang sebagai makhluk yang tidak sempurna, oleh sebab itu ia dilahirkan, oleh sebab itu manusia harus menjalani hidup di dunia untuk mencapai kesempurnaan jiwa. Jiwa-jiwa sempurna tidak akan pernah terlahir sebagai manusia, bahkan seorang Mesias pun sampai berpeluh darah di Getsemani ketika hendak berjumpa dengan maut.
Aku tak pernah sampai pada pemahaman misteri ilahi. misteri hidup. misteri kematian. akan eksistensi Tuhan. akan Iblis. akan hidup kekal. Namun ada satu hal yang bisa kupegang dalam hidup. Bahwa manusia memang harusnya melukis di atas kanvas itu agar tidak begitu kosong polos. Menjalani proses hidup dengan sekian banyak kekeliruan yang menjadi pelajaran. Mengalami banyak keterbatasan yang pada akhirnya bisa didobrak. Melukiskan itu semua di atas kanvas jiwa, menjadi mahakarya yang indah. Lukisan hidup yang sempurna.
Rabu, 19 Desember 2012
Memoar
Lama sudah berstagnasi dalam kesibukan dan pekerjaan yang baru.
Sebelum habis masa jabatan berakhir, kakakku pernah berkata "Hati-hati dengan sindromnya"
ya, sekarang aku baru bisa mengerti apa maksudnya. Energi dan konsentrasi besar telah tercurah dalam masa pengabdian satu periode silam. Konsekuensinya adalah menikmati masa datar dan kebasian energi dan konsentrasi yang telah menemukan kalibernya untuk disalurkan.
Beruntung alam bawah sadar bisa mengerti dan memahami nasehat singkat dari sang senior.
Hahaha... Memang zona nyaman itu tercipta atas kebiasaan dalam merasa.
Ketakutan dan kekhawatiran sering bertandang ketika melihat perjuangan yang dulu kulakukan dengan tanganku sendiri, harus dijalankan oleh orang baru. Rasanya aku masih di sana.
Namun memang diri itu perlu ditatar agar tidak hanyut dalam kebiasaan kenyamanan. Sesekali memang harus ada tamparan untuk diri sendiri yang senantiasa mengingatkan untuk bisa melihat gamblangnya realita. Setiap benturan akan menyentakkan diriku dan membuatku tersadar bahwa aku harus ikhlas dan percaya bahwa tidak ada yang sia-sia untuk sebuah usaha. Tidak ada penyesalan yang hadir bila hembusan nafas panjang membawa serta kekhawatiran dan ketakutan.
Lepaslah sudah ketakutan dan kekhawatiran....
Ada yang pernah bilang bahwa untuk apa aku melakukan semua ini. Nampak sia-sia dan tidak ada arti nyata terwujudnya perubahan. Namun spontan saja keluar dari mulut "Tidak ada yang sia-sia untuk sebuah usaha. Harus selalu ada orang yang berkata tidak untuk sebuah ketidakwajaran, sekaligus memberi apresiasi untuk sebuah keberhasilan atas pencapaian"
Harus selalu ada individu-individu yang bergerak atas keterikatan hati untuk mau memikirkan hal di luar dirinya. Percayalah bahwa level kalian sudah jauh lebih tinggi daripada yang lain. Daripada mereka yang masih berkutat untuk diri mereka sendiri, kalian telah mampu memikirkan orang lain untuk bisa mendapatkan hal yang memang layak mereka dapatkan.
Semoga terus banyak lahir individu-individu yang bukan hanya berbekal hati, namun juga nurani untuk bisa merasa bahwa kita masih jauh lebih beruntung daripada mereka. Masih ada getar di hati untuk bisa membuat mereka minimal bisa merasakan apa yang kita nikmati sekarang.
Jangan pernah lelah dan takut untuk berjuang kawan, karena hidup memang untuk berjuang. Kita adalah pejuang sedari kita lahir, kita berjuang meraih kebebasan dari rasa nyaman dalam sempitnya kehidupan. Kita telah berjuang untuk hidup dengan keluar dari hangatnya rahim. Jangan buat diri kalian hanya menjadi seorang penikmat atau bahkan penjilat, karena kalian lahir sebagai pejuang.
Aku bersama kalian jiwa-jiwa yang bebas. Jiwa-jiwa yang merdeka atas dirinya sendiri....
Sebelum habis masa jabatan berakhir, kakakku pernah berkata "Hati-hati dengan sindromnya"
ya, sekarang aku baru bisa mengerti apa maksudnya. Energi dan konsentrasi besar telah tercurah dalam masa pengabdian satu periode silam. Konsekuensinya adalah menikmati masa datar dan kebasian energi dan konsentrasi yang telah menemukan kalibernya untuk disalurkan.
Beruntung alam bawah sadar bisa mengerti dan memahami nasehat singkat dari sang senior.
Hahaha... Memang zona nyaman itu tercipta atas kebiasaan dalam merasa.
Ketakutan dan kekhawatiran sering bertandang ketika melihat perjuangan yang dulu kulakukan dengan tanganku sendiri, harus dijalankan oleh orang baru. Rasanya aku masih di sana.
Namun memang diri itu perlu ditatar agar tidak hanyut dalam kebiasaan kenyamanan. Sesekali memang harus ada tamparan untuk diri sendiri yang senantiasa mengingatkan untuk bisa melihat gamblangnya realita. Setiap benturan akan menyentakkan diriku dan membuatku tersadar bahwa aku harus ikhlas dan percaya bahwa tidak ada yang sia-sia untuk sebuah usaha. Tidak ada penyesalan yang hadir bila hembusan nafas panjang membawa serta kekhawatiran dan ketakutan.
Lepaslah sudah ketakutan dan kekhawatiran....
Ada yang pernah bilang bahwa untuk apa aku melakukan semua ini. Nampak sia-sia dan tidak ada arti nyata terwujudnya perubahan. Namun spontan saja keluar dari mulut "Tidak ada yang sia-sia untuk sebuah usaha. Harus selalu ada orang yang berkata tidak untuk sebuah ketidakwajaran, sekaligus memberi apresiasi untuk sebuah keberhasilan atas pencapaian"
Harus selalu ada individu-individu yang bergerak atas keterikatan hati untuk mau memikirkan hal di luar dirinya. Percayalah bahwa level kalian sudah jauh lebih tinggi daripada yang lain. Daripada mereka yang masih berkutat untuk diri mereka sendiri, kalian telah mampu memikirkan orang lain untuk bisa mendapatkan hal yang memang layak mereka dapatkan.
Semoga terus banyak lahir individu-individu yang bukan hanya berbekal hati, namun juga nurani untuk bisa merasa bahwa kita masih jauh lebih beruntung daripada mereka. Masih ada getar di hati untuk bisa membuat mereka minimal bisa merasakan apa yang kita nikmati sekarang.
Jangan pernah lelah dan takut untuk berjuang kawan, karena hidup memang untuk berjuang. Kita adalah pejuang sedari kita lahir, kita berjuang meraih kebebasan dari rasa nyaman dalam sempitnya kehidupan. Kita telah berjuang untuk hidup dengan keluar dari hangatnya rahim. Jangan buat diri kalian hanya menjadi seorang penikmat atau bahkan penjilat, karena kalian lahir sebagai pejuang.
Aku bersama kalian jiwa-jiwa yang bebas. Jiwa-jiwa yang merdeka atas dirinya sendiri....
Selasa, 27 November 2012
Dialog Dini Hari
Malam itu entah angin apa yang mendorong saya untuk menjemput sang kekasih yang tengah (selalu) lembur dengan pekerjaannya. Bertempat di Jalan Sudirman, Gedung CIMB menjadi kantor bagi Medco yang tengah diaudit oleh EY, kantor kekasihku. Agak tidak biasa karena hari itu telah menyantap 7 jam kemacetan, ditambah dengan pekerjaan yang harus selesai esok, namun, tepat pukul 24:00 saya tetap berangkat.
Setengah jam perjalanan mengantar saya sampai di tujuan. dan, belum ada tanda-tanda pulang. Berbekal uang 2rb di selipan kantong, saya mennghampiri pedagang kopi keliling. "Kopi Hitam satu pak". Mantab, sarapan untuk menemani hari yang panjang. Tak jauh dari sana, ada satpam yang tengah berjaga. Melihat ada potensi untuk simbiosis mutualisme, saya menghampiri satpam itu. Minta ijin tempat dengan tawaran standar. "Ngopi pak". "Mari-mari".
Saya mengawali perbincangan dengan tawaran standar kedua. "Rokok pak". "Ada saya". Mulailah masuk kedalam perbincangan dengan topik perdana "Telepon Seluler". Ia mengatakan bahwa telpon seluler sudah seperti kacang. Siapa saja bisa beli dan boleh punya lebih dari satu. Udah bukan barang mewah lagi. Padahal dulu jaman tahun 1995, namanya HP itu barang mewah banget, walau masih segede bagong. Bikin janji buat pacaranpun harus ke telpon umum dulu. Kira-kira begitulah rangkuman topik perdana.
Berlanjut ke topik pasca rehat dengan tema "Transportasi Umum". Pak satpam punya pendapat bahwa jaman makin maju, ternyata tidak berbanding lurus dengan perkembangan sarana transportasi umumnya. "Jaman saya dulu waktu pacaran, taun 93, bisa pulang malem gampang pake kopaja. Kopaja masih muter sampe jam 1 2, sekarang mah, jam 10 juga udah bagus. Makin kemari makin taksi yang dibanyakin, tiap menit lewat 5 minimal. Padahal kalo orang kayak kita mana kepikiran naik taksi."
Wah, nampaknya pak satpam sedang galau lintas jaman. oke lanjut lagi,,,
"Jalanan makin rame, malah makin sepi kopaja. dulu jam 1 juga masih bisa dapet Patas". Betul pak, saya setuju dengan keluhan ini, dan,,, keluhan sebelumnya juga sih.
Tak lama datang mobil Livina yang terasa tergesa. Kaca terbuka, terlihat sosok wanita lokal bersama pria kaukasoid. "Di dalem ada atm cimb pak?" "ada, masuk aja ke kiri". Si mas bule keluar dengan rambut pirangnya, namun tak berapa lama kembali keluar dengan oleh-oleh pertanyaan. "Dimana lagi ada ATM CIMB? Tidak bisa ambil uang di sini" pak satpam dengan sigapnya menjelaskan letak ATM terdekat.
Livina kembali berangkat dengan tergesa.
Ternyata hal itu menjadi Bridge untuk topik pamungkas. "Gila, diabisin semua cewek sini sama bule-bule" Eh, kok kayak ada hal terpendam yang asik kalau dikeluarkan nih. "Hahaha,, Bule kan demen banget sama cewek Indo pak" "Gila ya, udah ekonomi dijajah, perempuan juga"
Wahhh,,, ini menarik sekali untuk dibahas.
"Sekarang bilang udah merdeka mah, tapi sama aja. Bule-bule dateng kemari, jadi pengusaha, sukses, kita jadi budaknya."
Itu adalah quote terbaik malam itu.
Perbincangan meluas dengan cakupan VOC sebagai perusahaan, yang membuat kesimpulan bahwa selama 400 tahun yang menjajah kita adalah korporasi. Kalau dulu pas kolonial mereka menggunakan pemerintah asal sebagai penjamin keamanan, penjajah jaman sekarang makin pintar dengan memakai pemerintah lokal.
Obrolan 1,5 jam menemani saya dalam penantian misi penjemputan.
Terima kasih pak satpam
Besok jemput kita ngobrol lagi, sambil kenalan.
Nb: Maaf pak saya memalsukan umur, saya 90, bukan 85. habisnya situ tuwir bener 73, jomplang banget tar obrolan kita. hehehe,,,
Setengah jam perjalanan mengantar saya sampai di tujuan. dan, belum ada tanda-tanda pulang. Berbekal uang 2rb di selipan kantong, saya mennghampiri pedagang kopi keliling. "Kopi Hitam satu pak". Mantab, sarapan untuk menemani hari yang panjang. Tak jauh dari sana, ada satpam yang tengah berjaga. Melihat ada potensi untuk simbiosis mutualisme, saya menghampiri satpam itu. Minta ijin tempat dengan tawaran standar. "Ngopi pak". "Mari-mari".
Saya mengawali perbincangan dengan tawaran standar kedua. "Rokok pak". "Ada saya". Mulailah masuk kedalam perbincangan dengan topik perdana "Telepon Seluler". Ia mengatakan bahwa telpon seluler sudah seperti kacang. Siapa saja bisa beli dan boleh punya lebih dari satu. Udah bukan barang mewah lagi. Padahal dulu jaman tahun 1995, namanya HP itu barang mewah banget, walau masih segede bagong. Bikin janji buat pacaranpun harus ke telpon umum dulu. Kira-kira begitulah rangkuman topik perdana.
Berlanjut ke topik pasca rehat dengan tema "Transportasi Umum". Pak satpam punya pendapat bahwa jaman makin maju, ternyata tidak berbanding lurus dengan perkembangan sarana transportasi umumnya. "Jaman saya dulu waktu pacaran, taun 93, bisa pulang malem gampang pake kopaja. Kopaja masih muter sampe jam 1 2, sekarang mah, jam 10 juga udah bagus. Makin kemari makin taksi yang dibanyakin, tiap menit lewat 5 minimal. Padahal kalo orang kayak kita mana kepikiran naik taksi."
Wah, nampaknya pak satpam sedang galau lintas jaman. oke lanjut lagi,,,
"Jalanan makin rame, malah makin sepi kopaja. dulu jam 1 juga masih bisa dapet Patas". Betul pak, saya setuju dengan keluhan ini, dan,,, keluhan sebelumnya juga sih.
Tak lama datang mobil Livina yang terasa tergesa. Kaca terbuka, terlihat sosok wanita lokal bersama pria kaukasoid. "Di dalem ada atm cimb pak?" "ada, masuk aja ke kiri". Si mas bule keluar dengan rambut pirangnya, namun tak berapa lama kembali keluar dengan oleh-oleh pertanyaan. "Dimana lagi ada ATM CIMB? Tidak bisa ambil uang di sini" pak satpam dengan sigapnya menjelaskan letak ATM terdekat.
Livina kembali berangkat dengan tergesa.
Ternyata hal itu menjadi Bridge untuk topik pamungkas. "Gila, diabisin semua cewek sini sama bule-bule" Eh, kok kayak ada hal terpendam yang asik kalau dikeluarkan nih. "Hahaha,, Bule kan demen banget sama cewek Indo pak" "Gila ya, udah ekonomi dijajah, perempuan juga"
Wahhh,,, ini menarik sekali untuk dibahas.
"Sekarang bilang udah merdeka mah, tapi sama aja. Bule-bule dateng kemari, jadi pengusaha, sukses, kita jadi budaknya."
Itu adalah quote terbaik malam itu.
Perbincangan meluas dengan cakupan VOC sebagai perusahaan, yang membuat kesimpulan bahwa selama 400 tahun yang menjajah kita adalah korporasi. Kalau dulu pas kolonial mereka menggunakan pemerintah asal sebagai penjamin keamanan, penjajah jaman sekarang makin pintar dengan memakai pemerintah lokal.
Obrolan 1,5 jam menemani saya dalam penantian misi penjemputan.
Terima kasih pak satpam
Besok jemput kita ngobrol lagi, sambil kenalan.
Nb: Maaf pak saya memalsukan umur, saya 90, bukan 85. habisnya situ tuwir bener 73, jomplang banget tar obrolan kita. hehehe,,,
Senin, 19 November 2012
Kita Laki-Laki, Atau Pria?
Apakah pria itu?
Banyak wanita berpikir bahwa pria merupakan sosok laki-laki dewasa yang mengayomi, hangat, berpendidikan, serta mapan secara ekonomi. Makhluk ini ditandai dengan pakaian rapi lengan panjang, rambut pendek mengkilap, serta tunggangan roda empatnya. Rata-rata wanita sangat mendambakan sosok seperti ini. Namun, mari kita telusuri lebih dalam asal mula Label seperti ini.
Pria dengan inisiatif kah, atau wanita dengan impian seorang pria ideal?
Melihat konteks Indonesia, cara berpakaian kita sekarang merupakan serapan tradisi dari barat. Bahwa pada jaman raja-raja, laki-laki yang dianggap pria adalah mereka yang memiliki kekuasaan dan ilmu kanuragan. Masuk pada fase kolonial. Bahwa laki-laki yang dianggap pria adalah mereka yang keturunan bangsawan dengan busana ala barat. Pandangan umum mengenai sosok pria ideal.
Bila ada seorang pria malang melintang di jalanan dengan busana jaman raja-raja jawa. Dengan kumis tebal, pakaian sarung, gelang lengan, dan sisipan keris di pinggang belakang, maka jaminan yang saya berikan adalah undangan masal untuk gelak tawa atau senyum nyiyir.
Pandangan dahulu telah berubah, berbeda dengan pandangan sekarang. Maka bila seorang pria dinilai hanya dari tampilan fisik, maka hal ini perlu dipertanyakan. Apakah semua itu muncul dari inisiatif, atau merupakan paparan dari pandangan umum?
Sederhana. "Pria adalah laki-laki dengan karakter kuat, dengan perasaan dan logika seimbang, kemandirian, serta kemerdekaan."
Laki-laki yang masih dijajah dengan pandangan umum apakah masih bisa dibilang sebagai pria?
Banyak wanita berpikir bahwa pria merupakan sosok laki-laki dewasa yang mengayomi, hangat, berpendidikan, serta mapan secara ekonomi. Makhluk ini ditandai dengan pakaian rapi lengan panjang, rambut pendek mengkilap, serta tunggangan roda empatnya. Rata-rata wanita sangat mendambakan sosok seperti ini. Namun, mari kita telusuri lebih dalam asal mula Label seperti ini.
Pria dengan inisiatif kah, atau wanita dengan impian seorang pria ideal?
Melihat konteks Indonesia, cara berpakaian kita sekarang merupakan serapan tradisi dari barat. Bahwa pada jaman raja-raja, laki-laki yang dianggap pria adalah mereka yang memiliki kekuasaan dan ilmu kanuragan. Masuk pada fase kolonial. Bahwa laki-laki yang dianggap pria adalah mereka yang keturunan bangsawan dengan busana ala barat. Pandangan umum mengenai sosok pria ideal.
Bila ada seorang pria malang melintang di jalanan dengan busana jaman raja-raja jawa. Dengan kumis tebal, pakaian sarung, gelang lengan, dan sisipan keris di pinggang belakang, maka jaminan yang saya berikan adalah undangan masal untuk gelak tawa atau senyum nyiyir.
Pandangan dahulu telah berubah, berbeda dengan pandangan sekarang. Maka bila seorang pria dinilai hanya dari tampilan fisik, maka hal ini perlu dipertanyakan. Apakah semua itu muncul dari inisiatif, atau merupakan paparan dari pandangan umum?
Sederhana. "Pria adalah laki-laki dengan karakter kuat, dengan perasaan dan logika seimbang, kemandirian, serta kemerdekaan."
Laki-laki yang masih dijajah dengan pandangan umum apakah masih bisa dibilang sebagai pria?
Yin-Yang, Adam-Hawa
Pasangan. Kenapa kebanyakan orang mendambakan sosok untuk menjadi pasangannya?
Teori filsafat Tao memaknai itu dalam sebuah relasi Yin-Yang. Dua unsur berlawanan yang saling berpadu, kegelapan dan cahaya terang.
Atau tentang falsafah lain yang ada dalam kitab-kitab Samawi mengenai konsepsi Adam dan Hawa. Yang sering begitu dangkal diartikan sebagai laki-laki dan perempuan.
Dua konsepsi dari Ardhi dan Samawi yang punya kesamaan mengenai sebuah perbedaan yang berrelasi dan berpadu menjadi satu kesatuan yang membangun.
Konsepsi seperti ini memang terasa antah berantah bila direlasikan dengan konteks jaman sekarang. Namun ada satu hal sahih yang masih berlaku, bahwa perbedaan punya relasi untuk menjadi satu.
Manusia diciptakan untuk berpasangan, sekalipun ia memilih untuk berpasangan dengan dirinya sendiri. Namun bagi manusia yang memilih untuk berpasangan dengan manusia lain yang berlawanan jenis, maka fase ini masuk pada ranah problematika.
Pernah sekali saya membaca tulisan seorang wanita yang ditujukan untuk kekasihnya. Perasaan hati yang bertentangan dengan pilihan si lelaki. Secara rasa si wanita tidak pernah mengerti kenapa si pria mengambil jalan yang tidak pernah masuk pada konsepsinya. Namun pada akhirnya si wanita mengakui bahwa semua rasa itu terpulihkan dengan raut si pria yang bahagia dengan pilihannya. Maka si wanita pun ikut berbahagia.
Melihat memang sebuah perkara mudah, namun tidak untuk memahami. perlu ada keterbukaan diri, hati dan pikiran untuk bisa mencerna secara utuh tentang sebuah hal yang berlawanan, seperti dua aliran agama tadi yang memadukan perbedaan
Suatu hal yang membahagiaan ketika bertemu dengan pasangan yang secara fisik, karakter, pemikiran, dan hal lain yang begitu berbeda, namun tetap bisa menjadi padu. Sudah tidak ada "Aku" di sana. Yang ada hanya "Kita". Karena perbedaan itu bukan lagi terpisah, namun telah berpadu dan mengalir menjadi satu.
Teori filsafat Tao memaknai itu dalam sebuah relasi Yin-Yang. Dua unsur berlawanan yang saling berpadu, kegelapan dan cahaya terang.
Atau tentang falsafah lain yang ada dalam kitab-kitab Samawi mengenai konsepsi Adam dan Hawa. Yang sering begitu dangkal diartikan sebagai laki-laki dan perempuan.
Dua konsepsi dari Ardhi dan Samawi yang punya kesamaan mengenai sebuah perbedaan yang berrelasi dan berpadu menjadi satu kesatuan yang membangun.
Konsepsi seperti ini memang terasa antah berantah bila direlasikan dengan konteks jaman sekarang. Namun ada satu hal sahih yang masih berlaku, bahwa perbedaan punya relasi untuk menjadi satu.
Manusia diciptakan untuk berpasangan, sekalipun ia memilih untuk berpasangan dengan dirinya sendiri. Namun bagi manusia yang memilih untuk berpasangan dengan manusia lain yang berlawanan jenis, maka fase ini masuk pada ranah problematika.
Pernah sekali saya membaca tulisan seorang wanita yang ditujukan untuk kekasihnya. Perasaan hati yang bertentangan dengan pilihan si lelaki. Secara rasa si wanita tidak pernah mengerti kenapa si pria mengambil jalan yang tidak pernah masuk pada konsepsinya. Namun pada akhirnya si wanita mengakui bahwa semua rasa itu terpulihkan dengan raut si pria yang bahagia dengan pilihannya. Maka si wanita pun ikut berbahagia.
Melihat memang sebuah perkara mudah, namun tidak untuk memahami. perlu ada keterbukaan diri, hati dan pikiran untuk bisa mencerna secara utuh tentang sebuah hal yang berlawanan, seperti dua aliran agama tadi yang memadukan perbedaan
Suatu hal yang membahagiaan ketika bertemu dengan pasangan yang secara fisik, karakter, pemikiran, dan hal lain yang begitu berbeda, namun tetap bisa menjadi padu. Sudah tidak ada "Aku" di sana. Yang ada hanya "Kita". Karena perbedaan itu bukan lagi terpisah, namun telah berpadu dan mengalir menjadi satu.
Sabtu, 17 November 2012
Ada Ribuan Mayat
Hari ini, 17 November 2012. Aku melihat ribuan mayat berkeliaran dengan segala keblingsatannya.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku memulai hari dengan kemalasan. Malas untuk kembali ke dalam realita yang tak pernah masuk ke dalam logika. Malas untuk kembali memakai topeng agar tak dikenali oleh ribuan mayat lapar mencari mangsa. Malas untuk menyamar menjadi satu dari ribuan mereka. Malas untuk menangisi segala tetes air mata yang kusembunyikan di sudut kelopak mata.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku membuka pintu untuk kembali dalam hari yang tak pernah berakhir. Tak pernah berakhir sejak pertama dimulai. Tak pernah berakhir ketika menyusup dalam kenangan, bahwa yang akan terjadi nanti, adalah hari-hari kemarin. Berperang sendiri dan mengangkat pedang untuk berjuang, yang kemudian akan kembali ditinggalkan dan ditusuk dari belakang.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku membelah kerumunan mayat tanpa hati dan akal. Sebab otak dan hati mereka telah lama menjadi saksi kanibalisme yang mereka lakuka pada dirinya sendiri. Membelah ribuan mayat tanpa perasaan, yang mencoba menyamar menjadi manusia.
Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, aku menyaksikan betapa manusia bisa masuk begitu dalam ke sudut jahat hati mereka. Meracuni setiap inchi raga mereka. Menyaksikan betapa mereka sudah tidak merindukan betapa hangatnya keakraban.
Di pinggir jalan berdiri remaja separuh mayat yang sedang kebingungan dengan penentuan sikapnya. Menentukan akan menjalani sebagai apa? Aku menyaksikan semua itu.
Mata lebih sering terpejam ketika apa yang kulihat tidak pernah sama sekali melintas dibayangan. Mata terpejam, menjadi saksi betapa hidup lebih terasa mati dengan ribuan mayat yang mengelilingi.
Hari ini, 17 November 2012. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku kenali. Orang yang menopangku disaat sulit dan orang yang menikamku ketika aku jaya. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku cintai. Orang yang mau membagi sepenggal kisah hidupnya, untuk kemudian meracuniku dengan segala pujian. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku kagumi. Orang yang menjadi motivator dan mentor hidupku, yang untuk kemudian memenjarakanku dalam kebebasan.
Hari ini, 17 November 2012. Mereka masih membicarakan yang lain, yang tidak lain adalah diri mereka sendiri.
Hari ini, 17 November 2012. Aku masih menjadi saksi di tengah para mayat dan keblingsatan.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku memulai hari dengan kemalasan. Malas untuk kembali ke dalam realita yang tak pernah masuk ke dalam logika. Malas untuk kembali memakai topeng agar tak dikenali oleh ribuan mayat lapar mencari mangsa. Malas untuk menyamar menjadi satu dari ribuan mereka. Malas untuk menangisi segala tetes air mata yang kusembunyikan di sudut kelopak mata.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku membuka pintu untuk kembali dalam hari yang tak pernah berakhir. Tak pernah berakhir sejak pertama dimulai. Tak pernah berakhir ketika menyusup dalam kenangan, bahwa yang akan terjadi nanti, adalah hari-hari kemarin. Berperang sendiri dan mengangkat pedang untuk berjuang, yang kemudian akan kembali ditinggalkan dan ditusuk dari belakang.
Seperti hari-hari biasanya, hari ini aku membelah kerumunan mayat tanpa hati dan akal. Sebab otak dan hati mereka telah lama menjadi saksi kanibalisme yang mereka lakuka pada dirinya sendiri. Membelah ribuan mayat tanpa perasaan, yang mencoba menyamar menjadi manusia.
Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, aku menyaksikan betapa manusia bisa masuk begitu dalam ke sudut jahat hati mereka. Meracuni setiap inchi raga mereka. Menyaksikan betapa mereka sudah tidak merindukan betapa hangatnya keakraban.
Di pinggir jalan berdiri remaja separuh mayat yang sedang kebingungan dengan penentuan sikapnya. Menentukan akan menjalani sebagai apa? Aku menyaksikan semua itu.
Mata lebih sering terpejam ketika apa yang kulihat tidak pernah sama sekali melintas dibayangan. Mata terpejam, menjadi saksi betapa hidup lebih terasa mati dengan ribuan mayat yang mengelilingi.
Hari ini, 17 November 2012. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku kenali. Orang yang menopangku disaat sulit dan orang yang menikamku ketika aku jaya. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku cintai. Orang yang mau membagi sepenggal kisah hidupnya, untuk kemudian meracuniku dengan segala pujian. Sebagian dari mayat-mayat itu adalah orang yang aku kagumi. Orang yang menjadi motivator dan mentor hidupku, yang untuk kemudian memenjarakanku dalam kebebasan.
Hari ini, 17 November 2012. Mereka masih membicarakan yang lain, yang tidak lain adalah diri mereka sendiri.
Hari ini, 17 November 2012. Aku masih menjadi saksi di tengah para mayat dan keblingsatan.
Selasa, 13 November 2012
"Kudeta 1965"
Berakhirnya Perang Dunia Kedua (PD II) merupakan awal dari dimulainya Perang Dingin. Perang yang melibatkan dua blok besar dunia. Penganut paham demokrasi dan penganut paham komunis. Dua negara besar, Amerika yang memimpin sekutu mewakili demokrasi, dan Uni Sovyet yang mewakili komunis.
Perang ideologi ini membawa dampak besar, baik bagi negara-negara yang terlibat langsung, maupun negara yang lebih berperan sebagai simpatisan. Indonesia, mendeklarasikan diri untuk tidak memihak salah satu blok, namun pada praktiknya, Indonesia lebih condong ke Sovyet. Paling tidak, sampai akhir 1965.
Di Indonesia, bulan Oktober 1965, kaum buruh internasional menelan kekalahan terbesarnya pasca PD II. Lebih dari 1 juta jiwa melayang sebagai imbas dari kudeta militer yang diatur oleh CIA dengan eksekutor lokal Jendral Soeharto, selaku Panglima Komando Strategi Angkatan Darat (PANGKOSTRAD) kala itu. Kudeta itu memanfaatkan momen goyahnya pemerintahan Soekarno, yang dipicu oleh kesehatan Soekarno yang dikabarkan menurun drastis. Tujuannya jelas, menyingkirkan pemerintahan yang berkuasa kala itu, rezim Soekarno.
Melibas komunis di Indonesia bukanlah perkara mudah. Operasi panjang CIA yang melibatkan mantan duta besar AS untuk Indonesia dan Australia, Marshall Green, yang juga melibatkan Badan Intelejen Australia (ASIS) membangun basis militer yang sengaja dipersiapkan untuk sebuah rezim anti-revolusi Indonesia. Tujuannya jelas, Menggulingkan Soekarno dan membasmi basis komunis di Indonesia.
Ketakutan pihak barat ini sangat beralasan. Dengan jumlah 3,5 juta; ditambah 3 juta dari pergerakan pemuda; 3.5 juta dari serikat buruh; dan pergerakan petani BTI yang mempunyai 9 juta anggota. serta pergerakan wanita, organisasi penulis, artis dan pergerakan kaum inteleknya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung. Jumlah ini menempatkan PKI sebagai partai komunis terbesar di dunia, di luar Cina dan Uni Sovyet.
Marshall Green mengakui keterlibatannya dan pemerintahnya dalam eksekusi kaum buruh dan simpatisan PKI. Sekitar 1 juta orang dibunuh dan ratusan ribu lainnya dijebloskan ke penjara tanpa melalui proses hukum. Penderitaan yang berhasil keluar dari penjara tidak hanya berhenti saat meninggalkan hukuman kurungan. Pencantuman label OT di tanda pengenal membuat mereka sulit mendapat pekerjaan, serta mendapat hukuman sosial di masyarakat.
Operasi kejam ini tidak lepas dari ambisi AS untuk menguasai Indonesia sebagai "Permata Asia", yang memiliki simpanan sumber daya alam yang luarbiasa banyaknya. Eisenhower tahun 1953 dalam pidatonya menegaskan betapa pentingnya Indonesia bagi Imperialisme AS.
Permainan ini sengaja diciptakan agar AS tetap bisa mengontrol Indonesia. Mengontrol Indonesia, berarti pula mengontrol Asia Tenggara dan sekitarnya. Bila Indonesia jatuh ke tangan komunis, maka garis vertikal ke bawah tidak akan bisa dikontrol oleh AS lagi.
Sebelum kudeta di Indonesia tahun 1965, Richard Nixon menyerukan untuk pengeboman saturasi untuk melindungi "potensi mineral besar" Indonesia. Dua tahun setelahnya, dia menyerukan bahwa Indonesia merupakan hadiah terbesar Asia Tenggara.
Melalui diktator Soeharto, setidaknya ada tujuh hal yang menjadi alasan utama AS menganggap betapa pentingnya Indonesia sebagai negara paling berwenang secara strategis di dunia. (1) Mempunyai populasi yang terbesar di seluruh Asia Tenggara; (2) Merupakan penyuplai utama bahan-bahan mentah di daerah itu; (3) Kemakmuran ekonomi Jepang yang terus berkembang, sangatlah tergantung pada minyak bumi dan bahan-bahan mentah lain yang dipasok oleh Indonesia; (4) Investasi Amerika yang sudah ada di Indonesia sangatlah kokoh dan hubungan dagang kita sedang berkembang cepat; (5) Indonesia mungkin secara meningkat akan menjadi penyedia yang penting untuk keperluan energi AS; (6) Indonesia adalah anggota OPEC, tetapi itu mengambil sikap yang moderat dalam langkah-langkahnya, dan tidak ikut serta dalam embargo minyak bumi; (7) Kepulauan Indonesia terletak pada jalur-jalur laut yang strategis dan pemerintah Indonesia memainkan peranan yang vital dalam perundingan-perundingan hukum kelautan, yang sangatlah penting untuk keamanan dan kepentingan komersil kita.
Kudeta 1965 merupakan kepentingan internasional AS dalam usahanya untuk menjadi negara paling berpengaruh di dunia. Indonesia menjadi parameter utama agar terciptanya cita-cita AS itu. Melalui skenario CIA dengan menggunakan kediktatoran Soeharto dalam melanggengkan eksploitasi AS terhadap sumberdaya Indonesia, mereka telah berhasil mencapai cita-citanya. Namun dalam konteks lokal, kita tengah memanen kebusukan yang ditanam 50 tahun silam. Sebuah perjuangan panjang untuk meratakan lahan itu dan menanamnya dengan benih yang benar. Mengawalnya agar tumbuh menjadi pohon teduh yang menyejahterakan yang dibawahnya.
Torehan sejarah panjang yang kelam yang sekarang tengah kita ulang.
TIDAK BOLEH ADA SEJARAH KELAM YANG TERULANG DUA KALI DI REPUBLIK INI
RESISTENSIAL,,,!!!
sumber:
http://www.wsws.org/exhibits/1965coup/coup1965.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_30_September
IKRAR
Ada kala ketika aku akan terhanyut jauh dalam buaian zona nyaman kita. Sampai akhirnya pada satu titik, aku melihat hal di luar zona itu.
Banyak orang yang berpikir untuk apa memperjuangkan nasib orang lain, sementara nasib kita sudah sedemikian baik. Banyak orang berpikir bahwa kemerosotan ekonomi berakar pada situasi dan permasalahan pribadi. Banyak orang berpikir bahwa kemapanan ekonomi merupakan sebuah pencapaian dan pembuktian diri. Banyak orang merasa hebat dengan popularitas dan ketenaran diri dari talenta dan sejumlah prestasi.
Semua itu berjalan lurus tanpa memberi ruang untuk menoleh bahkan melihat ke belakang. Situasi yang membuat kita begitu enggan untuk berusaha keluar dan menghadapi realitas sebenarnya.
Namun di sini, aku merasa semua hal yang banyak orang pikir itu merupakan kesalahan besar yang mendasar dan prinsipil. Ketika aku dihantui oleh mimpi agar orang diluar sana bisa menikmati nasi tiga kali sehari. Ketika aku melihat kemerosotan merupakan sebuah desain besar yang sengaja diciptakan untuk mengklasifikasi manusia demi keuntungan pribadi. Ketika aku merasa kemapanan ekonomi menjadi sia-sia saat dinikmati di atas jutaan penderitaan. Ketika aku merasa bahwa popularitas dan talenta merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus kuabdikan pada sesama.
Aku di sini sebagai manusia.
Orang lain di luar sanapun manusia, bukan komoditas.
Ketika perasaan itu hinggap di benak dan butuh proses panjang untuk meresapi sebuah pertanyaan besar yang belum bisa kujawab: "Untuk Apa Aku Dilahirkan?"
Kadang rasa lelah datang memenjarakan raga ini. Namun saat itu juga belenggu itu lepas dengan senyum kecil dari buah tangan ini. Kadang raga ini sakit, namun sesegera itu sembuh dengan rangkulan teman seperjuanganku. Kadang raga ini bosan dengan rutinitas konstan, namun semangat segera datang dengan membawa serta sedikit hasil dari apa yang telah kuperjuangkan.
Pada akhirnya aku sadar bahwa aku dilahirkan sebagai pejuang. Lahir dari rahim wanita yang berjuang memerdekakan harapan. Diberi ruang untuk mengalirnya darah pejuang yang menggerakan tubuh ini dengan spontan.
Ditatar dalam potongan mimpi yang terasa absurd, namun kembali teringat ketika hadir dalam perbuatan.
"Aku tidak akan pernah menikmati kemewahanku sebelum aku bisa menghadirkan itu kepada setiap orang sejauh mataku memandang. Kemewahan itu tidak akan pernah bisa membuai dan menghanyutkanku."
Ini Ikrarku...
Banyak orang yang berpikir untuk apa memperjuangkan nasib orang lain, sementara nasib kita sudah sedemikian baik. Banyak orang berpikir bahwa kemerosotan ekonomi berakar pada situasi dan permasalahan pribadi. Banyak orang berpikir bahwa kemapanan ekonomi merupakan sebuah pencapaian dan pembuktian diri. Banyak orang merasa hebat dengan popularitas dan ketenaran diri dari talenta dan sejumlah prestasi.
Semua itu berjalan lurus tanpa memberi ruang untuk menoleh bahkan melihat ke belakang. Situasi yang membuat kita begitu enggan untuk berusaha keluar dan menghadapi realitas sebenarnya.
Namun di sini, aku merasa semua hal yang banyak orang pikir itu merupakan kesalahan besar yang mendasar dan prinsipil. Ketika aku dihantui oleh mimpi agar orang diluar sana bisa menikmati nasi tiga kali sehari. Ketika aku melihat kemerosotan merupakan sebuah desain besar yang sengaja diciptakan untuk mengklasifikasi manusia demi keuntungan pribadi. Ketika aku merasa kemapanan ekonomi menjadi sia-sia saat dinikmati di atas jutaan penderitaan. Ketika aku merasa bahwa popularitas dan talenta merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus kuabdikan pada sesama.
Aku di sini sebagai manusia.
Orang lain di luar sanapun manusia, bukan komoditas.
Ketika perasaan itu hinggap di benak dan butuh proses panjang untuk meresapi sebuah pertanyaan besar yang belum bisa kujawab: "Untuk Apa Aku Dilahirkan?"
Kadang rasa lelah datang memenjarakan raga ini. Namun saat itu juga belenggu itu lepas dengan senyum kecil dari buah tangan ini. Kadang raga ini sakit, namun sesegera itu sembuh dengan rangkulan teman seperjuanganku. Kadang raga ini bosan dengan rutinitas konstan, namun semangat segera datang dengan membawa serta sedikit hasil dari apa yang telah kuperjuangkan.
Pada akhirnya aku sadar bahwa aku dilahirkan sebagai pejuang. Lahir dari rahim wanita yang berjuang memerdekakan harapan. Diberi ruang untuk mengalirnya darah pejuang yang menggerakan tubuh ini dengan spontan.
Ditatar dalam potongan mimpi yang terasa absurd, namun kembali teringat ketika hadir dalam perbuatan.
"Aku tidak akan pernah menikmati kemewahanku sebelum aku bisa menghadirkan itu kepada setiap orang sejauh mataku memandang. Kemewahan itu tidak akan pernah bisa membuai dan menghanyutkanku."
Ini Ikrarku...
Minggu, 11 November 2012
Strategi Kampanye
A. PERENCANAAN STRATEGIS KAMPANYE
Ketika berpikir tentang PR dan perencanaan, ada baiknya kita mulai dengan melihat definisi PR berikut :
“praktik PR adalah usaha yang direncanakan serta dilakukan secara kontinyu untuk menciptakan dan menjaga nama baik (goodwill) dan kesepahaman bersama antara suatu organisasi dengan publiknya.”
Inti dari definisi tersebut adalah bahwa PR harus direncanakan. Itu merupakan proses yang dipikirkan secara matang dan hati-hati. Proses tersebut juga memerlukan aktivitas yang dilakukan secara terus menerus. Dalam kaitannya dengan praktek kampanye PR, setidaknya ada beberapa alasan mengapa sebuah perencanaan harus dilakukan dalam kampanye (arti penting perencanaan), yaitu :
1) Memfokuskan usaha. Perencanaan membuat tim kampanye dapat mengidentifikasi dan menyusun tujuan yang akan dicapai dengan benar hingga akhirnya pekerjaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien, karena berkonsentrasi pada prioritas dan alur kerja yang jelas.
2) Mengembangkan sudut pandang berjangka waktu panjang. Perencanaan membuat tim kampanye melihat semua komponen secara menyeluruh. Ini akan membuat tim kampanye tidak berpikir mengenai efek kampanye dalam jangka waktu yang pendek tapi juga ke masa depan, hingga mendorong dihasilkannya program yang terstruktur dalam menghadapi kebutuhan masa depan.
3) Meminimalisi kegagalan. Perencanaan yang cermat dan teliti akan menghasilkan alur serta tahapan kerja yang jelas, terukur, dan spesifik serta lengkap dengan langkah-langkah alternatif, sehingga bila ada kegagalan bisa langsung diambil alternatif penyelesaian.
4) Mengurangi konflik. Konflik kepentingan dan prioritas merupakan hal yang sering terjadi dalam sebuah kerja tim. Perencanaan yang matang akan mengurangi potensi munculnya konflik, karena sudah ada bentuk tertulis mengenai alur serta prioritas pekerjaan untuk tiap-tiap anggota tim.
5) Memperlancar kerja sama dengan pihak lain. Sebuah rencana yang matang akan memunculkan rasa percaya para pendukung potensial serta media yang akan digunakan sebagai saluran kampanye, hingga pada akhirnya akan terjalin kerjasama yang baik dan lancar. (Gregory dalam Venus 2007:144)
Proses pengembangan tahapan-tahapan perencanaan suatu pelaksanaan program kampanye Public Relations secara keseluruhan, yaitu termasuk tujuan, publik sasaran dan pesan-pesan yang efektif, baik bertujuan periode jangka panjang (strategi) maupun berbentuk secara mikro (individual) dalam pelaksanaan jangka pendek dengan tujuan khusus (taktik) dapat dilaksanakan secara bersama-sama melalui proses 10 tahapan atau rangkaian yang secara logis. Gregory (2004:36) menyebutkan 10 tahapan perencanaan sebagai berikut :
1. Analisis Situasi
Analisis adalah langkah pertama dari proses perencanaan. Setelah riset, tahap berikutnya adalah analisis dan ini dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan yang akan menjadi dasar dari program Public Relations. ada dua jenis analisis yang digunakan untuk perencanaan program kampanye yaitu :
Analisis PEST
Teknik yang biasa digunakan dan sangat berguna untuk menganalisis lingkungan eksternal. PEST membagi lingkungan dalam empat area dan membahas hampis segala hal yang dapat mempengaruhi organisasi. Empat area tersebut adalah Politik, Ekonomi, Sosial dan Teknologi. Menurut Gregory (2004:41) pertanyaan-pertanyaan dasar yang diungkapkan ketika melaksanakan analisis PEST adalah : apa faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi organisasi?, mana dari faktor-faktor tersebut yang paling penting saat ini?, mana yang akan menjadi faktor yang paling penting empat tahun kemudian?
Analisis SWOT
Analisis SWOT meliputi empat elemen yaitu Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Oppurtunities (kesempatan), dan Threats (tantangan). Strength dan oppurtunities dapat dikelompokan sebagai pertimbangan-pertimbangan positif yang mendukung terlaksananya program kampanye, sedangkan weakness dan threats dikelompokan pada kondisi-kondisi negatif yang harus dihadapi kampanye. Sementara menurut Gregory (2004:46) menjelaskan dua elemen pertama, Strength dan Weakness dapat dilihat sebagai faktor yang digerakan secara internal dan bersifat khusus terhadap organisasi. Dua elemen yang lain, Oppurtunities dan Threats biasanya bersifat eksternal dan didapat melalui analisis PEST.
2. Tujuan
Menetapkan tujuan yang realistis adalah sangat penting apabila program atau kampanye yang direncanakan harus memiliki arah dan dapat menunjukan suatu keberhasilan tertentu. Tujuan utama dari Public Relations adalah untuk mempengaruhi sikap dan perilaku. Menurut Gregory (2004:79) ada delapan hal penting yang harus di ingat ketika menetapkan tujuan, yaitu :
Sejalan dengan tujuan organisasi.
Tepat dan spesifik.
Lakukan apa yang dapat dicapai.
Lakukan pengukuran sebanyak mungkin.
Bekerjalah berdasarkan skala waktu.
Bekerjalah berdasarkan anggaran.
Bekerjalah sesuai dengan urutan prioritas.
Analisis adalah langkah pertama dari proses perencanaan. Setelah riset, tahap berikutnya adalah analisis dan ini dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan yang akan menjadi dasar dari program Public Relations. ada dua jenis analisis yang digunakan untuk perencanaan program kampanye yaitu :
Analisis PEST
Teknik yang biasa digunakan dan sangat berguna untuk menganalisis lingkungan eksternal. PEST membagi lingkungan dalam empat area dan membahas hampis segala hal yang dapat mempengaruhi organisasi. Empat area tersebut adalah Politik, Ekonomi, Sosial dan Teknologi. Menurut Gregory (2004:41) pertanyaan-pertanyaan dasar yang diungkapkan ketika melaksanakan analisis PEST adalah : apa faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi organisasi?, mana dari faktor-faktor tersebut yang paling penting saat ini?, mana yang akan menjadi faktor yang paling penting empat tahun kemudian? Analisis SWOT
Analisis SWOT meliputi empat elemen yaitu Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Oppurtunities (kesempatan), dan Threats (tantangan). Strength dan oppurtunities dapat dikelompokan sebagai pertimbangan-pertimbangan positif yang mendukung terlaksananya program kampanye, sedangkan weakness dan threats dikelompokan pada kondisi-kondisi negatif yang harus dihadapi kampanye. Sementara menurut Gregory (2004:46) menjelaskan dua elemen pertama, Strength dan Weakness dapat dilihat sebagai faktor yang digerakan secara internal dan bersifat khusus terhadap organisasi. Dua elemen yang lain, Oppurtunities dan Threats biasanya bersifat eksternal dan didapat melalui analisis PEST. 2. Tujuan
Menetapkan tujuan yang realistis adalah sangat penting apabila program atau kampanye yang direncanakan harus memiliki arah dan dapat menunjukan suatu keberhasilan tertentu. Tujuan utama dari Public Relations adalah untuk mempengaruhi sikap dan perilaku. Menurut Gregory (2004:79) ada delapan hal penting yang harus di ingat ketika menetapkan tujuan, yaitu :
Sejalan dengan tujuan organisasi.
Tepat dan spesifik.
Lakukan apa yang dapat dicapai.
Lakukan pengukuran sebanyak mungkin.
Bekerjalah berdasarkan skala waktu.
Bekerjalah berdasarkan anggaran.
Bekerjalah sesuai dengan urutan prioritas.
3. Mengenali Publik
James Grunig (1984) mendefinisikan empat jenis publik, yaitu :
Nonpublik, adalah kelompok yang tidak terpengaruh maupun mempengaruhi organisasi.
Publik yang tersembunyi (latent public), adalah kelompok yang menghadapi masalah akibat tindakan suatu organisasi, namun mereka tidak menyadarinya.
Publik yang sadar (aware public), adalah kelompok yang mengenali adanya masalah.
Publik yang aktif, adalah kelompok yang mengambil tindakan terhadap suatu masalah.
Sementara itu, publik yang aktif dapat dikelompokan dalam tiga kategori berikut :
Publik semua masalah (all-issue public) sangat aktif terhadap semua masalah yang mempengaruhi organisasi.
Publik masalah tunggal (single-issue public) sangat aktif terhadap satu masalah atau sekelompok kecil masalah.
c. Publik masalah hangat (hot-issue public) adalah mereka yang terlibat dalam suatu masalah yang memiliki dukungan publik luas dan biasanya mendapatkan liputan khusus dari media.
Pemilihan publik mana yang akan menjadi sasaran bergantung pada tujuan kampanye yang akan dilaksanakan. Arens dalam Venus (2007:150) mengatakan bahwa identifikasi dan segmentasi ssasaran kampanye dilaksanakan dengan melakukan pemilahan atau segmentasi terhadap kondisi geografis, kondisi demografis, kondisi perilaku dan kondisi psikografis.
4. Pesan
Gregory (2004:95) menjelaskan empat langkah untuk menentukan pesan, yaitu : Langkah pertama adalah menggunakan persepsi yang sudah ada. Langkah kedua adalah menjelaskan pergeseran yang dapat dilakukan terhadap persepsi tersebut. Langkah ketiga adalah mengidentifikasi unsur-unsur persuasi. Cara terbaik adalah melakukannya berdasarkan fakta. Langkah keempat adalah memastikan bahwa pesan tersebut dapat dipercaya dan dapat disampaikan melalui Public Relations.
5. Strategi
Strategi adalah pendekatan keseluruhan untuk suatu program atau kampanye. Strategi adalah faktor pengkoordinasi, prinsip yang menjadi penuntun, ide utama dan pemikiran dibalik program taktis. (Venus 2007:152)
6. Taktik
Berbicara taktik pelaksanaan suatu program kampanye yang harus berkaitan erat dengan program dari strategi utama, tujuan kampanye, ketika akan mengembangkan taktik pelaksanaan kampanye tersebut tidak terlepas dari faktor-faktor kekuatan, kreativitas atau kemampuan tim pelaksana, pengembangan program hingga pencapaian tujuan terukur, seperti yang diungkapkan Ruslan (2007:102) sebagai berikut :
a) Appropriateness, adanya kecocokan secara aktual dengan teknik-teknik taktik pelaksanaan, pencapaian target khalayak publik, hasil-hasil yang dicapai dalam melaksanakan pesan-pesan kampanye dan termasuk kecocokan dengan teknik-teknik Public Relations serta media komunikasi yang dipergunakan.
b) Deliverability, apakah anda mampu melaksanakan teknik-teknik berkampanye secara sukses sesuai dengan target? berapa besar alokasi dana yang diperlukan? Bagaimana dengan jadwal waktu pelaksanaan kampanye tersebut apakah sudah tepat? Termasuk memiliki tim ahli dan pendukungnya dalam taktik pelaksanaan secara tepat?.
7. Skala waktu
Ada dua hal yang pasti dalam kehidupan praktisi Public Relations. Pertama, tidak pernah ada waktu yang cukup untuk melakukan semua pekerjaan yang harus dilakukan, tugas dan tanggung jawab yang ada lebih besar daripada waktu yang tersedia. Kedua adalah bahwa tugas-tugas Public Relations seriingkali melibatkan orang lain dan memerlukan koordinasi dari beberapa unsur. Ada dua faktor utama yang saling berkaitan yang harus diamati ketika mempertimbangkan skala waktu. Pertama, tenggat waktu (deadline) harus di identifikasi sehingga tugas-tugas yang dihubungkan dengn suatu proyek dapat diselesaikan tepat waktu. Kedua adalah sumber daya yang tepat perlu dialokasikan sehingga tugas-tugas yang ada dapat diselesaikan. (Gregory, 2004:124)
8. Sumber daya
Menurut Ruslan (2007:104) terdapat tiga bentuk sumber daya utama yang berkaitan dengan pelaksanaan program kampanye Public Relations. Pertama sumber daya manusia (SDM) yang terlibat langsung dalam kegiatan kampanye berupa tenaga profesional, dan ahli hingga terampil, staf pendukung atau tenaga lapangan. Kedua, sumber biaya operasional untuk menunjang kegiatan kampanye yang dikelola secara efisien dalam pembiayaan pelaksanaan operasional (implementation fee), consultant or professional fee, space of advertising cost, dan equipment fee (biaya penyewaan perlatan penunjang, publikasi, transportasi, sound system dan lighting system dan sebagainya). Ketiga adalah sumber perlengkapan transportasi, dukungan perlatan teknis, pemanfaatan media komunikasi dan tim kerja lain dan sebagainya.
9. Evaluasi
Menurut Gregory (2004:138) evaluasi adalah proses yang berkelanjutan jika kita berbicara tentang program berjangka panjang. Jika dilaksanakan dengan benar, evaluasi memudahkan anda untuk mengendalikan kegiatan Public Relations. Berikut adalah alasan menngapa kita perlu mencantumkan evaluasi dalam kampanye dan program yang kita buat.
Memfokuskan usaha.
Menunjukan keefektifan.
Memastikan efisiensi biaya.
Mendukung manajemen yang baik.
Memfasilitasi pertanggungjawaban.
10. Review
Sementara evaluasi dilakukan secara teratur, review yang menyeluruh dilakukan dengan frekuensi yang lebih jarang. Setelah memutuskan untuk melakukan review, siklus proses perencanaan akan terulang lagi. Sekali lagi pertanyaan-pertanyaan dasar harus diajukan :
Apa yang ingin kita capai?
Siapa yang ingin kita jangkau?
Apa yang ingin kita katakan?
Apa cara yang paling efektif untuk menyampaikan pesan?
Bagaimana suskes dapat diukur?
Selain itu, peninjauan kembali terhadap penilaian perencanaan, pelaksanaan selama program dan pencapaian tujuan tertentu suatu kampanye berlangsung secara periodik setiap tahun tujuan program kampanye Public Relations melalui proses input (perolehan riset data, fakta, dan informasi di lapangan), output (kecocokan dengan isi pesan, tujuan dan media yang dipergunakan) dan result (hasil-hasil dari tujuan dan efektivitas program kampanye yang telah dicapai, apakah adanya perubahan sikap atau perilaku khalayak sasaran).
Menurut French (1982) terdapat 8 langkah perencanaan komunikasi untuk kampanye yaitu :
a. menganalisis masalah
b. menganalisis khalayak
c. merumuskan tujuan
d. memilih media
e. mengembangkan pesan
f. merencanakan produksi media
g. merencanakan manajemen progam
h. monitoring dan evaluasi
Nimmo dan Thomas ungs (1973 menjelaskan fase perencanaan kampanye politik. yaitu
a. fase pengorganisasian meliputi : kapan staf, informasi, dan dana dikumpulkan, strategi dan taktik ditetapkan, semangat kelompok dibangkitkan.
b. Fase pengujian meliputi : kapan calon menggalang para anggota menawarkan kemudahan pada orang – orang yang belum jadi anggota.
c. Fase kritis meliputi : suatu titik dimana calom pemilih belum menentukan sikap terhadap partai atau siapa yang adan dipilih atau di dukung.
B. PELAKSANAAN KAMPANYE
Menurut Venus (2007:199) pelaksanaan kampanye adalah “penerapan dari konstruksi ranncangan program yang telah ditetapkan sebelumnya”. Beberapa hal yang harus dilakukan dalam tahap pelaksanaan meliputi : realisasi unsur-unsur kampanye, menguji coba rencana kampanye, pemantauan pelaksanaan, dan pembuatan laporan kemajuan.
1. Realisasi unsur-unsur pokok kampanye
· Perekrutan dan pelatihan personel kampanye
Kegiatan kampanye merupakan kerja tim. Dengan demikian banyak personel (juga lembaga) yang akan terlibat didalamnya. Penentuan siapa saja yang akan terlibat sebagai pelaksana kampanye (campaign organizer) merupakan langkah awal dalam melaksanakan kampanye. Orang-orang yang akan menjadi personel kampanye harus diseleksi dengan teliti dengan memperhatikan aspek motivasi, komitmen, kemampuan bekerjasama, dan pengalaman yang bersangkutan dalam kerja sejenis.
· Mengonstruksi pesan
Pada prinsipnya desain pesan kampanye harus sejalan dengan karakteristik khalayak sasaran, saluran yang digunakan, dan efek kampanye yang diharapkan. Pesan kampanye memiliki berbagai dimensi yang meliputi pesan verbal, nonverbal, dan visual. Namun apapun dimensinya, secara umum konstruksi pesan kammpanye harus didasarkan pada pertimbangan kesederhanaan (simplicity), kedekatan (familiarity) dengan situasi khalayak, kejelasan (clarity), keringkasan (conciesness). Kebaruan (novelty), konsistensi, kesopanan (courtessy) dan kesesuaian dengan objek kammpanye.
· Menyeleksi penyampai pesan kampanye
Pelaksanaan kampanye juga menghendaki pelaksana kampanye berhadapan dengan pemilihan individu yang secara spesifik bertindak sebagai pelaku (campaign actor) yang menyampaikan pesan kampanye. Keputusan untuk menentukan siapa pelaku atau penyampai pesan kampanye ini menjai sangat penting karena merekalah aktor yang akan berhadapan langsung dengan publik.
· Menyeleksi saluran kampanye
Menyeleksi media mana yang akan digunakan sebagai saluran kampanye harus dilakukan dengan penuh pertimbangan. Beberapa faktor pokok yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media kampanye diantaranya : jangkauan media, tipe dan ukuran besarnya khalayak, biaya, waktu, dan tujuan serta objek kampanye. Di samping itu faktor lain yang juga perlu mendapat perhatian adalah karakteristik khalayak, baik secara demografis, psikografis, maupun geografis. Pola penggunaan media khalayak (media habit) juga harus diperhitungkan untuk memastikan media apa yang biasanya digunakan khalayak.
2. Uji coba rencana kampanye
Uji coba terhadap suatu rancangan dilakukan untuk menyusun strategi (pesan, media, dan penyampai pesan) yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Lewat uji coba rencana kampanye juga kita akan memperoleh gambaran tentang respons awal sebagian khalayak sasaran terhadap pesan-pesan kampanye. Respons ini pada gilirannya akan digunakan sebagai pembanding ketika melakukan evaluasi proses dan akhir kampanye.
3. Tindakan dan pemantauan kampanye
Sebagai sebuah kegiatan yang terprogram dan direncanakan dengan baik, maka segala tindakan dalam kampanye harus dipantau agar tidak keluar dari arah yang ditetapkan. Untuk itu harus dipahami bahwa tindakan kampanye bukanlah tindakan yang kaku dan parsial, tetapi bersifat adaptif, antisipatif, integratif dan berorientasi pada pemecahan masalah.
Adaptif. Tindakan kampanye bersifat adaptif artinya ia terbuka terhadap masukan-masukan baru atau bukti-bukti baru yang ditemukan di lapangan.
Anitisipatif. Tindakan kampanye bersifat antisipatif artinya kegiatan kampanye harus memperhitungkan berbagai kemungkinan yang akan muncul di lapangan saat kampanye dilakukan.
Orientasi pemecahan masalah. Tindakan kampanye bersifat problem solving oriented artinya segala bentuk tindakan dalam proses kampanye diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
Integratif dan koordinatif
Kegiatan kampanye bukanlah tindakan one man show melainkan kegiatan yang didasarkan pada kerja tim. Keberhasilan kampanye ditentukan oleh bagaimana pelaksana kampanye bertindak secara integratif dan koordinatif. Koordinasi ini tidak hanya dilakukan dengan sesama pelaksana kampanye melainkan juga dengan berbagai pihak terkait yang akan turut mempengaruhi kelancaran dan keberhasilan pencapaian tujuan kampanye.
4. Laporan kemajuan
Unsur terakhir dari proses pelaksanaan kampanye adalah penjadwalan laporan kemajuan atau progress report. Laporan kemajuan merupakan dokumen yang sangat penting, bukan hanya bagi manajer tapi juga pelaksana kampanye secara keseluruhan. Dalam laporan kemajuan umumnya dimuat berbagai data dan fakta tentang berbagai hal yang telah dilakukan selama masa kampanye.
SUMBER:
- http://stail.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=158:urgensi-perencanaan-komunikasi-dalam-sebuah-organisasi&catid=44:jurnal-ilmiah&Itemid=95
--
- http://www.scribd.com/doc/32808491/Kampanye-PR
- http://komunitaspr.wordpress.com/2010/06/10/perencanaan-strategis-kampanye-pr/
Jumat, 02 November 2012
SBY Jual Ladang Emas Kalimantan
Pada 2001 Pemerintah RI sempat menghentikan operasi Freeport McMoran di Papua. Freeport dianggap melanggar konsensus PBB mengenai Amdal (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) serta aturan expansi "Gold Mining" tentang pelarangan sebuah negara beroperasi di negara lain. Namun Pada 2007 Freeport kembali beroperasi, dengan mengakali peraturan yang membuat Freeport McMoran seolah-olah perusahaan tambang milik Indonesia dan mengganti namanya menjadi Freeport Indonesia.
Hal serupa juga berlaku pada Ontario Limited Co.Ltd, Perusahaan penambang emas raksasa milik Great Britain (Britania Raya) yang berpusat di Bermuda. Ontario Limited Co.Ltd membuat anak perusahaan di Indonesia dengan nama Kalimantan Gold Corporation. Tujuannya jelas, agar secara yuridis, perusahaan ini adalah perusahaan Indonesia.
Menurut data yang dirilis dari tmx.quotemedia.com, terhitung resmi sejak 23 Mei 2012, Freeport & KGC sudah mulai menambang emas & tembaga di Kalimantan. Kedua perusahaan raksasa ini membentuk sebuah anak perusahaan untuk menjalankan operasi tambang di Kalimantan Tengah, yaitu "PT. Kalimantan Surya Kencana". Daerah operasi mereka terbentang dari Tayan Kalbar sampai Tarakan Kaltim, yang juga melewati Beruang Tengah Kalteng.
Kalimantan Gold Corporation dalam laporan resmi yang dirilis di Bursa Efek Toronto pada Selasa (29/5/2012) menyebutkan, pengeboran pertama sedang dilakukan di Beruang Tengah sejak 23 Mei 2012. ”Pengeboran pada lubang kedua diharapkan dapat dilakukan di Berungan kanan pada awal Juni 2012,” ujar Faldi Ismail, Deputy Chairman and CEO Kalimantan Gold, dalam keterangan pers yang dikutip KONTAN (www.tmx.quotemedia.com, Selasa, 29/5/2012).
Freeport & KGC Joint Operation (dalam consortiumnya menggunakan anak perusahaan bersama J.O. Kalimantan Surya Kencana) melakukan eksplorasi tembaga dan emas di Kalimantan terhitung sejak Mei 2012. Selain tercatat di bursa efek Toronto, Kanada, KLG juga tercatat di Bursa Efek London.
Dari fakta ini jelas memperlihatkan urgensi lawatan SBY ke London untuk tujuan apa. Ketika masyarakat mempertanyakan pertimbangan SBY yang lebih memilih berkunjung ke London ketimbang kunjungan untuk menyelesaikan konflik horizontal yang terjadi di dalam negeri, deal-deal seperti ini jelas sangat menguntungkan SBY secara personal dan golongan.
Di satu sisi, sebagai warga Indoonesia, saya tidak ingin papua melepaskan diri dari NKRI. Namun dari sisi sentimentil, saya pun akan melakukan hal yang sama seperti saudara-saudara di papua. Ketika semua penduduk Capitol lebih sibuk mengurusi pemimpin daerah mereka yang baru, ada bagian dari Indonesia yang diperas habis-habisan. Sekarang giliran Kalimantan. Penduduk asli tidak akan membiarkan begitu saja tanah mereka dirampas dan ekosistem mereka dirusak, disamping mereka tidak menikmati kekayaan alam mereka.
Hal serupa juga berlaku pada Ontario Limited Co.Ltd, Perusahaan penambang emas raksasa milik Great Britain (Britania Raya) yang berpusat di Bermuda. Ontario Limited Co.Ltd membuat anak perusahaan di Indonesia dengan nama Kalimantan Gold Corporation. Tujuannya jelas, agar secara yuridis, perusahaan ini adalah perusahaan Indonesia.
Menurut data yang dirilis dari tmx.quotemedia.com, terhitung resmi sejak 23 Mei 2012, Freeport & KGC sudah mulai menambang emas & tembaga di Kalimantan. Kedua perusahaan raksasa ini membentuk sebuah anak perusahaan untuk menjalankan operasi tambang di Kalimantan Tengah, yaitu "PT. Kalimantan Surya Kencana". Daerah operasi mereka terbentang dari Tayan Kalbar sampai Tarakan Kaltim, yang juga melewati Beruang Tengah Kalteng.
Kalimantan Gold Corporation dalam laporan resmi yang dirilis di Bursa Efek Toronto pada Selasa (29/5/2012) menyebutkan, pengeboran pertama sedang dilakukan di Beruang Tengah sejak 23 Mei 2012. ”Pengeboran pada lubang kedua diharapkan dapat dilakukan di Berungan kanan pada awal Juni 2012,” ujar Faldi Ismail, Deputy Chairman and CEO Kalimantan Gold, dalam keterangan pers yang dikutip KONTAN (www.tmx.quotemedia.com, Selasa, 29/5/2012).
Freeport & KGC Joint Operation (dalam consortiumnya menggunakan anak perusahaan bersama J.O. Kalimantan Surya Kencana) melakukan eksplorasi tembaga dan emas di Kalimantan terhitung sejak Mei 2012. Selain tercatat di bursa efek Toronto, Kanada, KLG juga tercatat di Bursa Efek London.
Dari fakta ini jelas memperlihatkan urgensi lawatan SBY ke London untuk tujuan apa. Ketika masyarakat mempertanyakan pertimbangan SBY yang lebih memilih berkunjung ke London ketimbang kunjungan untuk menyelesaikan konflik horizontal yang terjadi di dalam negeri, deal-deal seperti ini jelas sangat menguntungkan SBY secara personal dan golongan.
Di satu sisi, sebagai warga Indoonesia, saya tidak ingin papua melepaskan diri dari NKRI. Namun dari sisi sentimentil, saya pun akan melakukan hal yang sama seperti saudara-saudara di papua. Ketika semua penduduk Capitol lebih sibuk mengurusi pemimpin daerah mereka yang baru, ada bagian dari Indonesia yang diperas habis-habisan. Sekarang giliran Kalimantan. Penduduk asli tidak akan membiarkan begitu saja tanah mereka dirampas dan ekosistem mereka dirusak, disamping mereka tidak menikmati kekayaan alam mereka.
Selasa, 16 Oktober 2012
BADUY: Tak Sekadar Jalan-Jalan (part I)
Kisah perjalanan ini bermula dari sebuah rencana tak terduga. Kala itu saya dan seorang teman sedang berpikir untuk mengisi libur singkat di bulan April, bertepatan dengan Hari Raya Paskah. Rutinitas sakramentalia di gereja nampaknya sudah menjadi terlalu abstrak untuk diikuti. Rasanya kami ingin memaknainya langsung di dalam keseharian lewat interaksi dan pengalaman hidup.
Menepi dari hingar-bingar kota. Mencari makna dalam kesunyian. Mengalami pengorbanan untuk mendapatkan nilai. Belajar tentang hidup dengan menjalani hidup itu sendiri. Pilihan jatuh pada desa Baduy. kebetulan salah seorang teman saya yang lain memiliki akses langsung dengan orang di Baduy dalam. Rencana disusun bersamaan dengan janji dengan kawan di Baduy dalam.
Kala itu hari Jumat. Ketika nasrani menjalani prosesi jalan salib, kami (Saya, Ardo, dan Wahyu) melakukan perjalanan dengan pengorbanan pula. Berkumpul di Stasiun Serpong, tiga orang pergi menumpang kereta api menuju Rangkas Bitung.
Gerbong yang kami naiki bukanlah gerbong penumpang. Hanya ada jendela, tidak ada pintu. Kami masuk lewat jendela dan duduk bersila. Melihat orang banyak dengan ekspresi mereka masing-masing. Melihat orang dengan segala barang bawaannya, termasuk seekor ayam pun ada. Mungkin terdengar begitu kumuh, namun kami tetap menikmati semua. menikmati perjalanan dengan khikmat.
Kereta berhenti. Kami bergegas keluar. Tentu saja melalui jalan masuk kami tadi, jendela. Wahyu sempat membantu seorang ibu yang kesulitan turun dari jendela, karena memang jarak antara jendela-tanah terlalu jauh. Kepekaan dan inisiatif yang cukup menyentil saya. Sangat sederhana, namun begitu sangat menunjukkan betapa menolong orang lain dengan pengorbanan itu bisa menghasilkan senyuman.
Dari stasiun Rangkas Bitung, kami menumpang angkot menuju sebuah terminal. Terminalnya tergolong kecil. Lebih didominasi oleh angkutan jenis Elf. Kebetulan hari itu lalu lintas angkutan cukup padat, sehingga kami bertiga tidak mendapat kursi di angkutan. Seketika itu juga, ide gila muncul. "Gimana kalo di kap mobil aja", kata salah seorang teman saya. Karena kami tidak punya banyak pilihan, maka pilihan ini kami ambil. Kami hanya ingin sampai ke Baduy tepat dan berjumpa dengan kawan kami, orang Baduy Dalam.
Sekitar 3 jam perjalanan mengantarkan kami dari Terminal menuju desa Ciboleger, desa terakhir yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Sesampainya di sana, kami langsung disambut oleh kawan kami, Sapri yang kebetulan membawa serta kawannya, Asmin. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah "Wow, mereka masih anak-anak ternyata". Hal itu terlihat dari bentuk wajah keduanya. Kami rehat sejenak untuk merenggangkan otot kami yang kaku setelah menegang selama 3 jam perjalanan. Kopi dan pisang goreng menemani rehat kami.
Perbincangan ringan membuka interaksiku dengan kawan baru dari Baduy Dalam ini. mereka tidak terlalu primitif untuk diajak berbincang. Ini pengalaman pertama saya berbincang dengan penghuni Baduy Dalam. Mereka cukup punya wawasan di luar adat istiadat mereka. Pengetahuan mereka tentang Jakarta membuat saya cukup tercengang, sebab mereka ternyata cukup mengenal Ibu Kota.
Setelah rehat, kami memutuskan untuk memulai perjalanan. namun baru beberapa menit berjalan, hujan turun dan semakin deras. Maka kami sepakat untuk berteduh dan menunda perjalanan sampai hujan reda. Kami berteduh di teras rumah salah seorang warga Baduy Luar. Kesempatan ini membuka waktu yang cukup banyak untuk kembali berbincang. Perbincangan ringan yang disisipi sedikit humor untuk melepaskan tawa. Dua jam berlalu, hujan pun akhirnya mereda. Kami melanjutkan perjalanan.
Kala itu, jalan setapak dari tanah terasa sangat licin. Beberapa kali Ardo harus tergelincir dan kehilangan keseimbangan. Namun dua rekan kami dari Baduy Dalam nampak santai mengambil langkah. Mereka tidak memakai alas kaki. Maka, kami pun mengikuti contoh itu, dengan harapan bisa terbebas dari licinnya jalanan.
Seperjalanan, kami melewati pemandangan yang begitu luar biasa indah. Melewati danau yang begitu jernih airnya. Melintasi punggung bukit yang menyajikan pemandangan elok punggungan bukit dengan kabut tipis di lembahnya. Ditambah, udara segar yang menambah nikmatnya perjalanan kami. Sering saya mengambil nafas dalam untuk menikmati betapa nikmatnya udara, udara yang disajikan cuma-cuma. Suasana yang begitu damai segera menjadi imaji di kepala.
3 jam perjalanan dengan jalan kaki tidak terasa. Melewati sungai yang menjadi pembatas antara wilayah Baduy Dalam dan Baduy Luar. Menikmati teduhnya rumah singgah di ladang yang kami lalui. Meneguk betapa segarnya air sungai yang begitu bersih dan segar. menikmati hasil bumi dari buah durian yang beruntung masih bisa kami rasakan. Semuanya itu menjadi bumbu perjalanan kami selama 3 jam menuju Baduy Dalam.
Alat komunikasi kami matikan dan kami bungkus di dalam tas. Sebab aturan adat di Baduy Dalam tidak memperbolehkan adanya pemakaian alat elektonik. Tidak masalah. Semua itu hanya tidak bisa divisualkan. Namun tetap bisa tersaji melalui tulisan.
Sebelum masuk ke perkampungan, ada sebuah lokasi tempat penyimpanan beras. tempat penyimpanan itu seperti rumah minang, namun dalam bentuk mini. Sekitar 2 x 2 meter saja. Cukup tinggi. Dan hanya ada satu pintu kecil yang terletak di bagian atas untuk memasukkan dan mengambil beras. Tidak jauh dari lokasi itu, ada sebuah jembatan yang terbuat dari bambu yang menjadi penghubung dan pintu gerbang perkampungan.
Perkampungan yang kami datangi ini merupakan perkampungan atau desa tempat tinggal Sapri dan Asmin. Perkampungan itu bernama Ci Beo. Terdiri dari beberapa puluh rumah yang berarti beberapa puluh keluarga. Sebab aturannya di sini, setiap orang yang menikah, wajib hidup dengan keluarganya, bukan dengan orang tuanya. Kebetulan Sapri belum menikah, maka ia masih tinggal dengan orang tuanya.
Rumah-rumah di sama cukup unik. Tidak ada sebilah paku yang menjadi perekat. Semua balok terpasang dengan kuncian yang sengaja dipahat dan ibuat agar kuat menyangga dan menjadi pondasi yang kokoh. Sangat harmoni.
Pengalaman berharga berikutnya kami dapatkan ketika selesai makan malam. Kami kembali berbincang di halaman depan rumah, tepatnya di pinggir jalan. Penerangan hanya menggunakan sebuah lampu yang terbuat dari botol kaca, sumbu, dan minyak tanah.
Di dalam suasan gelap itu, saya mulai mengajukan beberapa pertanyaan mengenai konsepsi adat istiadat Baduy Dalam. Menurut penjelasan Sapri, menjadi orang Baduy Dalam itu adalah sebuah kehormatan. Hal itu karena identitas itu merupakan warisan. Orang Baduy Dalam bisa dengan mudah menjadi orang Baduy Luar, namun tidak sebaliknya. Orang Baduy Dalam memiliki peraturan yang sangat ketat, apalagi bila itu berkaitan dengan adat istiadat. Salah satu contoh adalah Orang Baduy Dalam tidak boleh berbohong. Orang Baduy dalam tidak boleh memiliki alat-alat elektronik. Tidak boleh menggunakan kendaraan. Tidak boleh mengotori sungai dan lingkungan. Dan semua aturan itu diawasi oleh seorang tetua adat yang akrab mereka panggil Pu'un.
Hal yang saya anggap luar biasa adalah kejujuran mereka. Ketika mereka bepergian ke Jakarta yang notabene jauh dari kampung, mereka masih memegang teguh prinsip untuk tidak memakai kendaraan, padahal, kalau mereka melakukan itu pun tidak ada warga Baduy Dalam yang melihat. Namun mereka tidak mengambil pilihan itu, bahkan hal itu tidak pernah hadir sebagai pilihan di kepala mereka. Di tengah perkembangan budaya msyarakat yang serba kebelinger seperti ini, ternyata ada yang masih berpegang teguh pada konsep kejujuran.
Setelah perbincangan yang cukup serius itu, maka mulai masuklah kami ke perbincangan ringan. Tiba-tiba asmin bertanya mengenai bulan yang kadang muncul dan kadang menghilang. Saya pun menjawab dengan sedikit mengingat-ingat pelajaran di SD dan SMP mengenai astronomi. Saya mencoba menjelaskan hal ilmiah dengan penjelasan populer. Namun dengan penjelasan itu, mereka hanya merespon dengan kata "Oooo..." Lalu menyambung pertanyaan sebelumnya, maka ia bertanya kembali dengan polosnya, "Terus, bisa nggak orang pergi ke bulan?" Wahyu menjawab menggunakan konsep pesawat ulang alik. Namun Sapri bertanya lagi, "Bisa nggak orang pergi jalan kaki ke bulan?". Wahyu menjawab dengan tegas "Ya nggak bisa, makanya, selama orang Baduy Dalam nggak boleh pake kendaraan, Sapri dan Asmin nggak bisa pergi ke bulan". Jawaban itu lantas membawa gelak tawa yang memecah pekatnya malam itu.
Mereka orang yang polos. Mereka seperti sebuah kertas putih yang sedang diisi dengan tulisan dan gambar. Mereka masih terlalu kosong secara pengetahuan umum. Namun untuk soal harmonisasi alam, mereka adalah guru saya. Sangat sulit berpegang teguh dengan prinsip seperti itu di tengah kehidupan serba moderen seperti ini. Namun dari situ, minimal saya bisa belajar untuk memahami sebuah ketulusan dan kebanggaan.
Nampaknya terlalu banyak yang bisa diceritakan dalam perjalanan ini. Belum kami menutup mata, masih ada dua hari lagi yang belum sempat tertuang di sini.
#Bersambung....
Menepi dari hingar-bingar kota. Mencari makna dalam kesunyian. Mengalami pengorbanan untuk mendapatkan nilai. Belajar tentang hidup dengan menjalani hidup itu sendiri. Pilihan jatuh pada desa Baduy. kebetulan salah seorang teman saya yang lain memiliki akses langsung dengan orang di Baduy dalam. Rencana disusun bersamaan dengan janji dengan kawan di Baduy dalam.
Gerbong yang kami naiki bukanlah gerbong penumpang. Hanya ada jendela, tidak ada pintu. Kami masuk lewat jendela dan duduk bersila. Melihat orang banyak dengan ekspresi mereka masing-masing. Melihat orang dengan segala barang bawaannya, termasuk seekor ayam pun ada. Mungkin terdengar begitu kumuh, namun kami tetap menikmati semua. menikmati perjalanan dengan khikmat.Kereta berhenti. Kami bergegas keluar. Tentu saja melalui jalan masuk kami tadi, jendela. Wahyu sempat membantu seorang ibu yang kesulitan turun dari jendela, karena memang jarak antara jendela-tanah terlalu jauh. Kepekaan dan inisiatif yang cukup menyentil saya. Sangat sederhana, namun begitu sangat menunjukkan betapa menolong orang lain dengan pengorbanan itu bisa menghasilkan senyuman.
Dari stasiun Rangkas Bitung, kami menumpang angkot menuju sebuah terminal. Terminalnya tergolong kecil. Lebih didominasi oleh angkutan jenis Elf. Kebetulan hari itu lalu lintas angkutan cukup padat, sehingga kami bertiga tidak mendapat kursi di angkutan. Seketika itu juga, ide gila muncul. "Gimana kalo di kap mobil aja", kata salah seorang teman saya. Karena kami tidak punya banyak pilihan, maka pilihan ini kami ambil. Kami hanya ingin sampai ke Baduy tepat dan berjumpa dengan kawan kami, orang Baduy Dalam.Sekitar 3 jam perjalanan mengantarkan kami dari Terminal menuju desa Ciboleger, desa terakhir yang bisa dilalui oleh kendaraan roda empat. Sesampainya di sana, kami langsung disambut oleh kawan kami, Sapri yang kebetulan membawa serta kawannya, Asmin. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah "Wow, mereka masih anak-anak ternyata". Hal itu terlihat dari bentuk wajah keduanya. Kami rehat sejenak untuk merenggangkan otot kami yang kaku setelah menegang selama 3 jam perjalanan. Kopi dan pisang goreng menemani rehat kami.
Perbincangan ringan membuka interaksiku dengan kawan baru dari Baduy Dalam ini. mereka tidak terlalu primitif untuk diajak berbincang. Ini pengalaman pertama saya berbincang dengan penghuni Baduy Dalam. Mereka cukup punya wawasan di luar adat istiadat mereka. Pengetahuan mereka tentang Jakarta membuat saya cukup tercengang, sebab mereka ternyata cukup mengenal Ibu Kota.Setelah rehat, kami memutuskan untuk memulai perjalanan. namun baru beberapa menit berjalan, hujan turun dan semakin deras. Maka kami sepakat untuk berteduh dan menunda perjalanan sampai hujan reda. Kami berteduh di teras rumah salah seorang warga Baduy Luar. Kesempatan ini membuka waktu yang cukup banyak untuk kembali berbincang. Perbincangan ringan yang disisipi sedikit humor untuk melepaskan tawa. Dua jam berlalu, hujan pun akhirnya mereda. Kami melanjutkan perjalanan.
Kala itu, jalan setapak dari tanah terasa sangat licin. Beberapa kali Ardo harus tergelincir dan kehilangan keseimbangan. Namun dua rekan kami dari Baduy Dalam nampak santai mengambil langkah. Mereka tidak memakai alas kaki. Maka, kami pun mengikuti contoh itu, dengan harapan bisa terbebas dari licinnya jalanan.
Seperjalanan, kami melewati pemandangan yang begitu luar biasa indah. Melewati danau yang begitu jernih airnya. Melintasi punggung bukit yang menyajikan pemandangan elok punggungan bukit dengan kabut tipis di lembahnya. Ditambah, udara segar yang menambah nikmatnya perjalanan kami. Sering saya mengambil nafas dalam untuk menikmati betapa nikmatnya udara, udara yang disajikan cuma-cuma. Suasana yang begitu damai segera menjadi imaji di kepala.
3 jam perjalanan dengan jalan kaki tidak terasa. Melewati sungai yang menjadi pembatas antara wilayah Baduy Dalam dan Baduy Luar. Menikmati teduhnya rumah singgah di ladang yang kami lalui. Meneguk betapa segarnya air sungai yang begitu bersih dan segar. menikmati hasil bumi dari buah durian yang beruntung masih bisa kami rasakan. Semuanya itu menjadi bumbu perjalanan kami selama 3 jam menuju Baduy Dalam.
Alat komunikasi kami matikan dan kami bungkus di dalam tas. Sebab aturan adat di Baduy Dalam tidak memperbolehkan adanya pemakaian alat elektonik. Tidak masalah. Semua itu hanya tidak bisa divisualkan. Namun tetap bisa tersaji melalui tulisan.
Sebelum masuk ke perkampungan, ada sebuah lokasi tempat penyimpanan beras. tempat penyimpanan itu seperti rumah minang, namun dalam bentuk mini. Sekitar 2 x 2 meter saja. Cukup tinggi. Dan hanya ada satu pintu kecil yang terletak di bagian atas untuk memasukkan dan mengambil beras. Tidak jauh dari lokasi itu, ada sebuah jembatan yang terbuat dari bambu yang menjadi penghubung dan pintu gerbang perkampungan.
Perkampungan yang kami datangi ini merupakan perkampungan atau desa tempat tinggal Sapri dan Asmin. Perkampungan itu bernama Ci Beo. Terdiri dari beberapa puluh rumah yang berarti beberapa puluh keluarga. Sebab aturannya di sini, setiap orang yang menikah, wajib hidup dengan keluarganya, bukan dengan orang tuanya. Kebetulan Sapri belum menikah, maka ia masih tinggal dengan orang tuanya.
Rumah-rumah di sama cukup unik. Tidak ada sebilah paku yang menjadi perekat. Semua balok terpasang dengan kuncian yang sengaja dipahat dan ibuat agar kuat menyangga dan menjadi pondasi yang kokoh. Sangat harmoni.
Pengalaman berharga berikutnya kami dapatkan ketika selesai makan malam. Kami kembali berbincang di halaman depan rumah, tepatnya di pinggir jalan. Penerangan hanya menggunakan sebuah lampu yang terbuat dari botol kaca, sumbu, dan minyak tanah.
Di dalam suasan gelap itu, saya mulai mengajukan beberapa pertanyaan mengenai konsepsi adat istiadat Baduy Dalam. Menurut penjelasan Sapri, menjadi orang Baduy Dalam itu adalah sebuah kehormatan. Hal itu karena identitas itu merupakan warisan. Orang Baduy Dalam bisa dengan mudah menjadi orang Baduy Luar, namun tidak sebaliknya. Orang Baduy Dalam memiliki peraturan yang sangat ketat, apalagi bila itu berkaitan dengan adat istiadat. Salah satu contoh adalah Orang Baduy Dalam tidak boleh berbohong. Orang Baduy dalam tidak boleh memiliki alat-alat elektronik. Tidak boleh menggunakan kendaraan. Tidak boleh mengotori sungai dan lingkungan. Dan semua aturan itu diawasi oleh seorang tetua adat yang akrab mereka panggil Pu'un.
Hal yang saya anggap luar biasa adalah kejujuran mereka. Ketika mereka bepergian ke Jakarta yang notabene jauh dari kampung, mereka masih memegang teguh prinsip untuk tidak memakai kendaraan, padahal, kalau mereka melakukan itu pun tidak ada warga Baduy Dalam yang melihat. Namun mereka tidak mengambil pilihan itu, bahkan hal itu tidak pernah hadir sebagai pilihan di kepala mereka. Di tengah perkembangan budaya msyarakat yang serba kebelinger seperti ini, ternyata ada yang masih berpegang teguh pada konsep kejujuran.
Setelah perbincangan yang cukup serius itu, maka mulai masuklah kami ke perbincangan ringan. Tiba-tiba asmin bertanya mengenai bulan yang kadang muncul dan kadang menghilang. Saya pun menjawab dengan sedikit mengingat-ingat pelajaran di SD dan SMP mengenai astronomi. Saya mencoba menjelaskan hal ilmiah dengan penjelasan populer. Namun dengan penjelasan itu, mereka hanya merespon dengan kata "Oooo..." Lalu menyambung pertanyaan sebelumnya, maka ia bertanya kembali dengan polosnya, "Terus, bisa nggak orang pergi ke bulan?" Wahyu menjawab menggunakan konsep pesawat ulang alik. Namun Sapri bertanya lagi, "Bisa nggak orang pergi jalan kaki ke bulan?". Wahyu menjawab dengan tegas "Ya nggak bisa, makanya, selama orang Baduy Dalam nggak boleh pake kendaraan, Sapri dan Asmin nggak bisa pergi ke bulan". Jawaban itu lantas membawa gelak tawa yang memecah pekatnya malam itu.
Mereka orang yang polos. Mereka seperti sebuah kertas putih yang sedang diisi dengan tulisan dan gambar. Mereka masih terlalu kosong secara pengetahuan umum. Namun untuk soal harmonisasi alam, mereka adalah guru saya. Sangat sulit berpegang teguh dengan prinsip seperti itu di tengah kehidupan serba moderen seperti ini. Namun dari situ, minimal saya bisa belajar untuk memahami sebuah ketulusan dan kebanggaan.
Nampaknya terlalu banyak yang bisa diceritakan dalam perjalanan ini. Belum kami menutup mata, masih ada dua hari lagi yang belum sempat tertuang di sini.
#Bersambung....
Selasa, 09 Oktober 2012
“Stopping The Presses For Good”
Surat kabar atau yang akrab disebut koran merupakan salah satu media komunikasi yang paling tua yang masih bertahan sampai sekarang. Koran menjadi populer ketika ditemukannya mesin cetak oleh Gutenberg pada 1450. Walau pada awalnya biaya untuk mencetak sebuah koran sangat mahal, namun seiring dengan berkembangnya teknologi masalah finansial ini bisa diatasi.
Dalam film dokumenter yang berjudul “Stopping The Presses For Good” dijelaskan bahwa dampak yang ditimbulkan dari berkembangnya sarana internet ini akan mengancam keberadaan koran sebagai sarana komunikasi klasik yang masih bertahan sampai sekarang. Fasilitas untuk mengakses internet sudah sangat berkembang.
Hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah perubahan dalam penyajian berita. Koran jelas tidak mungkin menang dalam hal kecepatan, maka yang harus ditekankan adalah segi investigasi yang lebih mendalam sehingga membantu pembaca dalam mencerna berita. Karena bila koran hanya menyajikan fakta saja, maka hal itu sama saja seperti berita yang ada dalam internet.
Memasuki abad ke-19, koran mulai mendapat saingan dengan munculnya radio sebagai sarana komunikasi baru yang jauh lebih cepat. Pada saat itu banyak orang berpendapat bahwa koran akan mati karena penikmat berita akan beralih ke radio. Namun agaknya hal ini bukan menjadi masalah lagi ketika ancaman itu tidak terbukti. Apalagi ketika alih fungsi radio menjadi sarana hiburan.
Pada abad ke-20 muncul ancaman baru untuk koran, yaitu televisi. Televisi lebih memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh media lain seperti koran atau radio. Televisi mampu menampilkan audio (suara) sekaligus video (gambar). Namun lagi-lagi hal ini bukan menjadi masalah ketika ancaman televisi tidak terbukti untuk eksistensi koran dalam dunia media masa.
Pada masa sekarang ancaman untuk koran kembali muncul. Sarana komunikasi tercepat yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia, yaitu internet. Internet seperti yang telah kita ketahui adalah sarana komunikasi berbasis komputer. Internet memiliki banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh koran, seperti cakupan isi, kecepatan, sampai efisiensi. Internet merupakan sebuah tantangan serius bagi eksistensi koran. Maka pertanyaan yang muncul adalah, mampukah koran bertahan dan tetap eksis dengan munculnya media komunikasi yang memiliki banyak kelebihan ini?
Menghadapi Tantangan
Dalam film dokumenter yang berjudul “Stopping The Presses For Good” dijelaskan bahwa dampak yang ditimbulkan dari berkembangnya sarana internet ini akan mengancam keberadaan koran sebagai sarana komunikasi klasik yang masih bertahan sampai sekarang. Fasilitas untuk mengakses internet sudah sangat berkembang.
Kelemahan koran yang paling terlihat adalah dalam hal kecepatan penyampaian berita dan cakupan (banyak) berita yang disajikan. Dikatakan bahwa koran akan mendekati akhir masa jayanya atau bisa dibilang akan mati. Apakah hal ini benar? Mungkin benar dan sangat mungkin salah. Masyarakat modern dalam konteks media masa yang diramalkan adalah masyarakat yang memiliki sebuah alat yang bisa mengakses internet dimanapun berada.
Kebutuhan masyarakat akan berita sudah sangat besar. Generasi sekarang adalah generasi yang serba digital. Masyarakatnya adalah orang yang memiliki tingkat kesibukan yang sangat tinggi. Maka dari situ internet menjadi solusi yang sanggup menjawab kebutuhan ini. Namun hal yang paling mendasar yang harus dilihat adalah keberadaan koran di masyarakat. Koran bukan hanya menjadi sebuah media yang berkutat dalam penyampaian berita saja. Koran memiliki aspek penting yang bisa membuatnya bertahan menghadapi segala tantangan yang muncul. Aspek itu adalah budaya. Budaya ini terbentuk karena intensitas hubungan manusia dengan koran ini sangat tinggi. Kebiasaan ini membuat manusia menanggapi koran menjadi sebuah kebutuhan yang pada akhirnya berlanjut menjadi budaya yang telah menyatu dengan masyarakat.
Film “Stopping The Presses For Good” mengatakan bahwa internet adalah ancaman serius bagi eksistensi koran. Hal ini terbukti dengan penurunan jumlah penjualan koran yang cukup signifikan di Amerika yang mencapai 28%. Ancaman ini saya akui memang sangat serius. Namun ancaman ini bisa disiasati dengan membuat inovasi dalam penyajian koran.
Inovasi Itu Penting
Inovasi Itu Penting
Hal yang perlu dilakukan terlebih dahulu adalah perubahan dalam penyajian berita. Koran jelas tidak mungkin menang dalam hal kecepatan, maka yang harus ditekankan adalah segi investigasi yang lebih mendalam sehingga membantu pembaca dalam mencerna berita. Karena bila koran hanya menyajikan fakta saja, maka hal itu sama saja seperti berita yang ada dalam internet.
Pembaca bukan hanya sedakar ingin tahu soal apa yang terjadi, namun juga kupasan berita yang berbobot dan berkualitas dari si penyaji berita. Hal lain yang perlu dilakukan adalah penambahan variasi isi koran. Koran tidak boleh hanya soal berita yang “berat-berat” saja, namun juga mesti diselingi dengan berita yang ringan, seperti berita pariwisata, mitos, dan lain sebagainya. Mengingat sejarah dari koran dan hubungan dengan penikmatnya saya yakin bahwa koran akan sangat mungkin bertahan dengan kehadiran internet.
Film yang berjudul “Stopping The Presses For Good” hanya menjelaskan kemungkinan logis yang mungkin akan terjadi dengan kehadiran internet sebagai sarana pemenuhan kebutuhan akan berita, tanpa melihat aspek historis dan kualitas isi dari sebuah koran. Koran akan mampu bertahan apabila koran membuat inovasi dalam penyajiannya.
Senin, 08 Oktober 2012
Sajak Untuk Sahabat
Terkadang manusia harus larut dalam relaksasi alkohol untuk meraih sebuah utopi soal indahnya dunia di luar yang sedang hadapi. Terkadang kenyataan itu memang terasa sangat pahit. Menguras semua perhatian dan pikiran untuk berkutat dalam angan yang tidak bisa terbayar.
Kenyataan memang bukan untuk diendapkan dalam pikir dan angan. Kenyataan akan terasa lebih sensasional ketika kita mencumbunya. Mencumbu dengan mesra untuk menikmati betapa pedihnya ia. Mencumbu untuk dengan mesra untuk merasakan betapa ada sisi yang jauh tak terpikir dalam angan.
Luapan emosi yang dibawa butir buih alkohol mungkin bisa mengantarkan kita melayang jauh pada kenyataan. Namun seperti sifat buih, ia akan hilang dan sirna begitu saja. Kembali membawa kita dalam kenyataan.
Tidak ada yang menyalahkan manusia yang melarikan diri dalam angan. Namun ia akan menjadi ironi ketika kita merasa nyaman dan tidak ingin kembali pada kenyataan.
Aku akan selalu ada menemanimu duhai sahabatku.
Aku akan ikut larut bersamamu dalam suasana suka, suasana lara.
Kembali membawamu dan menemanimu dalam kenyataan.
Kamis, 04 Oktober 2012
Terbenam Sejarah: "Tan Malaka"
Menjadi bagian dari sejarah merupakan sebuah kebanggan dan kepuasan tersendiri. Menjadi bagian karena ikut berperan aktif dalam sebuah gerakan untuk perubahan dan keadaan yang lebih baik. Perjuangan yang muncul dari kemauan diri dan kegelisahan hati. Menjadi dasar yang kuat untuk mau menentang tiran yang berdiri mengangkang.
Ada seorang tokoh nasional yang cenderung terlupakan sejarah, atau sengaja dilupakan. Tokoh nasional dengan pemikiran brilian dan ispiratif demi membentuk sebuah ide tentang negara yang merdeka dan penentuan atas nasibnya sendiri. Tan Malaka. Bapak bangsa yang terasingkan.
"Kelahiran suatu pikiran sering menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya"
Kurang lebih begitu bunyi yang diutarakan Tan mengenai proses kelahiran ide. Ide muncul atas sebuah keadaan yang tidak memuaskan, dan sering kali lebih menyakitkan. Keprihatinan membuahkan kemauan dan pemikiran tentang ide-ide untuk mencapai keadaan yang lebih baik lagi. Dibutuhkan gairah muda secara pola pikir, yang jauh dari kemapanan keadaan. Pikiran muda yang begitu idealis untuk konsepsi sebuah ide yang brilian dan berani.
"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda"
Pemuda adalah golongan dengan gelora semangat perubahan yang besar yang mengandung ide-ide luar
biasa, sebuah kekayaan yang tiada tara.
Apa yang disampaikan Tan 90 tahun lalu nampaknya masih sangat begitu relevan dalam konteks masa sekarang. Pemikirannya sangat visioner, bukan sekadar pikiran taktis untuk konteks satu jaman.
"Selama orang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan putch atau anarchisme hanyalah impian seorang yang lagi demam"
Bahwa sebenarnya banyak jalan untuk mencapai suatu kemerdekaan. Bila sebuah perjuangan turun ke jalan yang identik dengan bentuk vandalisme sudah dianggap begitu usang, maka itu bukanlah suatu kebuntuan. Kita hanya perlu untuk tetap berpegang pada tujuan, dengan mengambil alternatif jalan.
Menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk bisa merealisasikan ide yang kita buahkan memang suatu kebanggaan tersendiri. Namun begitu, untuk orang sekaliber Tan nampaknya perlu diberikan pengecualian. Perlu ada sebuah penghormatan yang nyata. Tanpa Tan, mungkin tidak pernah akan ada ide untuk negara seperti Indonesia atau keinginan untuk mencapai kemerdekaan.
Ada seorang tokoh nasional yang cenderung terlupakan sejarah, atau sengaja dilupakan. Tokoh nasional dengan pemikiran brilian dan ispiratif demi membentuk sebuah ide tentang negara yang merdeka dan penentuan atas nasibnya sendiri. Tan Malaka. Bapak bangsa yang terasingkan.
"Kelahiran suatu pikiran sering menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya"
Kurang lebih begitu bunyi yang diutarakan Tan mengenai proses kelahiran ide. Ide muncul atas sebuah keadaan yang tidak memuaskan, dan sering kali lebih menyakitkan. Keprihatinan membuahkan kemauan dan pemikiran tentang ide-ide untuk mencapai keadaan yang lebih baik lagi. Dibutuhkan gairah muda secara pola pikir, yang jauh dari kemapanan keadaan. Pikiran muda yang begitu idealis untuk konsepsi sebuah ide yang brilian dan berani.
"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda"
Pemuda adalah golongan dengan gelora semangat perubahan yang besar yang mengandung ide-ide luar
biasa, sebuah kekayaan yang tiada tara.
Apa yang disampaikan Tan 90 tahun lalu nampaknya masih sangat begitu relevan dalam konteks masa sekarang. Pemikirannya sangat visioner, bukan sekadar pikiran taktis untuk konteks satu jaman.
"Selama orang percaya bahwa kemerdekaan akan tercapai dengan jalan putch atau anarchisme hanyalah impian seorang yang lagi demam"
Bahwa sebenarnya banyak jalan untuk mencapai suatu kemerdekaan. Bila sebuah perjuangan turun ke jalan yang identik dengan bentuk vandalisme sudah dianggap begitu usang, maka itu bukanlah suatu kebuntuan. Kita hanya perlu untuk tetap berpegang pada tujuan, dengan mengambil alternatif jalan.
Menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk bisa merealisasikan ide yang kita buahkan memang suatu kebanggaan tersendiri. Namun begitu, untuk orang sekaliber Tan nampaknya perlu diberikan pengecualian. Perlu ada sebuah penghormatan yang nyata. Tanpa Tan, mungkin tidak pernah akan ada ide untuk negara seperti Indonesia atau keinginan untuk mencapai kemerdekaan.
Rabu, 03 Oktober 2012
Mengenang 40 hari Papa Hendromartono
"Ketika penyesalan menemui jawab, itu adalah momentum untuk kembali melangkah"
Penyesalan terdalam seorang anak adalah ketika orang tuanya berpulang, namun dia belum melakukan apa-apa untuk mereka. Kira-kira itulah yang saya alami ketika saya mendapat kabar bawah ayah saya telah berpulang. Saya terlarut dalam raungan duka dengan segenap perasaan sesal yang sebegitu saja terluap. Saya akhirnya menyadari betapa berharganya satu detik yang saya lalui.
Ketika ayah saya masih hidup, ada satu pertanyaan wajib yang selalu ia tanyakan. "Koe ki karo febry jujurane piye?" Ia menanyakan tentang rencana pernikahan saya. Jauh dari rencana hidup saya, rencana itu belum sempat terpikirkan. Tiga kali saya pulang ke rumah, saya selalu disodori pertanyaan itu. Dan saya selalu menjawab, belum kepikiran pah, harus lulus dulu dan kerja dulu baru nikah. Ayah saya hanya membalasnya dengan tawa kecilnya. Dia tidak menanyakan kapan saya lulus. Dia tidak menanyakan tentang mau apa saya ketika saya lulus. Dia hanya bertanya kapan saya menikah.
Pertanyaan itu yang menjadi beban itu lantas berubah menjadi sebuah tanggung jawab dan prioritas dalam hidup saya. Saya sadar bahwa saya tidak punya banyak waktu untuk menunaikan itu selagi ayah saya masih ada. Saya menatar dan menempa hidup dan mental saya lebih keras lagi. Saya ingin bisa mapan ketika saya lulus nanti. Namun, ternyata saya tidak punya cukup waktu untuk itu.
Satu minggu dari kabar duka itu datang, saya selalu terlarut dalam penyesalan dan refleksi tentang kebodohan masa lalu yang pernah saya lakukan. Saya meresapi betapa bodohnya menyia-nyiakan waktu satu tahun yang saya buang di SMA. Andai saya bisa melewati SMA tepat waktu, mungkin saya masih punya kesempatan untuk menunaikan tanggung jawab itu.
Hari terakhir sebelum kembali ke Tangerang, kami sekeluarga datang ke makam untuk berpamitan dan menghantarkan doa agar perjalanan ayah saya lancar. Kami datang sekeluarga ditemani beberapa teman dekat keluarga kami. Ketika turun dari mobil, kami langsung menuju makan untuk membersihkan beberapa daun kering yang ada di atas kuburan yang masih berrupa gundukan tanah itu. Ibu dan kakak perempuan saya masih asyik dengan kegiatan mereka untuk mengganti lampu sentir sebagai penerangan. Waktu itu sore hari sekitar pukul 5 sore.
Mami Rida yang ikut dalam rombongan langsung mengambil posisi berlutut di kepala kubur. Dia sedikit mengusap nisan salib yang tertanam. Tiba-tiba dia bersuara "Mah, sudah mah, nanti dulu, kita doa dulu mah". Saya langsung menengok ke Mami Rida, saya sadar bahwa itu adalah ayah saya. Intonasinya, cara ia melafal, itu adalah benar-benar papa saya. Sontak, kami langsung mengambil posisi berlutut untuk berdoa. 15 menit lebih ia berdoa tanpa terbata. "Terima kasih Tuhan kau telah memberi keluarga seperti ini. Terima kasih kepada istriku tercinta, anak-anakku tersayang. Aku ikhlas dengan apa yang telah kalian lakukan dan berikan." Air mataku tak lagi bisa kubendung. Beban tanggung jawab dan penyesalan yang kurasa seketika itu juga seperti diangkat. "Papa telah ikhlas dengan semuanya, Aku pun harus ikhlas dan merelakannya tanpa ada penyesalan dan kesedihan".
Selepas dari situ, saya kembali berpikir mengenai situasi ideal yang ingin kuberikan ke orang tua sebagai anak. Ternyata seorang orang tua pun memiliki situasi idealnya sendiri terhadap anak-anaknya. Mulai dari situ aku berjanji bahwa air mata yang kutumpahkan di makamnya adalah air mata terakhir yang aku teteskan untuk dirinya. Aku ingin mengenangnya dalam kebahagiaan untuk menemaninya di keabadian.
Dukaku sebagai seorang anak sudah berakhir, Sesalku sebagai seorang anak sudah tuntas. Hanya kebanggaan yang kini hidup dalam benakku. Bangga karena boleh dilahirkan di tengah-tengah keluarga Hendromartono yang begitu luar biasa. Bisa dididik di dalam keluarga Hendromartono dalam ketabahan, keikhlasan, ketegaran, dan kesederhanaan. Keluarga yang berani berdiri tegap menghadang dan melawan badai. Hidup dengan darah Hendromartono yang hidup tanpa dendam. Hidup dengan daging Hendromartono yang Ikhlas memberikan tangannya untuk orang lain. Ayah yang begitu luar biasa. Satu-satunya patron yang akan selalu hidup dalam hati, pikiran dan jiwaku.
Penyesalan terdalam seorang anak adalah ketika orang tuanya berpulang, namun dia belum melakukan apa-apa untuk mereka. Kira-kira itulah yang saya alami ketika saya mendapat kabar bawah ayah saya telah berpulang. Saya terlarut dalam raungan duka dengan segenap perasaan sesal yang sebegitu saja terluap. Saya akhirnya menyadari betapa berharganya satu detik yang saya lalui.
Ketika ayah saya masih hidup, ada satu pertanyaan wajib yang selalu ia tanyakan. "Koe ki karo febry jujurane piye?" Ia menanyakan tentang rencana pernikahan saya. Jauh dari rencana hidup saya, rencana itu belum sempat terpikirkan. Tiga kali saya pulang ke rumah, saya selalu disodori pertanyaan itu. Dan saya selalu menjawab, belum kepikiran pah, harus lulus dulu dan kerja dulu baru nikah. Ayah saya hanya membalasnya dengan tawa kecilnya. Dia tidak menanyakan kapan saya lulus. Dia tidak menanyakan tentang mau apa saya ketika saya lulus. Dia hanya bertanya kapan saya menikah.
Pertanyaan itu yang menjadi beban itu lantas berubah menjadi sebuah tanggung jawab dan prioritas dalam hidup saya. Saya sadar bahwa saya tidak punya banyak waktu untuk menunaikan itu selagi ayah saya masih ada. Saya menatar dan menempa hidup dan mental saya lebih keras lagi. Saya ingin bisa mapan ketika saya lulus nanti. Namun, ternyata saya tidak punya cukup waktu untuk itu.
Satu minggu dari kabar duka itu datang, saya selalu terlarut dalam penyesalan dan refleksi tentang kebodohan masa lalu yang pernah saya lakukan. Saya meresapi betapa bodohnya menyia-nyiakan waktu satu tahun yang saya buang di SMA. Andai saya bisa melewati SMA tepat waktu, mungkin saya masih punya kesempatan untuk menunaikan tanggung jawab itu.
Hari terakhir sebelum kembali ke Tangerang, kami sekeluarga datang ke makam untuk berpamitan dan menghantarkan doa agar perjalanan ayah saya lancar. Kami datang sekeluarga ditemani beberapa teman dekat keluarga kami. Ketika turun dari mobil, kami langsung menuju makan untuk membersihkan beberapa daun kering yang ada di atas kuburan yang masih berrupa gundukan tanah itu. Ibu dan kakak perempuan saya masih asyik dengan kegiatan mereka untuk mengganti lampu sentir sebagai penerangan. Waktu itu sore hari sekitar pukul 5 sore.
Mami Rida yang ikut dalam rombongan langsung mengambil posisi berlutut di kepala kubur. Dia sedikit mengusap nisan salib yang tertanam. Tiba-tiba dia bersuara "Mah, sudah mah, nanti dulu, kita doa dulu mah". Saya langsung menengok ke Mami Rida, saya sadar bahwa itu adalah ayah saya. Intonasinya, cara ia melafal, itu adalah benar-benar papa saya. Sontak, kami langsung mengambil posisi berlutut untuk berdoa. 15 menit lebih ia berdoa tanpa terbata. "Terima kasih Tuhan kau telah memberi keluarga seperti ini. Terima kasih kepada istriku tercinta, anak-anakku tersayang. Aku ikhlas dengan apa yang telah kalian lakukan dan berikan." Air mataku tak lagi bisa kubendung. Beban tanggung jawab dan penyesalan yang kurasa seketika itu juga seperti diangkat. "Papa telah ikhlas dengan semuanya, Aku pun harus ikhlas dan merelakannya tanpa ada penyesalan dan kesedihan".
Selepas dari situ, saya kembali berpikir mengenai situasi ideal yang ingin kuberikan ke orang tua sebagai anak. Ternyata seorang orang tua pun memiliki situasi idealnya sendiri terhadap anak-anaknya. Mulai dari situ aku berjanji bahwa air mata yang kutumpahkan di makamnya adalah air mata terakhir yang aku teteskan untuk dirinya. Aku ingin mengenangnya dalam kebahagiaan untuk menemaninya di keabadian.
Dukaku sebagai seorang anak sudah berakhir, Sesalku sebagai seorang anak sudah tuntas. Hanya kebanggaan yang kini hidup dalam benakku. Bangga karena boleh dilahirkan di tengah-tengah keluarga Hendromartono yang begitu luar biasa. Bisa dididik di dalam keluarga Hendromartono dalam ketabahan, keikhlasan, ketegaran, dan kesederhanaan. Keluarga yang berani berdiri tegap menghadang dan melawan badai. Hidup dengan darah Hendromartono yang hidup tanpa dendam. Hidup dengan daging Hendromartono yang Ikhlas memberikan tangannya untuk orang lain. Ayah yang begitu luar biasa. Satu-satunya patron yang akan selalu hidup dalam hati, pikiran dan jiwaku.
Langganan:
Postingan (Atom)

